Sebuah Kisah yang Begitu Indah antara Aku dan Majalah

Kalau mau beli majalah atau buku, Anda cari di toko buku kayak Gramedia/ Toga Mas/ Gunung Agung, atau cari di toko buku bekas?

To be honest, saya lebih suka cari buku yang baru. Apalagi kalau ada pameran buku gede-gedean, kayak Big Bad Wolf. Makin demen deh eikeh… karena koleksinya segambreng, harganya juga lumayan reasonable.  Jadi, saya ngga punya opini sama sekali tentang buku atau majalah pre-loved 🙂

Baca: Tips Datang ke Pameran Buku Big Bad Wolf

Buat One Day One Posting kali ini, saya mau membahas soal kisah indah merekah apalah-apalah antara saya dan majalah.

Huwaduuh, ada apakah ituuu?

Kita flashback ke tahun 2012 ya sist. Waktu itu, saya lagi khusyu’ banget browsing medsos, dan menemukan sebuah informasi yang amat berharga. Dancow—salah satu merek susu formula yang kondang bambang gulindang—mengundang para Bunda, untuk ikutan pelatihan “Dancow Parenting Center”. Materinya komplet banget, membahas psikologi, gizi/nutrisi, financial planning, sampai dengan tips ber-social media.

Waaah, aku semangaaat dong buat daftar!

Kami mengikuti materi yang super padat bergizi, di sebuah hotel pusat kota Surabaya. Kelar ikutan workshop, para pemateri men-challenge peserta.

“Bunda bisa kan bikin event/ kegiatan yang mengacu pada message workshop ini?”

Well… siapa takuuut? Dengan bergandengan tangan bareng sohib ikrib di kantor, saya mengeksekusi sebuah program bertajuk “Outbound for Kids: Value for Money”.

Kenapa gitu? Soalnya, outbound yang kami gelar ini HTM-nya mursida alias murah banget boooo. Lupa persisnya, nggak sampe 100 ribu peserta udah dapat makan siang, tiket outbound, plus kaos. Assoy geboy kan?

Kelar menggawangi outbound ini, saya pun bikin semacam resume dalam format presentasi power point, dan dikirimkan ke panitia. Yep, rupanya.. .tim panitia sedang menyeleksi nama-nama Bunda yang bakal diberangkatkan ke Jakarta, buat ikutan Temu Bunda Dancow Parenting Center, level nasional, uhuuy!

Hepiiii tiada terkira. Program kami diapresiasi dengan segenap jiwa. Saya pun berangkat ke Jakarta, dengan semangat nothing to lose. Pokoke budal!

Eh, ternyata acara yang dihelat di Sahid Jaya Hotel Jakarta ini bener-bener padet! Kami lagi-lagi diberikan sejumlah mini workshop, plus… ada sesi penjurian juga! Materi presentasinya adalah resume kegiatan yang udah kami lakukan di kota masing-masing.

Kelar penjurian, tibalah saat pengumuman pemenang. Kami—para Bunda yang heri alias heboh sendiri ini—berlenggak lenggok di atas panggung, sambil menikmati acara yang dipandu Asty Ananta. Ada Rio Febrian juga lho! Dia nyanyi beberapa lagu, dan udah pasti bikin emak pada histeris. Daaaan…. Tibalah saatnya menantikan pengumuman pemenang…. Eng ing eng…. Dari 30 peserta dari lima kota besar se-Indonesia…. Atas izin Allah, saya ditahbiskan sebagai Juara 2! Alhamdulillaaaah…..

Baca : Kemenangan Sejati Pasca (Nyaris) Depresi 

***

Setelah sesi penganugerahan mahkota dan selempang juara, kami (tiga besar) digiring ke ruang press conference. Uhuks, biasa liputan, eh… sekarang saya yang kudu cang-cing-cung di depan panggung. Rasanya? Super awkward! Well, tapi… nikmati ajalah. Saya jawab setiap pertanyaan yang diajukan jurnalis, setelah sebelumnya dapat brief dari mbal-mba agency yang handle acara ini.

DUTA DPC-2

Dan, karena udah diwawancara wartawan…. Udah menjalani sesi foto… itu artinya, muka-muka kami nampang di majalah. Haha, noraaaaak bingits. Waktu itu, saya foto bertiga dengan mba Aryzana (Juara 1) dan mba Debby Shinta (Juara 3). Yang saya sesalkan adalah… kenapa waktu itu bodi eikeh lagi super-menggelembung yak? Huhuhu.

Gitu deh, kisah kasih antara saya dan majalah. Sampai hari ini, saya emang baru satu kali mejeng di back cover. Itu aja udah yang tengsin banget, bodi segede alaihim gambreng jadi menuh-menuhin sampul majalah deh, hihi.

DUTA DPC-5

Eniwei… dari perjalanan saya dan majalah ini ada beberapa hal yang saya garisbawahi

(1). Komunitas Dancow Parenting Center ini sudah terbentuk. Isinya adalah para Bunda yang demikian antusias untuk mempraktikkan ilmu dalam workshop, dan mau bikin event dengan skala yang beraneka. Ada yang bikin di Posyandu, di TK atau Paud anaknya, ada juga yang bikin program massal dengan melibatkan rekan-rekan di komunitas atau tempat kerja. Ini sudah menunjukkan sense of ownership terhadap brand.

Sayang seribu sayang… program ini cuma one hit wonder aja gitu. Berjalan hanya di periode 2012-2013 saja. Padahal, ketika ketemu dengan tim Dancow pas event di Surabaya beberapa waktu lalu, saya sudah kirim masukan, agar program ini dilanjutkan aja. Komunitasnya udah terbentuk dan udah melakukan BANYAK hal lho.

(2). Gegara lihat foto yang terproduksi di acara ini, saya jadi sadar bahwa bodi saya amat sangat mblegenuk. Sorry, saya bukannya nge-bully mbak-mbak big size ya, lha wong saya dewe juga ndut kok. Gimanapun juga, timbunan lemak gelambir di tubuh adalah sebuah isyarat bahwa “something wrong in our body”. Nah… dari sini, semangat saya jadi terlecut, ”Saya kudu diet!” Kan nggak asyik, kalo besok-besok ada tawaran pemotretan dan masuk majalah, eh… bodi saya masih tetap dijejali gajih di seluruh penjuru bodi.

(3). Ini pelajaran ketika sesi pemotretan. Walaupun belum terlalu akrab, kita musti langsung nge-blend dengan seluruh kru (fotografer, penata gaya, penata rias, dll) ketika terlibat pemotretan. Santaaaaai aja, jangan kaku, jangan tegang! Mungkin waktu itu, saya masih feel surprised lantaran dapat rezeki nomplok sebagai Runner-Up. Padahal, kalo saya lebih rileks, bisa jadi foto-fotonya bakal lebih sip markosip.

Jadi, kira-kira kapan ya bisa masuk majalah lagi? Huuummm, cuss ahh, mau nge-draft artikel buat dikirim ke Majalah juga! Supaya ada Kisah yang Begitu Indah antara Aku dan Majalah jilid 2.

Yeayyy!

 

 

 

Surprise Visit by Neno Warisman untuk Ibuku

Tidak banyak aktris berkarakter kuat yang dimiliki Republik ini. Bisa akting, piawai nyanyi, jago ceramah, dan punya stamina luar biasa. Satu dari yang sedikit itu, menurut saya, adalah Bunda Neno Warisman.

Buat generasi wong lawas (termasuk saya, tentu saja) pasti nggak asing dengan nama ini. Lebih hebring lagi, pas kita menyaksikan penampilan dia di tayangan (semacam sinetron gitulah) “Sayekti & Hanafi”.

Bahkan dalam diam-pun, Neno tetap berakting. Dan dia merampas atensi kita, untuk menyaksikan “drama” yang tengah ia mainkan.

Makanya, sekitar 5 tahun lalu, pas beliau jadi pengisi acara Halal bi Halal di kantor, saya antusias banget menawarkan diri jadi liaison officer/pendamping Bu Neno.

Well, barangkali nama dia udah nggak se-cethaaarrr tempo doeloe, paling tidak, Bu Neno sudah meninggalkan jejak, berupa nama & kepiawaian besar di kancah seni.

Bareng Pak Edi, driver kantor, saya jemput Bu Neno, Sabtu siang. Ini kejadiannya udah agak lama ya…. jadi saat itu kondisi Bu Neno adalah seorang single parent.  Agak kaget juga, karena si aktris multitalenta itu berangkat ke Surabaya SENDIRIAN. Dia bawa 2 tas super-gede, TANPA asisten sebiji pun. Bbeugghh!

“Abis gini, bisa nggak ya, anter ke rumah ayah angkat saya di Perak?” request Bu Neno, pelan.

Ya sudah, meluncurlah kita ke Perak.

Alhamdulillah, tol-nya lancaaarrr jaya… Kita bisa mampir sebentar ke sebuah RM Padang di Perak, yang rasanya ngalor-ngidul-nggak-jelas dan nggak bakal deh, mampir lagi ke resto ntuh. Trus, ngobrol ke rumah Ayah angkat Bunda Neno… dan aku sempat bobok sebentar di sofa depan hahahahaha

neno-lunch

Biarpun kurang endeus, tapi habis banyaaak 😛

***

Setelah puas ngobrol sama ayah angkatnya, Bunda Neno dan kami cuss ke Rungkut.

O iya, kantor Nurul Hayat ada di Rungkut ya, tepatnya di Perum IKIP Gunung Anyar Surabaya telp 031-878 3344. In case teman-teman penasaran, ini kantor apa sih? Di sini, ada aqiqoh, ada layanan umroh dan KBIH, juga ada layanan pembayaran zakat, infaq, wakaf dan amal lainnya. Cuss ke website www.nurulhayat.org aja untuk tahu lebih lanjut ya.

Balik lagi ke cerita Bunda Neno. Pas di jalan… aku tuh yang keinget ibuku. Yeap, ibuku adalah tipikal Neli (nenek lincah) yang juga aktivis masjid, pengajian, pokoke energi untuk beramal tuh kayak meluap-luap gitu lho. Ibuku juga suka banget dengan profil Bunda Neno.

Begitu tahu kalau Bunda Neno mau jadi pemateri di Halal bi Halal Nurul Hayat, ibuku antusias buat datang! Hanya saja… sayang banget timing-nya nggak pas. Ibu udah kadung janjian ama temannya buat memimpin acara pengajian ibu-ibu di kawasan Surabaya timur.

Baca : Surat untuk Ibu 

“Bunda Neno… kita mampir sebentar ke rumah Ibu saya ya. Bentar aja paling 10 menit….”

“O iya, gapapa. Rumahnya di mana?”

“Ini… deket banget, kita nglewatin kok. Sama-sama daerah Rungkut juga.”

“Iya, gapapa.”

Aku langsung menelepon rumah, Alhamdulillah…. Ibu yang angkat teleponnya.

”Ibu ada di rumah tho? Jangan ke mana-mana ya. Aku habis gini mau ke rumah sebentar,” kataku dengan nada sewajarnya. Sama sekali tak kuinformasikan bahwa aku sedang membawa special mysterious guest (halah!) buat bertamu ke rumah kita.

“Ono opo tho Dek?”

“Gapapa. Ada yang mau kuambil. Sebentar aja. Ibu jangan ke mana-mana, soale aku nggak bawa kunci rumah.”

“Oke.”

Nggak pakai lama…. Sampailah kami di depan rumah. Kuajak Bunda Neno untuk memasuki teras rumah yang demikian bersahaja.

“Assalamualaikuuuuum…..”

Ibuku membuka pintu ruang tamu, dan…..

“Masya Allah….. Allahu Akbaaaar! Ini mbak Neno Warisman…! Yo ngalaaahhh, dek, kok nggak ngomong-ngomong yen bakal  ngajak Mbak Neno….! Waduh, Ibu Cuma pake baju kayak gini…. Bu Soniiiiii…… Bu Tataaaang….. Mba Sitiiiii…… Ini ada Mbak Neno Warisman di sini….!”

emak gue

Ibuku bertransformasi laksana  anak TK yang menemukan toko mainan super-lengkap, plus ketemu mbak-mbak SPG yang sigap membagi-bagikan tester aneka ice cream, cokelat, dan permen. Beliau se-HAPPY itu! Se-GIRANG dan se-HISTERIS itu! Memanggil para tetangga kami, buat diajak foto bareng. Tapi sayangnya kami datang  jam 3 sore, di mana para tetangga biasanya ribet dengan urusan dapur dan kamar mandi.

Ibu masih tidak percaya ada sosok Neno Warisman yang berkunjung ke rumahnya nan sederhana.

“Ini belum disiapin apa-apa. Haduuuh, piye iki ya?”

“Nggak apa-apa Ibu…. Tadi mba Nurul ajak saya ke sini, sebagai surprise visit untuk Ibu… Kan Ibu selama ini udah jadi koordinator donator zakat infaq wakaf di Nurul Hayat. Nah, ini saya juga dalam rangka mengapresiasi apa yang Ibu lakukan… Besok jangan lupa ikutan Halal bi Halal ya…. Saya tunggu lho di NH….”

Ibuku masih berkubang dalam riang. Ia tidak segera menjawab request Bunda Neno, karena yah…. itu tadi. Ibu udah terlanjur bikin janji dengan squad pengajiannya.

“Makasih udah datang ke sini ya Mba Neno…. Makasiiih……”

Ibu memberi isyarat “You’re such a ‘crazy’ girl!” ke arahku. Yeah. Ibu selalu tahu, kalo anak perempuannya ini super aneh. Kadang penuh dengan ledakan kejutan. Di satu sisi nyebelin, tapi… kalo lama-lama aku tinggal ngetrip, Ibu kangen juga lah sama aku.

Sekarang, aku yang kangen banget sama Ibu. Sudah nggak bisa aku dengar tausiyah Ibu. Sudah nggak bisa merasakan antusiasme Ibu ketika mengumpulkan Ibu-ibu di kompleks kami untuk belajar ngaji. Sudah nggak bisa mendengar keinginan Ibu untuk umroh. Terlambat. Semua sudah terlambat. Rupiah yang aku kumpulkan dengan susah payah, belum berjodoh dengan rindu Ibu untuk kembali ke tanah suci.

Baca :  Umroh bareng Ibu

Maaf, Ibu.

Cuman gini doang surprise yang bisa aku kasih buat Ibu. Hingga Ibu berpulang, aku belum bisa kasih kebanggaan apapun. Sidqi belum menjelma jadi hafidz, seperti yang Ibu impikan. Aku? Hafalan surat pendek juz 30 juga belum komplet. Tapi, aku berusaha, Ibu…. aku berusaha. Setidaknya, ketika malaikat maut menunaikan tugasnya, semoga aku tercatat dalam golongan “yang berusaha mengakrabi, menghafal, mentadabburi dan melaksanakan isi Al-Qur’an.”

Ibu istirahat tenang ya. InsyaAllah, sooner or later, I will join the club!

Datang akan pergi
Lewat kan berlalu
Ada kan tiada
Bertemu akan berpisah

Awal kan berakhir
Terbit kan tenggelam
Pasang akan surut
Bertemu akan berpisah

Heii Sampai jumpa dilain hari
Untuk kita Bertemu lagi
Ku relakan dirimu pergi

Meskipun Ku tak siap untuk merindu
Ku tak siap Tanpa dirimu
Ku harap terbaik untukmu 

(“Sampai Jumpa” by Endank Soekamti)

 

 

Lihat Kebunku… Penuh dengan Bunga

Sebenarnya manfaat berkebun itu banyaak. Banyaaakkk banget. Untuk memulai postingan ini, saya tulis ulang ya, beberapa manfaat berkebun:

(1). Membakar kalori

Yeah, siapapun paham kalau berkebun artinya kita siap mendarmabaktikan tangan, fisik, konsentrasi kita untuk uplek-uplek tanah, pot, bibit tanaman, pupuk, dan ini pastinya menguras kalori kan

Para ilmuwan di Korea Selatan mengadakan riset dengan memonitor intensitas fisik pada sejumlah anak berusia 12 tahun ke atas. Mereka diminta melakukan kegiatan berkebun seperti menggali tanah, menabur benih, menyiram dan menyapu.

Alat bernama telemetric calorimeters dihubungkan ke tubuh mereka. Fungsinya apa? Untuk mengukur jumlah kalori dalam tubuh sesudah berkebun. Begitu juga sebuah monitor untuk menghitung detak jantung.

Hasilnya? Kalori dalam tubuh anak-anak terbakar lebih banyak saat mereka berkebun, dan detak jantung mereka pun menjadi lebih teratur.

Ini senada dengan artikel yng diterbitkan Huffington Post. Intinya, aktivitas berkebun sama manfaatnya dengan olahraga. NAH! Buat yang pengin sehat…. buat yang mupeng jarum timbangan bergerak ke kiri…. buat yang males ikutan lari 5K, 10K atau marathon…. sepertinya BERKEBUN adalah solusi yang jitu binti tokcer! Badan sehat, bonusnya kebun jadi indah! (eh, atau kebalik ya? Kebun jadi apik, bonusnya bodi jadi setrooong! hehehe)

(2). Release Stress dan Menunjukkan bahwa Kita Berharga 

Buat yang gemar berkebun, pastinya setuju banget kalau aktivitas ini menjadi sarana pengeliminir stres. Siapapun bisa terjangkiti stres, dan kita kudu cari solusi, gimana bersahabat dengan stres plus mereduksinya dari pikiran. Berkebun sambil nyanyi-nyanyi, plus menghirup udara segar, ini adalah kombinasi yang paripurna!

Plus, tatkala berkebun, kita menyadari bahwa ada kehidupan di setiap tanaman. Ada semacam kepuasan bahwa kita telah berperan dalam menjaga serta merawat tanaman agar tetap hidup.

(3). Mendekatkan Diri pada Alam plus Berhemat!

Yap! Ketika harga cabe naik gila-gilaan, Anda yang sudah menanam cabe di pot tentulah tak perlu merasa risau. Kan tinggal metik!

***

Idealnya memang seperti itu. Tapi tahu sendiri kan… di perkotaan tanah untuk berkebun tidaklah luas. Tapi, hei, dengan tanah seuprit, kita bisa kok mengusahakan bertanam pohon/tumbuhan yang bermanfaat untuk kehidupan.

KEBUN

Kebun di depan rumahku

Kalau ditanya, gimana bayangan kebun favorit saya?

Kebun hidroponik ala Fadly Musikimia (eks PADI) tentunya cocok diterapkan di kawasan urban ya.

Baca : Semangat Fadly Musikimia dalam Berkebun 

Tapiiiii…. saya juga mau bangeeettt, punya kebun dengan danau sebagai center of attention. Uhukss!

KEBUN-3

Mau Banget punya Kebun plus Danau kayak gini! (lokasi: The Westlake Resort Jogja)

IMG-20170918-WA0029

Sudah 2018, Mau Traveling ke Mana Lagi Kita?

2018 ini, ingin traveling ke mana? Mengapa? Apa yang sudah dilakukan untuk mewujudkannya? Jika tak ada rencana, adakah sesuatu yang baru yang ingin dialami?

Yuhuuu, kalo pertanyaan yang disodorkan “Ingin traveling ke mana di 2018 ini, maka jawabannya bakal panjaaaaanggg dan lamaaaaa. Karena emang wish list traveling tuh banyak banget sih ya. Masih segambreng negara yang belum saya pijak. Benua aja masih Asia dan Amerika doang. Sungguh daku mupeng bisa segera cuss ke Benua Eropa.

Baca : Ke Amerika Gratisan, Bagaimana Caranya

Baiklah. Ini dibikin list aja ya. Here we go! (o iya, sampai detik ini, saya belum melakukan apa-apa sih, buat menggapai bucket list ini hehehe. Intinya, ini mah “ngayal babu” pagi-pagi aja)

(1). UMROH BARENG SIDQI DAN BAPAKNYA DI 2018

Spesifik, harus banget ditulis sedetail ini! Saya baru satu kali berkunjung ke Mekkah dan Madinah, persisnya tahun 2010, ketika tunaikan ibadah haji Bersama ibunda dan kakak kandung saya. Haji ONH regular, selama 40 hari, rasanya puasssss banget!

5384202316_0972146239_o

Bisa melakoni ritual ibadah plus hal-hal keseharian yang lumayan kocak. Sampai saya bikin artikel tentang “Jadi Monster pas Berhaji” dan sempat nangkring di menu antologi blog traveller kondang republik ini, Trinity.

Baca : Jadi “Monster” Pas Berhaji 

2010…. Dan sekarang sudah 2018. Delapan tahun, meeen… delapan tahun! Pantas rindu itu begiu bertalu-talu. Rasanya, dada saya mak nyessss kalo dengar/lihat kabar ada teman yang lagi umroh. Apalagi, beberapa waktu lalu, eks boss saya (yang terkenal sebagai sosok sekuler) umroh bareng sekeluarga besar! Saya yang langsung nyessss….. ya Rabb, sungguh saya rindu! Saya rindu maksimal buat bisa kembali ke Baitullah! Undang kami, Rabb… undang kami…..

5383600961_9f8c673c90_o

(2). EXPLORE JEPANG DAN FILIPINA

JEPANG. Ini gara-gara temen saya Xaveria yang kapan hari liputan ke sana. Dia bilang, kotanya bersih, rapi, teratur, dan cantiiiik banget. Trus lihat IG story mba Haya Aliya Zaki yang liburan sekeluarga ke Jepang, ulalaa… makin mupeng dah!

Kalo ke Jepang, mau ngapain aja? Ada satu beauty vlogger favorit saya, yaitu mba Heny Harun. Dia tuh ya jalan-jalan ke Jepang buat cari skincare dan bahan perlenongan gitu aja, tapi the way she vlogs beneran mengundang banget buat dicontek habis-habisan.

And… ofkorsss… saya penasaran dengan suicide forest. (Blame it to Logan Paul, hoho). Bakalan penasaran sekaligus ngeri ngeri sedap ye kalo mampir ke hutan yang identik dengan lokasi bunuh diri orang-orang di Jepang itu.

Plussss… yang ngga boleh ketinggalan, main ke Museum DORAEMON, yeayyy!

Kalau Filipina?

Hmmm… lagi-lagi, Nas Daily nih “racun”-nya. Doi bilang, Filipina itu mirip dengan Thailand. Wisatanya oke, plus murah-murah.

Bedanya, orang-orang di Filipina sangat piawai berbahasa Inggris, jadi asyik dan gampil buat diajak komunikasi. Thanks, Nas! Moga2 kita bisa ketemu di Filipina, yes. #SokIkrib

Baca : Nyaris Ketinggalan Pesawat di Bandara Bangkok Thailand

(3). KEMBALI KE JOGJA

Jogja itu kayak punya magnet yang luar biasa setrooooong buat diriku. Berkali-kali ke Jogja, berkali-kali pula saya ngga pernah bosan. Mupeng banget dolan ke berbagai lokasi yang lagi seliweran di Instagram. Hohoho, terutama kawasan di sekitar Gunung Merapi. Kayaknya tahun ini saya kudu banget ke sana! HARUS!

(plus mau banget kopdar sama Grace Melia dan bloggers Jogja lainnya yeayy!)

(4). MAKAN PEMPEK DI PALEMBANG

Ke Palembang baru satu kali, itupun udah 10 tahun yang lalu. Palembang pastinya berkembang pesat, jadi destinasi wisata yang begitu menggiurkan. Saya lumayan sering stalking blog Koh Deddy Huang dan Yayan Omndut. Tahun ini, rasanya bakal jadi momentum yang pas banget, untuk bisa janjian maem Pempek, Model, Tekwan… sambil memandang Jembatan Ampera.

Iya dong… masak udah jalan-jalan ke Golden Gate Bridge, tapi saya belum pernah pose di depan Jembatan Ampera? #AmbisiOOTD  #BridgeLandmarkAdmirer

IMG-20171014-WA0060

(5). EROPA!

Eropa ini jauuuuuhhhh dan mahal, tapi saya pengiiin, gimana dong? Hahaha. Ya gapapa, rajin-rajin aja pantengin info kuis. Banyak kok yang menawarkan hadiah ke Eropa. Kalau memang sudah takdirnya, ya insyaAllah saya bakal berangkat. Kalau belum? Gapapa. Tetap hunjamkan optimisme dan positive thinking, bahwa suatu hari nanti saya bakal berangkat explore bumi Eropa! Yeayyy!

O iya, baca juga postingan mas Priyo, blogger Jogja soal wish list traveling-nya yaaa. Klik  Di sini nih 🙂

Gimana dengan teman-teman semua? Apa bucket list traveling untuk tahun 2018 ini? Boleh share di kolom komentar yaaaa 🙂 

Never Stop Learning!

Di 2018 ini, ada satu YouTuber yang super-duper meng-influence hidup saya. Mungkin juga hidup Anda. Errr, sebenernya dia lebih sering meng-upoad videonya di FB sih, tapi saya lebih demen lihat di YouTube, eniwei 🙂

Nama channel-nya… Nas Daily. Nas ini orang Arab-Palestina tapi pegang paspor Israel. (sungguh complicated, yak?) Hehehe. Dia sangaaaatt passionate dengan traveling plus bikin dan editing video dan meng-upload-nya SETIAP HARI. Setiap hari, sodara!

Sungguh takjub dengan konsistensi, kelihaian, dan ide-ide yang seolah nggak pernah absen dari otaknya. Gokil kan? Lebih gila lagi, dia meng-upload video berdurasi 1 menit saja dengan konten yang amat padat dan mengusung message yang clear. Gilak, gilaaak!

Apapun yang di-posting Nas membangkitkan rasa penasaran, dan saya yang langsung membatin, “Gilaaaak….aku harus ke sana niiih!”

 

So… kalau ditanya, apakah skill yang ingin saya miliki di 2018? Tentu saja, skill ngevlog (ambil stock shoot plus editing) yang meningkat  ketimbang periode sebelumnya.

Saya sebenernya ngga ada masalah dengan ngomong di depan kamera, yeah, walaupun kadang malu juga kalo dilihatin orang di tempat umum hahahahha. Tapi, saya kudu meng-upgrade hal-hal lainnya. Seperti ide/gagasan yang akan disampaikan dalam vlog, pengambilan gambar dengan angle yang menarik, editing yang ciamik. Yeah, minimal saya bisa bikin konten yang nyerempet-nyerempet Nas Daily gitu lah, hahahaha halu 😛

 

 

Itu skill untuk menambah kualitas sebagai content creator.

Selain itu, sudah pasti saya juga pengin ikutan workshop menulis! Iya lho… udah lama banget saya nggak “mengasah kapak”. Pengin banget ikutan pelatihan yang diampu oleh penulis handal, macam Dewi Lestari, atau Tere Liye mungkin? Intinya, saya ingin menjadi “NOL” dan mengisi “gelas kosong” supaya kualitas artikel yang saya produksi juga kian mengalami akselerasi.

Target Kampung Akherat 

Naaaah…. kalau vlogging itu pada umumnya berorientasi dunia kan? Tentu saja, saya nggak boleh lupa untuk mengisi ruhiyah dan mempersiapkan masa depan di kampung akherat.

Alhamdulillah, saya dikelilingi banyaaaaakkk orang baik. Isna (dan suaminya, mas Opik), mba Zentha, Kaka dan banyaaaak lagi yang selalu ngingetin jadwal kajian bareng Ustadz. Kami sama-sama menekuri jalan sunyi, menyimak tausiyah dari para pewaris jejak Nabi. Gimana caranya, supaya rezeki yang didapat ini tidak membuat kami terlena, kemrungsung dan terus-menerus mengejar dunia.

Bagaimanapun juga…. akherat adalah destinasi akhir, yang harus kita siapkan dengan sekuat jiwa.(*)

 

 

 

 

What is Special Thing about Me?

WHAT IS SPECIAL THING ABOUT ME?

*mikir keras*

Uuuuummmmm….. NOTHING! Hahahah. Kalo ditanya hal yang special banget, unique selling point dari diriku, kayaknya yaaa… kagak ada sih. Saya kan emak-emak mediokre. Mirip sama ibu kebanyakan. Yang kudu jumpalitan mengatur skala prioritas dalam hidup, as a mom, as a freelance writer, as a blogger, sama aja pada hakikatnya.

IMG_1567 (1)

Cuman… ada beberapa cerita yang (menurut saya) lumayan unik dan bolehlah buat di-share. Mungkin setelah baca, teman-teman jadi get inspired (haishh!) dan next time bisa mengikuti jejak langkah saya.

***

Okai.

Beberapa tahun lalu, saya tuh kerja jadi jurnalis/penulis di sebuah majalah komunitas muslim, namanya majalah Nurul Hayat. Biarpun ada ‘nurul nurul’-nya, majalah ini BUKAN punya saya ya, hehe. Saya karyawan biasa kok di sana.

Selain rutin mengirimkan artikel di sejumlah rubrik, tugas saya lainnya adalah: mengontak ustadz/pakar keislaman yang jadi kolumnis di majalah kami. Prof Mohammad Ali Aziz, adalah ustadz yang sering saya kirimi friendly reminder, buat ngingetin kalo ini udah masuk jadwal kirim naskah. Semacam itu.

Naaaah, suatu ketika Prof Ali udah kirim naskah untuk bulan itu (majalah kami terbit bulanan, eniwei), lalu beliau mengabarkan,

Screenshot_2018-01-04-04-26-39

 

“O iya mba. Saya juga sedang menyiapkan beberapa artikel karena saya akan memberi pelatihan sholat di kota-kota besar AS selama dua bulan. Tks.”

Di kantor kami, kebanyakan tipikal manusia yang “Injih, ustadz… injih ustadz…” pokoke kalau merespon ustadz tuh harus default penuh sopan santun dan nggak boleh ada improvisasi.

Kalau saya?

Maybe… “Iseng” is my middle name kali ya. Ketika Prof Ali kirim message itu, langsung saya balas…

“Alhamdulillah… Nuwun sanget , Prof. Mohon doa saya bisa mengikuti jejak Prof safar ke bumi Eropa dan Amerika, aamiiin.”

 

 

 

Bulan Mei 2017, ketika lagi kirim friendly reminder untuk naskah, lagi-lagi beliau kirim info:

“Ya mba, saya mungkin ke luar negeri lagi.”

 

“Semoga safarnya berkah, Prof. InsyaAllah saya ikuti jejak Prof safar around the world, aamiiin”

Screenshot_2018-01-04-04-27-02

Waahahhaa. Daaaaan…. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam… Apa yang tampak iseng belaka….. pada hakikatnya itu adalah sebentuk doa!

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Kalau Dia berkehendak, maka emak-emak seperti diriku… tetap bisa berkelana hingga ke bumi Amerika, yang begitu jauhnya! Diongkosin Google!

 

Baca : Mengeksplorasi Amerika Serikat 

Maka…. Saya pun mencoba lakukan refleksi. Selama ini, begitu banyak celetukan, kalimat-kalimat nir-faedah yang bermuncratan. Ouw, ketimbang saya mengeluarkan energi untuk frasa yang tidak perlu, alangkah baiknya bila energi itu dialihkan untuk meminta didoakan oleh orang sholeh… atau memperbaiki diri terus-menerus…. Sehingga hidup di 2018 kian berkah dan membawa banyak kebermanfaatan untuk orang lain.

Tahun 2017, saya sudah mendapatkan banyaaaaak banget kenikmatan duniawi. Di tahun ini, momentum yang tepat untuk berkontribusi seoptimal mungkin, supaya keberadaan saya di dunia yang fana, minimal ada gunanya.

Halo halooo 2018, let’s be friends! 

 

 

 

 

Ini Guru Favoritku, Kalau Kamu?

Dari TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, buanyaaaak banget guru/dosen yang saya jumpai, dan masing-masing punya story plus keistimewaan tersendiri.

Huumm, coba yaa, saya ingat-ingat. Siapa saja guru dan dosen yang memorable di kalbu saya.

Disclaimer: Ini foto-fotonya pake sesi sharing session pas Google Local Guides Summit yak. Soale “guru-guru” di Google nice-looking semua hahaha. Lumayaaaaan kan?

TK

Ketika TK, ada satu guru yang sabaaarrr banget. Namanya Bu Kholifah, kita panggilnya Bu Khol. Pokoke beliau itu tipikal guru yang ususnya Panjang deh, hahaha. Biarpun anak TK berisiknya ampun dije, Bu Khol ini tetap sabar. (segitu doang sih, ingetanku tentang zaman TK)

SD

Yang memorable pas SD? Ofkors Bapak ARDI SANTOSO! Sengaja ditulis pake font capital semua, karena si bapak guru ini ganteng, baik, tinggi, gaul, murah senyum, sorot matanya tajam laksana elang. Heiii, para siswi di SD kami terkena Oedipus complex massal, salahkan Pak Ardi deh! Siapa suruh jadi orang ganteng amat, hahahaha. Dan, para cowok di SD kami jadi kelihatan nggak menarik blas… karena hati dan konsentrasi kami terpaut ke Pak Ardi, hihihi.

O iya, waktu itu, saya termasuk cewek yang beruntung. Soale aku hobi baca puisi, dan pak Ardi tuh yang ditunjuk buat melatih tim delegasi SD kami ke lomba puisi di tingkat kotamadya (atau propinsi ya? Lupa.) Trus, aku juga jadi sekretaris kelas, lumayan sering lah berurusan dengan Pak Ardi (dari kecil udah jago modussss hahaha).

Pak Ardi idola kamiiii…!

(btw, gimana ya kabar beliau sekarang? Apakah di masa senjanya Pak Ardi juga menganut prinsip ala Tom Cruise dan Richard Gere?)

CHRISTOPHE-3

SMP

Masuk SMP, Pak Ardi udah terlupakan babar blas. Dasaaaaarr Oedipus complex ala-ala kau! Ya gimana, saya bersekolah di sebuah SMP, yang cowoknya lumayan unyu-unyu hoehehehe. Beberapa kali saya ikutan lomba mewakili SMP, kayak olimpiade matematika, lomba P-4 dan sebagainya. Guru yang memotivasi saya, salah satunya, sebut saja Ibu Liana.

Ibu Liana ini nggak tau kenapa, kesannya kayak benciiiiik banget ama saya. Apapun yang saya lakukan, selalu salah di mata dia. Kalo di kelas, misalnya saya lagi nunduk nih, gak ada angin bohorok gak ada angin putting beliung, bisa banget lho, dia menjerit nyaring, ”NURUL…!! KAMU NGAPAIN NUNDUK MELULU?!? MAU NYARI KOIN?!”

 

Gak tau apa dosa awak. Sama yang lain doi nggak jahat-jahat amat. Eniwei, gimanapun juga saya berterima kasih sama Bu Liana. Berkat suara gahar dan gayanya yang jahara ntuh, saya jadi setrooong! Dan, setiap ikut lomba mewakili sekolah, saya jadi super-pede, mau menang mau kalah, bukan lagi masalah.

Pas mau lulus SMP, Bu Liana baru ngasih tahu alasan di balik sikapnya, ”Maaf ya Nurul… saya bersikap begitu bukan karena benci sama kamu. Tapi saya pingin kamu kuat!”

Iyes Buk, iyesssss.

SMA

Di masa SMA, lebih banyaaaak lagi guru yang punya kontribusi besar dalam hidupku. Hmm, Pak Prasojo, guru Bahasa Indonesia, beliau yang menyematkan passion menulis dan berkecimpung dalam sastra.

Pak Herdik (Fisika) dan Pak Zaenal Arifin (Matematika), beliau berdua adalah guru eksakta sekaligus guru kehidupan. Yang mengajarkan disiplin tingkat tinggi. Pokoke, jangan sampai TELAT kalau masuk kelas deh. Telat dikiiiiitt aja, udah diusir ama beliau beliau ini hahahaha.

Kuliah 

Masa kuliah, hmm… ada beberapa dosen yang lumayan memorable. Salah satunya Bpk Yan. Beliau mengampu mata kuliah apa yaa… lupa… pokoke beliau salah satu dosen idola, zaman saya kuliah di Ilmu Komunikasi FISIP Unair Surabaya.

Selain jadi dosen, Pak Yan ini juga konsultan komunikasi/marketing/branding gitu lah. Suatu ketika Pak Yan baruuu aja selesai menunaikan tugas as consultant, dapat fee yang lumayan banget dong. Nah… Pak Yan berprinsip, dalam setiap rezeki yang ia terima, ada hak sebesar 2,5% (berupa zakat profesi/maal) yang harus ia tunaikan ke mereka yg berhak, sesegera mungkin!

“Prinsipnya, tunaikan secepatnya, jangan ditunda-tunda! karena manusia ini tempatnya lupa, dan kalau ditunda… besok kita akan terjerat rasa ’eman’ untuk mengeluarkan hak kaun dhuafa,” begitu kurang lebih ujar beliau.

Sepulang dari kasih training, Pak Yan naik angkutan umum, lalu ganti becak (dosen saya ini emang low profile kok).

Ngobrol ngobrol ama pak becaknya… dan sesampai di rumah, Pak Yan mengeluarkan duit 250 ribu rupiah!

Si abang becak kebingungan dong. Ni orang rabun dekat apa pegimane, kok ngga bisa bedain warna duit hahahah. “Lho pak…. kebanyakan paaaakk…. tarif becak saya nggak segini….”

Pak Yan bertutur sabar, “Gini Pak. Ini 250 ribu adalah zakat maal yang harus saya tunaikan. Mohon Bapak terima ya. Soalnya, saya kuatir besok udah ada acara dan rezeki lain, jadi saya nggak sempat ketemu Bapak. Nah, untuk tarif becak, ini saya bayar 15 ribu. Terima kasih ya Pak. Semoga rezeki kita berkah dan lancar.”

***

Pak Yan mengajarkan saya untuk jangan sampai kalah oleh “eman”. Wah, eman-eman… udah kerja keras kok duitnya dikasih ke orang lain… Nah, itu dia! Bisikan setan tuh haluuuussss banget. So, mulai sekarang, kayaknya prinsip pak Yan bisa banget kita jadikan teladan. Invoice cair, jangan lupa (minimal) 2,5% langsung salurkan ke kaum dhuafa! Atau, cari saja lembaga amil zakat profesional di kota Anda.

Bisa? Harus bisa!

 

Prudential Serahkan Mesin Apheresis di RS Universitas Hasanudin Makasar

“Sakit kanker itu lama-lama mirip flu ya. Banyak banget yang kena kanker belakangan ini.”

Begitu ucap salah satu senior saya. Suaminya saat ini tengah bertarung melawan kanker paru-paru. Aneka terapi harus dijalani. Berbagai pengobatan tentu butuh stok kesabaran dan anggaran yang tidaklah mini.

Siapapun bisa terkena kanker. Tua-muda… Energik-pasif….. Stresful-joyful… sepertinya kanker ini betul-betul jadi semacam ‘wabah’ dan tentu saja silent killer.

Continue reading