Sepotong Pagi Nan Penuh Inspirasi, bersama Dokter Iswiyanti Widyawati

One of the perks being blogger adalah…. aku bisa berjumpa dengan aneka ragam profil insan yang super duper menginspirasi. Tidak sekedar bersua say hi begitu aja. Tapi, aku bisa ngobrol SEPUASNYA dan mereguk aneka motivasi, plus bahan bakar spirit untuk melaju ke kehidupan yang lebih baik. Aku pernah berdiskusi dengan Direktur Utama PT Teluk Lamong… dengan ibu pemijat yang punya panti asuhan… macam-macam! Maka nikmat being a blogger manakah yang aku dustakan, ye kaaaan

Kali ini, aku bersua dengan dokter Iswiyanti Widyawati, MKes.

Sosok Dokter. Pakar Manajemen Rumah Sakit. Saat ini didapuk sebagai Kepala Bagian Pelayanan dan Penunjang Medis di RSIA Lombok 22, Surabaya.

Apa yang muncul di benak Anda? Sosok yang high-profile, formal, dan nyaris sulit “disentuh”?

Ternyata tidak, saudara! Singkirkan stereotype yang barangkali sempat singgah di kepala!  Ibu dokter Iswiyanti ini sungguhlah anti-mainstream! Dengan kapasitas keilmuan yang beliau punya, sama sekali tidak membuat dokter Iswi tampil jumawa laksana sosialita. Justru, beliau tetap anggun, dalam kesederhanaan. Melangkah mantap dalam bingkai kebersahajaan.

Dokter Iswiyanti Portrait

Kami berkesempatan untuk ngobrol akrab dengan dokter Iswiyanti Widyawati, di Hotel Yello Jemursari Surabaya.

Perempuan berputra 6 ini, menyunggingkan senyum, seraya tak henti-henti menawari agar kami ambil beragam menu breakfast.

“Siaaaappp, Ummi!” aku menukas cepat. Oh iya, beliau lebih suka dipanggil “Ummi” instead of “Dokter”. Barangkali, karena kami bersua bukan dalam kapasitas ahli kesehatan dan pasien… atau karena memang yaaa, begitulah apa adanya Ummi.

Di balik tampilannya yang demikian feminin, segar nan bersahaja, Dokter Iswiyanti justru punya jiwa gahar nan tangguh. Siapa nyana, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya ini, sangat aktif dan sigap menjadi relawan sosial kemanusiaan.

Tahun 2003, ia berada di Irak, mengemban misi kemanusiaan. Tahun 2006, lagi-lagi ia berkontribusi sebagai tenaga medis di Lebanon. “Di negara itu, ada daerah pengungsian Palestina yang berdiri sejak 1967. Sampai saya ke Lebanon tahun 2006 itu, situasinya benar-benar khas daerah untuk para pengungsi. Tidak ada hak-hak  istimewa untuk mereka, pendidikan dan akses apapun serba dibatasi,” ujarnya membuka kisah.

Baru-baru ini, dokter Iswiyanti mengemban tugas serupa ke bumi Palestina. “Banyak kami jumpai anak-anak berkaki 1, akibat serangan bom yang sedemikian masif. Padahal, kalau mau berpegang pada aturan perang dalam Islam, mestinya jangan sampai menimbulkan korban pada anak-anak,” lanjutnya.

“Ummi…. selama ini ditugaskan ke daerah konflik gitu apa enggak ngeri? Karena terus terang, saya berani pergi ke Amerika, tapi kalo disuruh ke daerah kayak gitu… rasanya duuuh, kok serem banget yaaa….” tanya saya.

“Walaah mbaaa… Mau perang atau nggak perang, kalau wayahe mati yo matii… kalau belum waktunya mati ya nggak mati… gitu aja lahhh….”

Caleg PKS DPR RI

Jedheeerrr! Sebuah kepasrahan tingkat tinggi yang terkuak dari dokter Iswiyanti. Betul juga, ya. Kenapa musti ngeri untuk melakukan sebuah kebaikan? Toh, pada akhirnya kita semua sama-sama akan berpulang ke alam sana. Yang membedakan hanyalah, bagaimana kita menghabiskan jatah hidup, dengan menjadi khoirun naas, anfauhum linnaas. Alias sebaik-baik manusia, adalah yang paling banyak manfaatnya untuk sesama.

 

Sedari muda, dokter Iswiyanti memang concern dengan isu sosial dakwah dan kemanusiaan. Sang ayah, Moch Iskak Masduqi, beliau yang memberikan insight menarik tentang pentingnya semangat berbagi. “Bapak saya adalah hizbullah. Beliau sangat bersemangat berjuang fii sabilillah. Dari Bapak juga, saya banyak mendapatkan pembelajaran politik.”

Lahir dan besar di Nganjuk, sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur, rupanya tidak membuat keluarga ini steril dari berita-berita up-to-date baik di level nasional, maupun internasional. Ketika keluarga lagi mungkin lebih demen mendengarkan lagu dangdut atau tembang populer masa itu (sebangsa Ermy Kulit, Harvey Malaiholo, Titik Sandora – Muchsin Alatas, OMG) berbeda dengan preferensi Iswiyanti “Bapak saya rutin memutar Radio BBC, seusai sholat subuh! Jadi kami selalu tahu tentang isu-isu politik, hukum dan sebagainya. Juga rajin nonton ‘Dunia dalam Berita’ di TVRI,” ujarnya.

Iswiyanti, bungsu dari 12 bersaudara terus menyalakan semangat berbagi pada sesama. Hingga ia bergabung di LSM 123 (Lembaga Swadaya Masyarakat yang concern dengan anak-anak jalanan) juga aktif di LSM Hope (gerakan tentang bahaya narkoba). Dokter Iswiyanti juga berkiprah maksimal di BSMI (Bulan Sabit Merah Indonesia)

Seolah belum cukup, ia pun didapuk sebagai Ketua Yayasan Harapan Muslimah dan Pembina Dompet Qur’an Amanah.

Breakfast with Dokter Iswiyanti Widyawati

Dengan sederet kapasitas yang dimiliki, ia kini siap mengemban amanah baru. Dokter Iswiyanti diajukan oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sebagai Caleg DPR RI dari Dapil Surabaya Sidoarjo.

“Kalau di PKS ini, kita ditunjuk oleh partai. Bukan kita yang mengajukan diri. Ini amanah yang sungguh berat. Namun, yang jadi concern saya adalah, banyak isu-isu di dunia kesehatan yang memang bisa diubah melalui regulasi. Dan itu artinya, kita harus terjun ke politik,” lanjutnya.

Politik adalah sebuah jalan. Semua bergantung pada orangnya. Apakah akan mengoptimalkan jalur politik untuk menebar manfaat bagi orang banyak? Atau justru melakukan keburukan setelah berkecimpung di politik?

“Yang jadi semangat kami adalah, bagaimana agar politik ini sebagai wadah untuk mencari pemimpin bukan untuk berebut kekuasaan. Apabila visinya adalah sebuah kepemimpinan, maka kita akan fokus pada tanggungjawab untuk menuju ke arah yang lebih baik. Jangan alergi dengan politik, karena kalau orang baik tidak mau masuk ke ranah politik, jangan-jangan nantinya dunia politik hanya berisikan orang yang tidak baik,” ujarnya mantap.

Dokter Iswiyanti Widyawati

Takjub, dan berkali-kali berucap “Masya Allah.” Sungguh kagum, dan I don’t know how she does it…. bagaimana Dokter Iswiyanti harus “berakrobat” demi bisa menjalani peran yang sedemikian beragam. Ia tetap hadir sebagai ibu yang utuh dan dicintai buah hatinya.

“Saya memang dekat banget dengan anak, juga dengan menantu. Kami bebas berdiskusi tentang banyak hal,” lanjutnya.

Dokter Iswiyanti dan suaminya (dokter Arief Basuki, Spesialis Anestesi) juga sama sekali tidak membebani buah hati untuk mengikuti jalur profesi sebagai dokter.

“Anak-anak boleh memilih apa yang sesuai minat dan bakat mereka. Saya berikan kebebasan dan tanggungjawab.”

***

Saya belajar banyak dari dokter Iswiyanti Widyawati. Tentang mental yang gahar. Ketangguhan. Pantang menyerah, dan aneka positive vibes yang selalu ia sebarkan.

Dalam sebuah diskusi di momen sarapan, spirit saya menggelegak. Sudah waktunya kita, punya wakil/ representasi yang mumpuni di Dewan. Agar fungsi Legislatif bisa berjalan dengan optimal…. Rodanya menggelinding dengan lancar dan memberikan kebermanfaatan bagi masyarakat.(*)

 

 

Advertisements

14 comments

  1. Banyak belajar dari ibu, diantaranya tetap humble sama keluarga meski sibuk dengan urusan kerjaan. Dan pastinya ilmu agama menjadi pondasi yang tepat untuk diberikan beliau kepada anak-anaknya…

  2. Kalau baca sosok inspirasi gini langsung terbayang sebaik baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi umat lainnya. Beliau bisa tetap menempatkan perannya dengan proporsional.

  3. Keterwakilan perempuan hebat di dunia politik, seseorang yang mempunyai sisi kemanusiaan tinggi dan memiliki pendidikan tinggi, menjadi sebuah inspirasi bagi para perempuan lainnya, demi kemajuan perempuan dan bangsa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s