Hajiku, Hajimu, Haji Kita

“Braaaakkkk…..”

Allahu Akbar, Ibuuuu…..ibuuu… ini gimana nih, Ibu….”

Astaghfirullah… Allah… Allah….”

Buru-buru saya berucap istighfar. Tak kuasa saya melihat “pemandangan ngeri” yang terjadi persis di depan saya. Seorang nenek-nenek bermukena lengkap, menaiki eskalator bareng bolo-bolonya. Semua serba lansia. Kalau lihat gaya bicara mereka, tampaknya, nenek-nenek sepuh ini berasal dari desa dan sama sekali tidak akrab dengan eskalator! Pantasss… Mereka kelihatan kemrungsung (panik dan ribet) ketika harus menapaki tangga berjalan. Pantas, satu dan yang lain kelihatan berusaha saling menguatkan, menyemangati agar bisa naik. Tapi, yang terjadi adalah…. Mukena salah satu dari mereka nyangkut, tergilas pijakan eskalator dan nenek tadi harus jatuh berguling-guling.

Untunglah, cukup banyak jamaah haji pria yang berada di sekitar kami. Setelah eskalator berhasil dihentikan, pak haji tadi langsung menolong nenek sepuh yang tak berdaya.

Yak, selamat datang di Masjidil Haram, Mekkah. Inilah momen terbesar dalam ibadah umat muslim sedunia. Berjubel manusia memadati bangunan suci ini. Masjid yang teramat sangat luas, penuh dengan beragam aksesoris hi-tech, sehingga kerap menjadi “jebakan betmen” buat para jamaah haji. Apalagi, yang berasal dari desa, dan minim pengalaman dengan teknologi.

Image
(bukan) jamaah ndeso lah yauw Heheheh

Kalau mau berhaji, bukan hanya hati, jiwa dan iman yang harus dimantapkan. Duit, juga, hehe… Yang tak kalah penting, siapkan “mental” untuk menghadapi beragam hal di luar kebiasaan hidup kita.

Soal naik eskalator tadi, misalnya. Jauh-jauh bulan, ada baiknya CJH yang berasal dari desa diajak untuk jalan-jalan ke kota. Tujuannya? Ke mal! Ngapain? Coba naik-turun eskalator. Selain itu, biasakan diri untuk berakrab ria dengan kumpulan manusia dalam jumlah segabruk. Betul lho, kalau tidak terbiasa, lihat ribuan manusia bisa bikin sukses keliyengan!

Tahun 2010, Alhamdulillah saya memenuhi undangan Sang Penggenggam Kehidupan untuk beribadah ke Baitullah. Rasa haru yang meruap, rasanya sulit dipercaya, karena usia saya terbilang masih muda (untuk ukuran rata-rata jamaah haji Indonesia). Ya, saya berhaji di usia 29 tahun. Bersyukur lantaran usia muda ini memudahkan saya untuk melakoni sejumlah ibadah fisik. Bayangkan, SELURUH ritual dan aktivitas haji mensyaratkan fisik yang prima. Thowaf, kita harus memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran. Lalu, sa’i, bolak-balik antara bukit Shofa-Marwah sebanyak 7 kali. Belum lagi berjibaku ketika antre bus. Ketika harus berjejalan di dalam Masjidil Haram. Ketika berjalan kaki dari pemondokan ke terminal. Macam-macam. Tak habis syukur saya karena undangan Allah yang begitu indah, sudah saya terima di usia 29 tahun.

Muncul pertanyaan, bagaimana saya bisa berhaji di usia semuda itu? Hmm, jawaban versi bijaknya: begitulah skenario Allah. Kadang, kita tidak pernah tahu dan tak bisa memprediksi jalan hidup kita. Kalau jawaban versi financial planning: Ya, boleh dibilang, berangkat haji adalah salah satu “tujuan finansial utama” saya. Apapun saya lakukan demi bisa berhaji. Saya rela ngirit-ngirit ongkos makan, asal ada duit yang bisa saya tabung di Rekening ONH. Saya sanggup tak beli baju modis, tak nonton film bioskop premiere, tak ikut gaul dan berhedon-ria dengan teman-teman. Mengapa? Karena saya meniadakan budget “having fun” dan mengalokasikan semua itu dalam rekening Haji. Alhamdulillah, duit tabungan sudah cukup. Plus, undangan Allah sudah tiba.  Sebuah harmoni nan indah. Lebih elok lagi, karena abang dan ibunda saya juga berhaji di tahun yang sama. Subhanallah, sungguh indah rencana Allah.

Demi Ngirit, Masak Sendiri

Masih membahas soal financial planning. Urusan hidup hemat harus berlanjut di tanah suci. Sebenarnya, negeri onta ini  tidak terlampau “mencekik” dalam urusan harga sembako. Ya, adalah harga-harga yang dikatrol, karena demand yang luar biasa meningkat. Kalau ketemu pedagang yang baik, insyaAllah kita nggak bangkrut-bangkrut amat-lah. Tapi, apabila Anda lagi apes, dan bersua pedagang yang ‘minta ditambah ajaran’ (istilah ini diperhalus dari ‘kurang ajar’) ya apa boleh buat. Saya pun pernah beradu mulut dengan si pedagang bahlul itu. Saya ngomel-ngomel pakai Bahasa Inggris, dia pakai Bahasa Arab. Nggak nyambungBiarin, yang penting puas, sudah bisa komplain ke dia. Hehe.

Nah, kami bertiga termasuk keluarga menengah yang tak tega bila harus menghamburkan duit. Untungnya, ibu saya termasuk perempuan dengan kecerdasan finansial yang sungguh patut diberi standing ovation. Dari tanah air, ibu membawa beragam properti dan bahan mentah, bumbu plus perintilan dapur lainnya. Mulai kompor listrik, rice-cooker mini, panci, wajan, teko, beras, kacang ijo, bahkan daun pandan! SubhanAllah banget kan?

Ternyata, strategi Ibu amat-sangat bisa menyelamatkan kantong dari “kepunahan penduduk”. Kalaupun beli di Arab, kami hanya belanja telor, sayur kangkung dan buah-buahan saja. Selebihnya, please welcome…. Chef Siti Fatimaaahh! Hehehhe….

Image
(mendadak) Chef Siti Fatimah (kanan)

Lebih bersyukur lagi, karena lidah saya ternyata tak berjodoh dengan masakan Arab. Hampir semua masakan Arab diberi bumbu kapulaga, jinten yang rasanya justru (menurut saya) bikin eneg. Alhamdulillah, justru di Arab, saya merasakan bahwa masakan Ibunda adalah menu paling juara sedunia!

O iya, ibu saya juga menyiapkan stok bumbu pecel, abon, mie instan, ikan wader goreng, kripik usus, kripik belut, dan aneka snack yang bisa berfungsi sebagai teman makan nasi. Nggak ada judulnya kita bosan dengan sajian Ibu. Yang ada, teman-teman satu KBIH sibuk bersilaturrahim ke kamar kita. “Halo, Assalamualaikum, hari ini Chef Fatimah masak apa ya?”

Perbaiki Hati, demi Raih Haji Mabrur

Seolah tidak ada habisnya kalau harus mengulik memori ketika berhaji. Adaaaa saja yang mau diceritakan. Kenangan ketika wukuf di Arofah. Drama berebut bus Saptco gratisan. Pengalaman diusir asykar (petugas) Masjidil Haram karena ketahuan bawa kamera. Adu strategi simpan kamera poket di dalam kaos kaki, lantaran takut disita asykar di Masjid Nabawi. Macam-macam!

Image

Yang jauh lebih penting dari itu semua adalah, apa dan bagaimana upaya kita untuk meraih predikat Haji Mabrur. Karena rupiah yang kita gelontorkan, sungguh amat disayangkan bila tidak kita optimalkan untuk ibadah haji setulus hati. Memang, godaan kerap menghantam. Ujub (bangga pada diri sendiri) hanya karena sudah berhaji, adalah sebuah rasa yang harus kita enyahkan. Sekuat jiwa. Karena itu, sebelum berhaji, sesudah berhaji, dan setiap momen haji tiba, saya selalu baca untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq, sufi besar keturunan Rasul, yang saya cantumkan di akhir tulisan ini. Resapi dalam-dalam. Hayati, dan amalkan. Yang tahu mabrur-tidaknya ibadah hanya Allah. Tugas kita adalah melakukan upaya dan menguatkan hati agar tidak tergelincir dalam riya’ (pamer). Selepas itu, tak perlulah kita panik dengan embel-embel “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” atau “Umi” dan sebagainya. Satu-satunya hal yang esensial, semoga Allah mengganjar kita dengan surga-Nya, sebagaimana sabda Rasul, “Haji mabrur itu tidak ada balasan lain, kecuali surga.” (HR Nasai dari Abu Hurairah).

Allahu Akbar. Indah nian… Dan, ingat-ingat juga sabda Rasulullah berikut, “Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Baiklah, di bawah ini saya untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq:

Jika Engkau Berangkat Haji….

Kosongkanlah hatimu dari segala urusan dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu pada Penciptamu.

Bertawakkallah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu.

Berserahdirilah pada semua ketentuan-Nya, semua hukum-Nya, dan semua takdir-Nya.”

“Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk.

Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk.

Janganlah bersandar pada bekal, kendaraan, sahabat, kekuatan, kemudaan, dan kekayaanmu.”

“Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi.

Bergaullah dengan baik.

Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan sunnah Rasul, yaitu berupa adab, kesabaran, kesyukuran, kasih sayang, kedermawanan, dan mendahulukan orang lain sepanjang waktu.

Bersihkan dosa-dosamu dengan air tobat yang ikhlas.”

“Pakailah pakaian kejujuran, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah.

Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan-Nya dengan ikhlas, suci, bersih dalam doa-doa kamu seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.”

“Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.”

“Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah, dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat.”

“Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjidilharam. Berputarlah di sekitar Baitullah dengan sungguh-sungguh mengagungkan Pemiliknya dan menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ber-istilam-lah kepada Hajar Aswad dengan penuh keridhaan atas ketentuan Allah dan kerendahan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau melakukan tawaf perpisahan. Sucikan rohmu dan batinmu untuk menemui Dia, pada hari pertemuan dengan-Nya ketika kami berdiri di Safa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwa.”(*)

Advertisement

Jadi “Monster” Pas Berhaji

Nggak banyak orang Indonesia yang berangkat haji di usia muda. Padahal, haji adalah Ibadah Fisik banget! Bayangin aja, selama Haji, kita kudu ngelakoni Thowaf (muterin bangunan Ka’bah selama 7 putaran), plus sa’i (jalan cepat antara bukit Shofa dan Marwah) juga selama 7 kali. Bangunan Masjidil Haram yang luas banget itu, juga kudu ditempuh dengan berjalan kaki. Kebayang kalo yang harus ngejabanin itu semua adalah nenek-nenek berusia 70-an tahun, lumayan bikin encok rematik jadi kumat bukan?

Syukurlah, saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk berhaji di usia yang masih lumayan “pagi”: 29 tahun. Walaupun bobot bodi saya lumayan bikin ngos-ngosan—berat saya 69 kg dengan tinggi badan 155 cm, tapi, saya kan masih muda banget jadi saya optimis dan super-pede dengan perjalanan Haji pertama saya ini.

Image
Ya Allah… pengin ke sini lagiiii….

 

Ternyata, di Mekkah, saya kudu nginep di maktab (penginapan) di kawasan Syisya yang berjarak sekitar 6 kilo dari Masjidil Haram. Untungnya, gara-gara lokasi yang cukup jauh, saya dapat cash back dari pemerintah RI senilai 700 reyal. Selain itu, untuk menjangkau Masjidil Haram cukup naik bus Saptco 2 kali, dengan rute: Syisya-Terminal Mahbaz Jin, lalu ganti bus lagi, dengan jurusan Terminal Mahbaz Jin-Masjidil Haram. Busnya gratis pula. Jadi, pemerintah Indonesia menyiapkan sejumlah armada bus dengan rute yang disesuaikan berdasarkan lokasi maktab. Karena maktab saya bernomor 203, maka saya kudu naik bus nomor 2, jurusan Syisya. Nah, di Syisya itu bercokollah ribuan umat manusia yang juga pengin naik bus gratisan dengan destinasi yang sama: Masjidil Haram. Namanya aja bus gratisan, butuh perjuangan ekstra untuk bisa nangkring manis di dalam bus, baik dalam perjalanan dari maktab ke Masjidil Haram, maupun sebaliknya.

Apa aja kendalanya? Tentu perkara antre. Untuk bisa nangkring manis di dalam bus, kita musti baris-berbaris di sekujur line yang disediakan petugas haji di kawasan Bab Ali (pintu Ali) di Masjidil Haram. Antrinya bak ular naga panjangnya bukan kepalang! Tapi namanya manusia itu susaaahh banget diatur. Ternyata selama di Arab Saudi, beberapa dari kita justru menjelma menjadi “Monster”. Meski sama Pak Ustadz bolak-balik diceramahin bahwa kita kudu melatih kesabaran selama Berhaji, wew, ternyata slogan “Orang Sabar Disayang Tuhan” kagak berlaku manakala kita antre bus.

Pernah tuh, saya antre dengan rapih-jali, tiba-tiba seorang manusia slonong boy di sebelah saya, ia dengan cueknya nyerobot! Sabar, sabar Bu Haji… saya cuman bisa membatin. Eeh beberapa detik setelah itu, muncul segambreng manusia yang nyerobot juga. Terang aja, kami yang udah hampir mati berdiri saking lamanya antre, langsung muntab. “Woooiii… antre woooiii!”, kami pun koor neriakin si tukang serobot. Entah pura-pura budeg atau emang budeg beneran, tuh orang kagak ngeh dan nggak meduliin teriakan kita. Langsung aja saya samperin mereka, “Pak, antre tuh baris ke belakang, bukan baris ke samping. Di sekolah pernah ikut upacara bendera gak seh?”

Lain waktu, ada nenek-nenek yang ngantri di belakang saya. Hmm, enak nih, kalo nenek-nenek biasanya sopan. Lah, ternyata dugaan saya meleset! Biar kata nenek-nenek, dia tetep dengan pedenya dorongin badan saya yang segede gaban ini. Saya pun nyolot, “Rese deh! Nek, saya tuh bisa jalan sendiri, nggak usah didorong-dorong kenapa?”. Dan dengan manisnya, tu nenek malah melengos.

Setelah antre-mengantre yang super ngeselin itu, kami menanti detik-detik yang menegangkan untuk keluar dari Bab Ali. Jadi, para petugas itu membentengi kami yang lagi ngantre ini dengan sebingkai rantai. Manakala rantai penghalang itu dibuka…. Gruduuuuggg, para jamaah haji ini lepas begitu saja, kayak kuda dikeluarin dari kandangnya! Lalu, kita musti dorong sana-dorong sini, demi mendapatkan posisi wenak di dalam bus. “Kalo lo pengin dapat tempat duduk di bus, maka lo kudu agresif!” gitu kata salah satu temen sekamar saya. Jadilah, sikut sana, sikut sini sambil lari-lari ngejar bus.

Image
Nah loooo, gue berdiri kan di Bus Saptco! Kepaksa nyengir euy 🙂

 

Dapat kursi di dalam bus bagaikan secuil surga yang dilemparkan Tuhan ke muka bumi. Jadilah, kalo pas lagi hoki dan dapat tempat duduk, saya merem-meremin sekujur indra penglihatan, dan pura-pura bego ajalah, biarpun ada jamaah lain yang meminta belas kasihan untuk ikutan numpang duduk. Tapi, kadang, suka terbersit perasaan pengin nolong juga, apalagi kalau yang pasang tampang ‘melas jaya’ itu adalah nenek-nenek yang kliatan lemes banget gara-gara kurang oksigen pas antre di Bab Ali.

Belum lagi kalau kebetulan kita satu bus dengan jamaah dari negara lain, misalnya Turki atau Iran yang badannya segede alaihim. Tenaganya jos markojosss! Jangan coba-coba sikut-sikutan ama mereka, dijamin kita bakal dikepret.  Pernah nih, saya coba berusaha “asertif” dengan tetep keukeuh ambil giliran saya untuk naik bus. Apa yang terjadi kemudian? Saya disikut, plus dapat bonus lirikan tajam yang seolah-olah mengatakan, “Apaan lo? Orang Indonesia bodi kontet kayak gitu mau coba-coba lawan gue?”

Eniwei, justru suka-duka selama antre bus yang kayak ular naga panjangnya; sikut-sikutan antar jamaah; dan watak asli kita yang keluar selama di sana, adalah hiburan yang lumayan memorable selama saya berhaji. Kalau udah kumat betenya gara-gara capek antre dan lari-lari kejar bus, saya coba alihkan dengan ngobrol bareng mas-mas Temus alias Tenaga Musiman, yang jadi petugas transportasi di Arab Saudi. Mas-mas ini adalah orang Indonesia, kebanyakan mahasiswa Al-Azhar University, Kairo, Mesir, yang memanfaatkan libur kuliahnya dengan cari ceperan di Arab. Lumayan enak diajakin ngobrol, bahkan saya kerap diajarin beberapa kosakata Bahasa Arab. Maklum, sopir bus gratisan itu kebanyakan orang Sudan yang ga bisa berbahasa Inggris. Efek positifnya bisa ditebak.  Saya gak perlu bingung-bingung manakala nyuruh sopir bus buat berhenti di depan maktab. Bonusnya adalah, tatapan mata kagum dari penumpang lainnya, “Wah, ternyata mbak ini bisa bahasa Arab tho? Lulusan pesantren mana yak? Pasti dia hafal Quran juga.” Hehehe… saya pun turun dari bis dan melenggang dengan jumawa.(*)

IKHLAS, Mantra Sakti Para Ibu

Oleh: @nurulrahma

Setengah berlari, saya menyusuri terminal keberangkatan Bandara Soekarno Hatta. Kaki saya mulai terasa nyeri. Hentakan yang begitu keras pada high heels memberikan sensasi ngilu yang tak terperi. Buru-buru saya copot high heels. Hanya dengan beralaskan kaos kaki, saya berlari. Tak peduli pandangan aneh dari penumpang lain. Saya harus kejar flight ini! Saya harus segera pulang!

Terengah-engah, saya serahkan tiket ke petugas counter pesawat. Bismillah, semoga belum terlambat…. Semoga belum terlambat…..

“Selamat malam, Ibu. Flight jam 8 malam ya?”

“Iya, Mas. Saya belum telat kan?”

“Untungnya pesawat kami agak delay, Ibu. Jadi, Ibu masih bisa masuk. Lain kali, mohon sudah tiba di airport satu jam sebelum keberangkatan ya.”

“Okeh. Jakarta macet banget Mas. Hoshh.. hoshhh…” saya masih terengah.

Alhamdulillah. Akhirnya, Allah mengizinkan saya untuk pulang. Hmm, PULANG. Kata ini terdengar begitu syahdu di telinga dan kalbu. Sudah lama, saya tak bisa pulang. Load pekerjaan yang tak kunjung henti, beragam event yang harus saya datangi, aneka press conference, beragam media briefing, media tour…Arggghhh….

Kalau saja, saya masih berstatus lajang ketika melakoni job sebagai media relations ini. Rasanya spektakuler! Saya bisa berkelana ke seluruh penjuru Indonesia. Melihat apiknya Danau Tondano-Manado. Menikmati geliat Malioboro-Jogja di malam hari. Makan pempek asli wong kito di Palembang. Menginap di berbagai hotel berbintang. Melaju dengan pesawat kelas satu. Dan, semua itu bisa dilakukan secara GRATIS. Bahkan, saya dibayar untuk itu.  Siapa yang nggak mau?

Nah, tantangannya adalah, I’m not a single girl anymore. Saya sudah berubah status, menjadi seorang ibu. Ada bayi mungil yang terlahir dari rahim saya. Ada bayi yang harus saya didik sepenuh jiwa. Sayangnya, hari-hari saya dirampas dengan kesibukan yang tak mengenal jeda. Usai cuti melahirkan, boleh dibilang, tak ada waktu yang tersisa buat bayi saya. Ya, bahkan waktu sisa pun tak ada!

Apa yang kau cari, Nurul? Karir? Gemilang uang? Tatapan penuh kagum (plus iri) ketika rekan-rekanmu bertanya, “Kerja dimana kau sekarang?” Dan engkau menjawab penuh jumawa, “Oh, saya kerja di perusahaan X, multinational company yang berafiliasi dengan sebuah korporasi di Amerika Serikat.”

Hah?! Itukah?

Sampai kapan kau bergulat dengan ambisimu itu? Sampai kapan kau turuti nafsu duniamu itu? Apa jawabmu, tatkala nanti di padang mahsyar, kau ditanya soal “Bagaimana kau mendidik anakmu?” Apa akan kau jawab, “Oh, selama ini bayi saya titipkan ke neneknya. Di rumah juga ada asisten rumah tangga (ART) kok.” Ya, ya, ya. Kau sibuk menempuh pendidikan setinggi mungkin, dan kau manfaatkan segala ilmu yang kau rengkuh, untuk pengabdian di kantor? Sementara, anakmu, darah dagingmu, justru kau serahkan pada asisten rumah tangga yang SD saja tidak tamat? Lalu, kau suruh ibumu untuk mengasuh anakmu. Tega benar, kau. Ibumu itu tugasnya mengasuh dan mendidik kamu, bukan anakmu! Tugas nenek itu memanjakan cucu, bukan mengasuhnya!

Dalam pesawat yang tengah mengangkasa, saya sibuk memijit kepala. Penat. Amat penat.

***

Saya jumpa Sidqi, anak saya, di pagi hari. Ia tengah dimandikan ART saya. Sambil berkicipak-kecipuk, Sidqi tertawa riang. Apalagi, ART saya mendendangkan lagu anak-anak yang dimodifikasi sendiri, “Bangun tidur adik Sidqi teruss… mandiiii…. Biar wajah ganteng sekaliiii….. ”

Seolah tahu kalau sedang dirayu, Sidqi tergelak. Bebek karet di tangannya jadi sasaran gemas. Ia memencet bebek sampai air muncrat kemana-mana.

“Looh, Sidqi sudah gede ya? Sudah bisa mencet bebek?” Saya nimbrung di antara mereka berdua.

Sidqi menatap saya. Diam. Seolah-olah, si bayi 7 bulan itu hendak berkata, “Errr… ini tante siapa ya? Kok nggak pernah kenal?”

“Sidqi… ini Ibu, naak….”

Sidqi masih diam.

“Sidqi lupa sama Ibu?” meski mencoba tersenyum, hati saya sakit. Sakit bukan main. Sidqi bisa terpingkal, tergelak, bercanda begitu lepas dengan ART-nya! Sementara, ketika saya coba ngajak ngobrol, ia malah diam, dengan memasang tampang “Emang elo siapa?!?!”

“Ngghhh… anu Bu, mungkin adik Sidqi lupa sama Ibu… kan jarang ketemu….”

Gubrak. Ini, lagi. ART saya ini kadang-kadang nggak cerdas emosi sama sekali. Saya nih sudah sakit hati melihat betapa manisnya hubungan kalian berdua, jangan ditambahi analisis sok tahumu itu dong! Geram, saya membatin.

Insiden mandi pagi ternyata bukan satu-satunya penyulut sumbu panas. Setelah mandi, Sidqi juga ogah saya gendong. Ia lebih memilih berada di gendongan ART, karena sudah familiar dengan bau si mbaknya. Lebih tragis lagi, manakala saya coba kasih ASI ke Sidqi. Ditolaknya mentah-mentah!

Pagi itu, seharusnya saya bahagia karena bisa pulang. Harusnya saya disambut sorot mata “Ibu… saya kangen…” dari bayi saya. Harusnya, kami berdua bisa menjadi sepasang ibu-anak yang normal. Yang saling merindukan.

Detik itu juga saya sadar. Bayi saya butuh saya, butuh kehadiran saya, perhatian, waktu, belaian dan kasih sayang saya. Sayangnya, menghadirkan diri untuk anak ternyata butuh usaha keras. Butuh kemauan untuk mengenyahkan ego. Butuh kedewasaan untuk bisa menentukan pilihan. Selama ini, saya terbelenggu pada target duniawi yang saya buat sendiri. Bahwa saya harus punya karir moncer. Bahwa saya harus bisa beli ini dan itu. Bahwa saya harus jadi perempuan mandiri, agar hak saya tidak diinjak-injak oleh para lelaki, dan saya bisa jadi role model buat wanita abad ini. Astaghfirullah… kenapa saya menjelma jadi kaum feminis wanna-be seperti ini?

Ketika hati sedang panas, buru-buru saya percikkan air wudhu. Adukan segala problema hidup hanya pada Yang Maha Menggenggam Kehidupan. Di atas sajadah, saya mohon petunjuk dari-Nya, apa yang seharusnya saya pilih. Tidak ada yang salah menjadi ibu bekerja. Barangkali, yang salah adalah, apabila saya mulai menjadikan pekerjaan sebagai “berhala” dan lupa akan tugas dan kewajiban yang tersemat begitu saya menyandang status “ibu”. Menjadi orangtua, artinya saya sudah ‘melamar’ ke pekerjaan tanpa cuti dan tak bisa resign. Dan, pada akhirnya, saya akan diminta ‘laporan pertanggungjawaban’ seputar amanah yang selama ini Allah berikan.

Allahu Akbar… Pagi itu, ada sebutir ikhlas yang menginjeksi seluruh hati. Ikhlaslah jadi Ibu… Kalaupun kau tetap ingin berkarya, carilah pekerjaan yang ‘ramah keluarga’. Jangan gadaikan keluargamu dengan sebongkah rupiah… Masih ada cara lain untuk aktualisasi diri… Ikhlaskan untuk melepas karir sekarang… Karena karir terbaik adalah, manakala engkau bisa menjadi ibu yang menghebatkan anak… BismillahInsyaAllah, akan ada jalan terbentang yang indah untuk kalian….(*)

Interview with Super-Fabulous-Person, Maher Zaaiiiinnn!

Image

Don’t despair and never lose hope… ‘Cause Allah is always by your side… Insya Allah…. Insya Allah… you’ll find your way (Maher Zain-Insya Allah)

Pas bulan Ramadhan , nyaris setiap hari telinga kita diberondong lirik tembang “InsyaAllah”. Dibawakan secara apik oleh Maher Zain, lagu ini seolah mendobrak pakem dan definisi ‘musik laris’. Jauh dari kesan musik yang hingar-bingar ataupun melenakan, justru masyarakat dunia menyambut antusias musik Islami ala Maher Zain. Tak heran, ia mendapatkan 25 Platinum Award, lantaran albumnya yang laris manis.

Alhamdulillah, saya berkesempatan berbincang dengan pria kelahiran Tripoli, Lebanon ini, sesaat sebelum konser “Forgive Me” di Surabaya, beberapa waktu lalu.

 Anda kerap melakukan tour dan konser ke berbagai Negara. Tentu, Anda tidak punya waktu banyak bersama keluarga Anda. Bagaimana tetap menjaga ikatan batin di saat Anda harus melanglang buana setiap saat?

Alhamdulillah, istri saya, Aisya sangat memahami pekerjaan yang harus dijalankan oleh suaminya. Karena itu, ia sungguh ikhlas dan bersemangat dalam mendidik putri kami, Aya Zain. Saat ini, Aya masih berusia 1,5 tahun. Ketika saya berada di rumah, tentu saya melakukan quality time antara ayah dan anak, dengan main bareng, dan kegiatan lainnya. InsyaAllah, dengan selalu berdoa, menelepon, dan beragam cara lain, kami tetap bisa berkomunikasi walaupun berjauhan.

 Keluarga Anda juga jadi sumber inspirasi dalam karya-karya brilian yang Anda lahirkan ya?

Beberapa lagu terinspirasi dari orang-orang terdekat yang amat saya sayangi. Lagu Number one for me misalnya. Terinspirasi dari ibu saya. Melalui lagu ini, saya ingin menebarkan pesan, bahwa terkadang kita menyia-nyiakan ibu, padahal beliau adalah sosok yang sungguh sangat istimewa dalam kehidupan kita. Intinya saya mengajak untuk kita lebih bisa menghargai Ibu kita. Sedangkan untuk lagu My Little Girl inspirasinya berasal dari anak saya, karena bagi saya Aya adalah sebuah keajaiban. Bahkan, pada saat pembuatan lagu My Little Girl, saya rekam suara Aya sebagai backsound. Waktu itu, usianya masih 4 bulan.

 How cute! Lantas, bagaimana seorang Maher Zain bakal menerapkan konsep pendidikan ke anak?

Yang jelas, karena anak saya masih kecil, porsi bermainnya tentu lebih banyak. Tapi, tentu saja, sedari dini, kami sebagai orangtua selalu memberikan ajaran agama dengan cara yang menyenangkan. Ajak anak untuk wudhu, bersuci, sholat, mengaji, ya semacam itulah. Nanti apabila dia sudah masuk umur baligh, tentu kita akan lebih disiplin dalam memantau ibadahnya. Karena memang, fase yang paling ‘mencekam’ dalam kehidupan seseorang adalah fase remaja.

 Apa Anda punya nasihat khusus buat para remaja?

Rasanya memang, fase remaja itu kerap ‘bikin gamang’. Ada perasaan ‘In between’, kita sudah bukan anak-anak, tapi juga belum dewasa. Dan ini adalah fase yang amat menantang, khususnya bagi orangtua untuk bisa mengarahkan anak remajanya. Karena itulah, saya selalu mengingatkan para remaja yang jadi follower saya untuk selalu berdoa, dekatkan diri pada Allah, dan berusaha keras untuk pilih lingkungan yang baik. Karakter teman sangatlah berpengaruh dalam kehidupan kita. Jika berteman dengan sosok yang berjiwa positif, insyaAllah kita juga akan tertular semangat untuk jalani hidup yang lebih baik. Tapi kalau dapat teman yang buruk, bukan mustahil kita bakal jadi orang yang lebih buruk. Fase umur 15 sampai 25 tahun adalah the hardest years. Di saat bersamaan, kalau Anda berhasil melampaui fase ini, maka Anda akan menjadi sosok yang tangguh.

Selain membawakan lagu, Anda selalu concern untuk menyampaikan pesan berbalut dakwah ya?

Allah sudah memberikan berbagai kemudahan dan rezeki pada saya. Tentu itu semua menuntut adanya tanggungjawab dari saya pribadi. Saya harus memberikan manfaat bagi orang lain, salah satunya dengan menebarkan berbagai pesan kebaikan. Sangatlah mudah untuk melihat jalan yang benar jika kita mau membuka mata dan melihat dengan benar. Inilah yang terjadi pada saya, dan sungguh, saya ingin umat muslim di seluruh dunia juga menyuarakan kebenaran dan nilai-nilai Islam yang mulia.

Kalau melihat timeline @maherzain di twitter, Anda kerap menyuarakan pesan untuk mendoakan saudara-saudara kita di berbagai lokasi konflik atau perang. Ini salah satu dakwah Anda juga?

Inilah cara saya untuk memberikan support pada anak-anak tanpa dosa yang jadi korban perang. Ratusan anak terbunuh gara-gara invasi militer. Mereka adalah anak-anak yang begitu suci. Bisa saja, kejadian ini menimpa anak saya, anak Anda ataupun pasangan Anda. Karena itu, sebagai muslim, kita harus saling menunjukkan dukungan. Jangan hanya datang ke konser saya lalu nyanyi-nyanyi saja.

 Bisa dibilang, Anda punya energi dan passion yang luar biasa dalam menyuarakan nilai-nilai Islami. Anda telah menjelma menjadi sosok idola baru bagi kaum muslim. Visi apa yang ingin Anda capai dengan menjalani semua ini?

Basically, ada tiga kategori manusia yang kita temui dalam hidup. Tipe pertama, orang yangselfish, mereka tidak mau peduli dengan urusan orang lain. Yang penting, masalah keluarga dan kerjaan beres, maka ini sudah cukup bagi mereka. Tipe kedua, sebenarnya mereka punya kepedulian. Tapi mereka seolah tidak punya power untuk melakukan hal-hal lain demi kemaslahatan ummat. Lagi-lagi, mereka hanya punya concern, namun tidak bertindak apa-apa. Sementara tipe ketiga, orang yang ingin mewariskan legacy dalam hidup. Mereka tahu bahwa Allah menciptakan mereka dengan BIG responsibility, tanggungjawab yang besar. Karena itulah, mereka ingin mewariskan nilai-nilai, bermanfaat untuk orang banyak, selalu menebar inspirasi. Dan, ketika manusia tipe ketiga ini meninggal dunia, orang-orang tetap mengenang masterpieceatau karya yang mereka lahirkan. Tentu saja, saya ingin menjadi tipe ketiga. Saya ingin memberikan manfaat semaksimal mungkin. Saya ingin lagu yang saya perdengarkan bisa mengubah manusia menjadi sosok yang lebih baik. InsyaAllah.(*)

 

Skizofrenia

Oleh: @nurulrahma

Suatu hari di kelas psikologi. Dosen meminta semua mahasiswa untuk menuangkan pertanyaan terkait penyimpangan kejiwaan dalam selembar kertas. Lalu, dosen mengambil acak pertanyaan tadi. Alisnya terangkat tatkala membaca satu pertanyaan yang menurutnya cukup ‘ajaib’. “Bagaimanakah cara mengetahui kondisi emosional anak seorang penderita skizofrenia?”

Kalau kita tengok Wikipedia, maka definisi skizofrenia adalah ‘gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal pikiran, perasaan dan tingkah laku. Ini gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra).

Karena definisi yang agak rumit itulah, orang awam kerap menyebut penderita skizofrenia sebagai ‘orang gila’.

Apa jawaban si dosen? “Wah, penderita skizofrenia punya anak? Hmm, saya rasa tidak mungkin. Penderita skizofrenia tidak boleh punya anak. Siapa yang bikin pertanyaan ini?”

Seorang mahasiswi berhijab lebar, mengangkat tangannya. Sebut saja, namanya Wiwid. “Saya, Pak.” Sontak nyaris seluruh manusia di kelas itu terkikik. Ada celetukan “Wiwid skizofren!” dan tentu disambut tawa membahana seisi ruangan.

Setelah kelas rada tenang, sang dosen mulai menjelaskan segala teori psikologi yang dia kuasai. Intinya, penderita skizofrenia dilarang punya anak, karena berbahaya bagi ibu dan anak. Skizofren itu bisa diturunkan ke anaknya! Wah, bisa-bisa melahirkan generasi penderita skizofren berikutnya. Selain itu, karena kepribadian dan perilaku yang cenderung menyimpang, penderita juga bakal merepotkan orang-orang di sekitar mereka.

Usai memaparkan secara panjang kali lebar seputar beragam teori skizofrenia, sang dosen bertanya pada Wiwid. ”Memangnya, kenapa kamu tanya ini, Wiwid?”

Wiwid menjawab enteng. “Karena ibu saya skizofren, Pak.”

“Oh….”

Kelas mendadak hening. Sang dosen amat terperanjat. Seolah-olah, segala teori yang dia bombardir tadi, tak ubahnya teori sampah. Gestur tubuhnya menunjukkan ia tengah ‘mati gaya’. Ia membenarkan letak kacamatanya yang tidak salah. Lalu membalikkan badan, duduk di kursinya, dan lamat-lamat bergumam pada diri sendiri, ”Ini aneh… ini aneh….”

Seisi kelas pantas merasa heran. Wiwid bukan mahasiswi biasa. Indeks Prestasi (IP)-nya selalu di atas 3,5. Bahkan, selama beberapa semester ia sanggup menyabet IP 4. Sempurna. IQ-nya jelas di atas rata-rata. Wiwid sangat supel, bisa bergaul dan mudah akrab dengan siapa saja.

Perempuan pintar, cemerlang, akidah dan akhlak terjaga, lha kok malah anak dari penderita skizofren?!? Apa ndak aneh tuh? Skizofren kan penyakit jiwa? Penyakit turunan lagi?

Sang dosen masih kelihatan mumet. “Huh, sepertinya… untuk kasus ibumu… ada anomali. Ini tidak seperti kasus skizofrenia pada umumnya,” ucapnya pelan, seolah-olah untuk menghibur ‘sakit hati’ akibat teori yang tidak terbukti.

***

Image
One of the cute girl is Wiwid. Just guess 🙂

Ada banyak cara yang Allah tunjukkan, agar kita mau bersyukur atas setiap nikmat yang tercurahkan. Keluarga Wiwid memang “anomali”. Wiwid anak pertama dari 3 bersaudara, dan semuanya super-duper-smart! Soal ‘penyakit’ ibunya, Wiwid bisa dengan enteng bercerita pada saya. Tak pernah ia merasa malu lantaran lahir dari rahim seorang penderita skizofrenia. Wiwid begitu tenang, nada bicaranya datar, ketika ia berujar, “Eh, aku balik duluan ya. Mau nganterin Ibu kontrol di RSJ (Rumah Sakit Jiwa) nih.”

Ketika ibunya ‘kumat’, segala makian dan kata-kata kasar beterbangan dari mulut beliau. Toh, Wiwid memilih untuk diam. Khidmat mendengarkan ceracau sang bunda. Yang ia tahu, bundanya tengah diuji Allah dengan penyakit itu. Yang ia tahu, “Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan sejenisnya, melainkan Allah akan mengugurkan bersamanya dosa-dosanya seperti pohon yang mengugurkan daun-daunnya”(HR. Bukhari no. 5660 dan Muslim no. 2571).

Wiwid ikhlas menjalani semua itu. Bahkan, Wiwid ikhlas melepaskan kesempatannya berburu Beasiswa S-2 di negeri ginseng, Korea Selatan. ”Aku sudah lolos semua ujian untuk beasiswa itu. Tapi, aku mikir, kalau aku pergi ke Korea, nanti siapa yang merawat ibuku di sini?”

Tak saya temukan intonasi protes ataupun keluh-kesah dalam kalimatnya. ”Banyak hal yang membuat aku bersyukur. Biarpun ibu kena skizofrenia, beliau diberi kesempatan oleh Allah untuk mengandung, melahirkan dan merawat tiga anak. Selama 10 tahun terakhir, ibu juga harus merawat ayah yang kena stroke,” lagi-lagi Wiwid bercerita dalam senyum.

SubhanAllah… dalam situasi yang sama sekali tak bisa dibilang nyaman, Wiwid dan keluarganya masih tetap bergelimang syukur. Cinta yang meluap di antara mereka, tak bisa dipisahkan hanya karena jerat skizofren. ”Sampai kapanpun, saya nggak bisa balas jasa Ibu. Di tengah sakit yang ia derita, ibu selalu berbuat yang terbaik untuk kami. Ibu juga sholat, berdoa, Alhamdulillah… Kami bersyukur karena Ibu masih diberi nikmat iman…”

Tiba-tiba saya teringat ibunda saya di rumah.

Ibu seorang wanita normal, sehat wal afiat, selalu bugar jiwa dan raga. Ibu saya sungguh luar biasa baiknya. Tak pernah sekalipun ia menyakiti saya. Tak pernah ia lontarkan kata-kata yang menghina, pada siapapun! Tapi, saban ibu melontarkan nasihat, saya justru sibuk membalasnya dengan debat.

“Nanti pulangnya jangan malam-malam ya Nak…”

“Ibu iki! Aku kan bukan anak SD lagi. Yang namanya liputan yo mesti pulangnya sampai malam.”

Lalu, ibu hanya bisa terdiam. Mungkin sembari memendam rasa kecewa yang harus ia telan. Astaghfirullah… Sampai di mana syukur saya? Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban… Nikmat Tuhanmu yang mana yang engkau dustakan?

Ibu saya wanita yang sangat hebat. Ia mampu menyembunyikan segala luka dan tragedi hidup, ia simpan rapat-rapat, dan hanya ia adukan pada Sang Pemilik Semesta. Ibu hanya mau berkeluh-kesah pada Ar-Rahmaan. Ibu yakin, bahwa segala problema dalam titian kehidupan sejatinya adalah ujian Allah. Tak lebih.

Ibu saya… ibunda Wiwid… ibu-ibu lain di seluruh penjuru bumi ini….

Merekalah para perempuan mulia, inspirasi yang terus mengalir tiada henti… Mereka rela menukar kesenangan hidup dengan kesempatan untuk berpayah-payah mendidik anak dan keluarga. Mereka rela menggadaikan apa saja, agar putra-putri tetap istiqomah berjajar dalam barisan kaum muttaqin. Teriring salam khidmat dan jabat erat kami, mohonlah kepada Allah, agar kita digolongkan anak-anak yang shalih. Sehingga kelak, di yaumil akhir, kita bisa bersua dengan ibunda, dalam hangatnya senyum bahagia.(*)

Image
Saya, ibunda, dan Sidqi @Jambuluwuk Resort, Batu, Malang

Felix Siauw: Saya Striker, Istri Defender sekaligus Kiper

Image
Kalau Anda rajin twitter-an, akun @FelixSiauw barangkali bukan nama asing. Ustadz muda ini mulai dikenal orang gara-gara rajin berdakwah via twitter. Kalimat-kalimat singkat, padat, mengena dan bernas adalah ciri khas tweet-nya. Follower beliau juga bejibun. Sudah menembus angka 500 ribu lebih. Belakangan, Ustadz Felix kian dikenal karena menulis buku yang cukup “menohok” anak muda Indonesia. Buku “Udah, Putusin Aja!” bernuansa pink, namun isinya amat “tajam”, mengkritisi fenomena pacaran. Berikutnya, Ustadz Felix meluncurkan “Yuk, Berhijab!” yang juga membuat para muslimah harus kembali berinstropeksi “Sudah sesuai syariatkah hijab yang kukenakan selama ini?”
 
Baru-baru ini, saya dan suami berbincang sejenak dengan beliau, sesaat sebelum Ustadz Felix mengisi acara di Unesa Ketintang Surabaya.
 
 
Bagaimana Anda mendeskripsikan profil keluarga Anda?
Dari awal, cita-cita besar yang kami canangkan adalah, ingin memiliki keluarga yang berintikan dakwah. Jadi, dakwah adalah semangat yang harus terus ada dalam segala aktivitas yang kami lakukan. Alhamdulillah, kami dikarunia banyak anak. InsyaAllah mereka lahir untuk mengemban dakwah. Mereka akan menjadi generasi berikutnya yang hadir untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Jadi, sedari kecil, saya membiasakan anak-anak untuk dekat dengan semangat dakwah. Misalnya, Alila (5 tahun), anak saya yang paling besar, selalu saya biasakan untuk pakai jilbab. Kami juga mengenalkan apa dan bagaimana profesi yang digeluti oleh Bapaknya. Saya ceritakan aktivitas dakwah yang saya lakukan, tentu dengan bahasa yang mudah dimengerti anak.
 
InsyaAllah, kalau nilai dakwah ini sudah tertanam dalam diri anak, maka dakwah akan menjadi“habbits” buat mereka. Seperti yang saya kupas dalam buku Master Your Habits. Bisa dipastikan, dalam kehidupan hasil-hasil yang kita dapatkan adalah buah dari kebiasaan kebiasaan yang kita lakukan. Oleh karena itu, bagaimana cara kita bisa mendapatkan habbit / kebiasaan yang baik adalah satu tuntutan yang mesti ada ikhtiar kita secara maksimal.
 
Lalu bagaimana cara agar kita bisa membuat sebuah kebiasaan? Caranya bermula dari apa yang kita pikirkan. Jika yang kita pikirkan adalah untuk menjadi orang kaya, maka tindakan tindakan kita juga akan merepresentasikan pikiran tadi. Jadi yang mesti kita perbaiki, ubah cara berpikir kita. Dari cara berpikir, lalu kita mampu merubah cara bersikap. Setelah itu, ubah cara bertindak. Dan bila kita konsisten dengan segala tindakan yang kita lakukan tadi, maka itulah yang akan membuat kebiasaan atau “habbits” kita. Intinya, apa yang dilakukan terus-menerus, jadi sesuatu yang diutamakan.
 
Jadwal Ustadz amat padat ya. Rutin isi kajian di Jakarta dan sekitarnya, juga sering keliling Indonesia dan luar negeri untuk berdakwah. Bagaimana Anda memainkan peran “ayah”, kendati jarang bertemu dengan keluarga?
Untuk orang tua yang sering pergi karena tugas dakwah, luangkanlah waktu untuk anak ketika kita tengah berada di rumah. Saya sering menceritakan kisah-kisah Rasul dan sahabat jelang tidur.
Lalu, saya membacakan Al-Qur’an. Saya minta anak untuk mengulang ayat yang baru saya baca. Setelah itu, kami saling mendiskusikan isi ayat. Tafsir dengan cara yang mudah dipahami oleh anak kecil.
 
Selain itu, saya juga berkomitmen agar anak-anak punya waktu seharian full untuk pergi sama bapaknya. Untuk apa? Bukan sekedar pergi bersenang-senang, tapi aktivitas ini kami lakukan untuk transfer karakter. Perlu digarisbawahi ya, transfer karakter, bukan sekedar transferknowledge. Karena kalau sekedar transfer knowledge, maka anak-anak kita bisa mendapatkan dari mana saja. Malah, mesin pencari google bisa lebih jago dari kita, para ortu atau ustadz(ah)nya di sekolah.
 
Transfer karakter tidak bisa tidak, harus dilakukan oleh orangtua. Di sinilah, kami menanamkan kecintaan kepada Islam, semangat untuk dakwah dan hal-hal baik lainnya. Jadi, peran “ayah” tetap bisa saya mainkan, kendati saya jarang berada di rumah.
 
Dalam hal mendidik anak, memang betul saya memberikan porsi lebih besar kepada istri. Karena itulah, istri saya tidak bekerja, beliau fokus mengurus anak. Karena kalau istri saya kerja, maka ia akan sibuk mengejar karir. Dan, beliau akan kehilangan masa pertumbuhan anak yang tidak mungkin berulang. Jangan sampai hal itu akan beliau sesali di masa mendatang. Kesepakatan ini saya buat bersama istri. Jadi, ibarat lagi main bola, peran saya sebagai strikeralias penyerang, sementara istri yang jadi defender sekaligus kiper alias jaga gawang.  
 
Apakah anak tidak pernah protes melihat kesibukan ayahnya yang seolah tak ada jeda?
Ya, baru-baru ini Alila, yang paling besar sudah bisa protes. Dia bilang, “Umi, abi kok nggak ada liburannya sih?”  
 
Ya, kami jelaskan, kalau abinya ini harus menjalankan aktivitas dakwah. Alila harus ikhlas dengan kondisi ini. Kami ajak membandingkan dengan anak-anak lain yang orangtuanya harus kerja berbulan-bulan atau bertahun-tahun tidak pulang, sebagai pelaut misalnya. Bahkan,ada anak yang tidak bisa bertemu lagi dengan ayahnya karena sang ayah sudah meninggal dunia. Jadi, bagaimanapun juga, anak-anak tetap harus bersyukur dengan kondisi sekarang. Karena apa yang abi lakukan ini aktivitas mulia.
 
Kok bisa anak saya protes? Ceritanya, waktu itu ada tugas dari sekolah. Murid-murid diminta menceritakan apa saja yang dilakukan selama liburan kemarin. Nah, karena tiap weekend, saya ada undangan dakwah, dan Alila nggak pergi kemana-mana, jadi dia nangis, nggak tahu harus cerita apa.
Anak saya sempat merasa kecil hati. Lalu, saya jelaskan, Alila nggak perlu kecil hati. Karena abinya ini kan dakwah dan pengusaha juga, bukan karyawan. Jadi, abi tidak libur di akhir pekan, seperti karyawan pada umumnya.
 
Saya kasih penegasan ke anak-anak bahwa libur itu tidak harus berupa kegiatan akhir pekan, pergi ke Puncak, atau kebun binatang, atau ke tempat semacam itu. Libur tidak harus kayak begitu. Libur adalah kegiatan yang dilakukan dengan seluruh anggota keluarga, bisa tujuannya ke mana saja, dan di hari apa saja. Misalnya, saya ajak dia ke Masjid. Atau, saya ajak untuk datang di salah satu acara dimana saya jadi pembicara. Aktivitas sejenis, yang bisa mengeratkanbonding antara orangtua dan anak, itulah esensi liburan yang sebenarnya.
 
Sebagai pegiat dakwah, Anda kerap mengusung hal yang anti-mainstream. Misalnya, ketika Anda mengkritisi style berhijab muslimah. Apa memang ciri khas Anda memang selalu anti-mainstream seperti ini?
Setiap kebenaran harus disampaikan. Ketika sekarang banyak style hijab yang macam-macam, dan itu memakan porsi besar dari muslimah kita, tidak serta merta kita harus ikut-ikutan porsi besar tadi. Walaupun kita harus mengapresiasi bahwa karena trend hijab itu ada positifnya. Banyak perempuan yang sekarang jadi mengenakan hijab, karena mereka melihat hijab itu tidak mengerikan dan tetap bisa tampil gaya.
 
Meski ada hal positif dari gelombang style hijab, bukan berarti syariat bisa diganti. Hijab itu tidak ribet, tidak perlu tutorial. Pada dasarnya, hijab sesuai syariat itu yang sederhana, dan sesuai panduan dalam Al-Qur’an.
Bagaimana dengan muslimah yang berhijab tapi belum sempurna? Ya, kita tetap harus apresiasi. Kemudian, kita ajak untuk kembali ke panduan hijab yang benar. Jangan sampai kita melakukan dakwah dengan pendekatan yang salah. Kita bilang hijab gaul itu salah, dosa, dll. Tapi, kita ajak dengan santun, bahwa sosok muslim(ah) yang baik itu harus terus-menerus membenahi diri. Termasuk, menghijabi diri sesuai syariat, bukan karena tuntutan mode.(*)
 
Nama lengkap: Felix Siauw
Nama Istri: Parsini
 
Nama Anak:
1.       Alila Shaffiya Asy-Syarifah
2.       Shifr Muhammad Al-Fatih 1453
3.       Ghazi Muhammad Al-Fatih 1453
4.       Aia Shaffiya Asy-Syarifah
 

Interview with Syeikh Ali Jabeer

Syeikh Ali Jabeer
Hidupkan Jiwa Qurani di Tengah Keluarga
Image 
Nama Syekh Ali Jabeer kian berkibar di jagat para ustadz dan pengisi ceramah agama di Indonesia. Syekh yang rutin mengisi Program “Damai Indonesiaku” di TVOne ini menempati ruang khusus di hati jamaah. Sosoknya sangat khas Arab, menariknya ia amat piawai dan fasih berbahasa Indonesia. Kalimat yang ia tuangkan dalam tausiyahnya begitu lugas, mudah dicerna dan membangkitkan inspirasi.
Banyak jamaah yang tentu penasaran, bagaimana cara Syeikh Ali mendidik anak? Boleh dijelaskan?
Pendidikan anak memang hal yang amat penting dalam hidup kita. Memang, kita harus memberikan perhatian kepada anak sejak kecil hingga ia dewasa. Dengan perhatian, kasih sayang dan pendidikan yang berkualitas, insyaAllah kita akan mendapatkan anak yang sholih dan sholihah. Ini semua jelas bukan program pribadi saya sebagai ayah. Semua dimulai dari bagaimana memilih calon istri yang sholihah. Seperti yang pernah dikatakan Umar bin Khotob, ”Hak anak atas orang tuanya adalah memilihkan ibu yang sholihah, mengajarkan Al Qur’an dan memilihkan nama yang baik”. Karena kebaikan anak sangat bergantung dari kebaikan ibunya. Ibunya baik maka anaknya akan baik. Karena ibu yang baik akan memberikan perhatian yang serius bagi pendidikan anak-anaknya. Bahkan dia akan mengajar dan mendidik anaknya dengan kebiasaan yang baik.
Apa yang harus dilakukan seorang ibu selama mengandung putranya?
Banyaklah berdzikir. Biasakan baca Al-Qur’an, setelkan murottal, bisa dengan cara tempelkan earphone di dekat perut. InsyaAllah janin bisa merasakan indahnya kalam Ilahi.  Ini sangat berpengaruh positif, karena bacaan Al-Qur’an itu berdampak pada ruh. Ada proses lewat otak, janin kita menyimpan murottal Qur’an. Saya punya adik yang jadi guru mengaji. Ketika hamil, dia tidak pernah berhenti mengaji dan terus mengajarkan Qur’an. Salah satu surat yang sering ia baca adalah Ar-Rahman. Nah, pada saat anaknya sudah lahir, kemudian rewel menangis seharian, maka sang Ibu membacakan surat Ar-Rahman. Subhanallah, ternyata langsung ‘nyambung’. Si anak ingat ayat yang dia dengarkan ketika berada dalam kandungan. Rewelnya langsung berhenti.
Allahu Akbar, luar biasa! Bahkan nilai-nilai kemuliaan Al-Qur’an sudah bisa dicerna oleh janin dalam kandungan dan bayi yang baru berusia beberapa hari?
Tepat! Karena itulah, keluarga muslim harus menjadi Al-Qur’an sebagai rujukan dan pengajaran pertama bagi anak-anaknya. Kita ingat lagi sabda Rasulullah,”Barangsiapa yang mengajak kepada kebaikan maka baginya pahala mengajar dan pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.” (HR. Muslim)
Subhanallah, kalau orang tua mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya maka dia mendapat pahala mengajar dan pahala bacaan anaknya tanpa mengurangi pahala bacaan anaknya.  Kalau anaknya mengajarkan kepada cucunya maka dia akan mendapatkan pahala bacaan anak dan cucunya tanpa mengurangi pahala bacaan mereka.Tahukah Anda, berapa pahala orang yang membaca Al-Qur’an? Di dalam hadits yang shohih disebutkan, setiap hurufnya diberi pahala sepuluh. Bayangkan bacaan, bismillahirrohmanirrohim (arabnya) saja sudah 19 huruf. Maka pahala yang didapatkan bagi yang membaca dengan ikhlas sebanyak 190 pahala. Subhanallah…alangkah beruntungnya orang tua yang mau meluangkan waktu untuk mengajarkan Al Qur’an kepada anaknya.
Selain berbekal Qur’an, tips apa lagi yang harus selalu dikedepankan tiap orangtua dalam proses mendidik anak?
Orangtua harus jadi contoh baik. Jangan terbiasa hanya perintah-perintah saja, tapi justru kita sendiri tidak jadi teladan untuk anak. Anak akan meneladani kita. Biasakan diri berbuat kebaikan di depan anak. Karena jika kita berbuat sebaliknya, maka anak kita akan melihat banyak hal-hal yang bertentangan dan tidak sesuai dengan nurani. Selain itu, sedari kecil, biasakan anak kita untuk selalu berdisiplin. Untuk melatih disiplin, buatkan tabel perbuatan baik yang harus diisi sendiri oleh anak kita. Misal, buatlah tabel sholat 5 waktu. Kemudian minta anak untuk memberikan tanda centang (√). Juga perbuatan baik lainnya, misal: sedekah, mengucapkan salam, bersikap sopan pada orang tua dan lain-lainnya.
Tabel ini bermanfaat optimal untuk pembentukan karakter anak kita?
Ya. Selain bisa mendidik jadi lebih disiplin dan komitmen untuk berbuat baik, insyaAllah kita juga melatih anak untuk berbuat jujur. Sebab, ketika dia mengisi sendiri, maka dia bertanggungjawab untuk memberikan data yang salah pada dirinya sendiri. Lalu, bikin kesepakatan antara orangtua dan anak. Jika tabel perbuatan baik ini sudah mencapai nilai tertentu, berikan reward pada anak kita. Tidak harus hadiah yang mahal. Bisa berupa mainan atau majalah yang dia suka. Saya juga kerap memberikan hadiah berupa ‘kalimat motivasi’ yang saya letakkan dalam sebuah kotak, lalu saya taruh di tempat tidur anak. Jadi, ketika bangun, Al-Hasan, anak saya bisa mendapatkan ‘surprise’ berupa ‘surat penuh cinta’ dari ayahnya.
Untuk lebih membangkitkan percaya diri pada anak, bagaimana caranya syeikh?
Puji anak kita di depan banyak orang. Inilah yang membuat anak-anak merasa bahwa kita sebagai orangtua telah menghargai perjuangannya. Tapi jangan puji dengan sesuatu hal yang sebenarnya tidak ia lakukan. Selain itu, saya berpesan kepada tiap orangtua, jangan pernah memberikan janji yang sulit untuk kita tepati. Meskipun janji itu terkesan ‘remeh’, tapi sekalinya kita ingkar, anak kita akan mencap orangtuanya tidak amanah. Janji-janji dari orangtua ini bisa menghancurkan jiwa anak kita.

Mulutmu, Wahai Ibu, adalah Doa Mujarab Bagi Anakmu

 

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

Ayang sholeh, ayangku yang taqwa…

Ayang taqwa, ganteng bijaksana…

Everybody is loving ganteng Sidqi

Coz mas Sidqi ganteng sholeh taqwa niki…

Tak intung-intang-intung-a’o…

Intung a’o… Ayangku yang sholeh…

ImageImage

Konon kabarnya, suara Ibunda adalah vokal paling merdu bagi bayinya. Dasar doyan karaoke, sayapun “uji nyali” dengan mengolah-vokal di hadapan bayi saya. Ya, sejak dia berusia beberapa hari, saya selalu menembangkan kalimat di atas dengan nada lagu Jawa “Tak lelo lelo ledhung.” Nada yang begitu easy-listening, dipadu suara yang lembut nan syahdu (haha, ngaku-ngaku!) Bayi saya pun bisa tertidur dengan sukses. Pulas. Alhamdulillah.

Lagu itu bukan hanya berperan sebagai lullaby. Lagu itu sudah menjadi (semacam) lagu kebangsaan alias Original Sound Track (OST) dalam kehidupan Sidqi. Saya menyematkan sejumlah doa dalam lagu itu. Anak sholeh. Yang taqwa. Ganteng. Bijaksana. Dan, disayang oleh semua orang.

Suatu dogma menghunjam dalam dada: bahwa ucapan Ibu adalah doa. Entah ucapan itu disampaikan secara iseng, sengaja, ataupun sungguh-sungguh, apalagi serius. Maka, janganlah sesekali lontarkan kalimat buruk, pada anak. Semarah apapun kita. Sejengkel atau se-emosi level berapapun. Jangan. Sekali lagi, jangan.

Karena bisa jadi, ketika kita tengah menyumpahi anak, tiba-tiba malaikat berkerumun di sekitar kita, dan ucapan ngawur kita tadi menjelma jadi nyata. Masya Allah… nyeselnya luar biasa!

Pernah suatu ketika, saya dibuat jengkel oleh kebiasaan anak saya yang suka ngempet (menahan) buang air kecil. Maklum, anak-anak. Saking asyiknya bermain, ia tetap fokus dengan acara mainnya dan ogah ke toilet. Seketika itu juga, saya langsung berkoar, ”Sidqi, kamu harus pipis sekarang! Kalau suka nahan pipis kayak gitu, nanti ‘burung’-mu bisa sakit dan harus disunat loh!!”

Maksud hati hanya me-warning Sidqi. Apa daya, Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari kemudian, Sidqi mengeluh sulit buang air kecil. Badannya panas. Segera saya bawa ke dokter. Dan, apa kata dokter, “Ibu, putra Ibu ini ada infeksi saluran kencing. Jalan keluarnya, harus dikhitan.”

Blaaarrrr…. Rasanya bagai tersambar petir! Wahai ibunda, mulutmu benar-benar harimaumu!

Sejak kejadian itu, saya berusaha keras untuk sangaaaat berhati-hati dalam menggunakan organ wicara. Selama ini, ceplas-ceplos sudah jadi trademark saya. Tapi, tentu, saya nggak ingin kejadian buruk lain terulang. Toh, dalam kondisi diliputi amarah-pun, mestinya saya tetap bisa berkata baik. Karena, apapun yang saya ucapkan sejatinya adalah doa buat anak.

“Sidqi…. Ayo, matikan TV sekarang! Kamu itu kan calon pemimpin dunia! Mosok pemimpin kerjaannya nonton TV melulu?” à marah sambil doakan anak

“Sidqi, berapa kali Ibu bilang, makan harus dihabiskan ya Nak. Kalau nasinya nggak habis, namanya mubadzir. Temennya setan. Kamu kan nantinya bakal jadi ulama besar. Jangan mau temenan sama setan!” à sebel, tapi tetap harus omong baik.

“Sidqi, kok main terus sih? Kapan belajarnya? Memang, sebagai calon pemimpin dunia, kamu harus banyak berteman. Ibu juga senang karena temanmu banyak. Tapi, tetep, kamu harus rajin belajar supaya bisa lebih pintar. Kan nanti tantangan bakal makin besar!” à mengingatkan anak, sambil tersenyum dan bicara yang bijak.

Pelan tapi pasti, saya bermetamorfosa. Bukan lagi ibu labil yang gemar meledak-ledak. Ibu sumbu pendek yang mudah tersulut amarah dan membabi-buta meluapkan kebencian. Bismillah. Saya yakin, dengan belajar dan bermohon terus menerus, Tuhan akan selalu membimbing hamba-Nya, dalam meniti sebuah perjalanan bernama “parentinghood” ini.

Apa sih, tujuan kita mencurahkan tenaga, waktu, kasih sayang dan harta buat “malaikat kecil” kita? Tentu, kita ingin ia tumbuh menjadi anak yang baik, mandiri, calon pemimpin yang hebat dan menghebatkan. Ketika anak tumbuh menjadi pribadi yang kuat-berkarakter dan membanggakan, maka itulah “surga dunia” kita. Indah rasanya melihat seluruh pergulatan dan sepak terjang kita berbuah manis. Ini baru di dunia. Coba bayangkan, ketika kita memiliki anak yang sholeh, bijaksana dan taqwa. Anak yang selalu menyelipkan doa untuk kita dalam tiap sholat dan ibadah-ibadahnya. Anak yang selalu ikhlas menyebut nama kita dalam setiap munajat pada Sang Pencipta. Subhanallah, itulah hidup yang “sempurna”. Dan, insyaAllah, pada akhirnya, kita bisa kembali bergandengan tangan dengan anak kita, plus keluarga kita, dalam surga abadi. Amin….. (*)

Kembali ke Fitrah dengan Berzakat

Sudah menjadi tabiat manusia berjiwa kikir bin medhit. Ini manusiawi dan amatlah lumrah. Karena Allah sendiri yang berfirman dalam Al-Qur’an, Surat Al-Ma’arij ayat 19-21 : “Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan dia menjadi kikir.”

Kikir. Pelit. Bakhil. Ogah berbagi pada sesama.

Kikir. Dan selalu mementingkan diri sendiri. Pada akhirnya, ini berimbas pada sikap egois. Nafsu serakah. Serasa dunia ini harus ada dalam kendali kita. Dan ketika kita makin berambisi untuk menaklukkan dunia, detik itu juga kita bertransformasi menjadi peminum air laut. Semakin diminum, semakin hauslah kita. Semakin kita diberikan peluang untuk mengecap nikmatnya dunia, detik itu pula kita tergoda untuk memiliki “dunia-dunia” lainnya.

Apakah ini anomali?

Tidak. Sama sekali tidak. Persis seperti yang saya singgung di atas. Sudah tabiat manusia untuk menjadi kikir. Tapi, apakah kita hanya berdiam diri dan justru mengakrabi sikap kikir yang sudah merasuk dalam jiwa? Apakah kita justru membiarkan berkubang dalam sikap egoism taraf dewa? Apakah kita membiarkan diri asyik-masyuk dalam gemerlap dunia, sementara saudara-saudara kita tengah merintih, menahan lapar, dan tak tahu harus mengadu ke mana?

Tidak.

Dan, di sinilah keindahan Islam bermuara.

Agama yang luar biasa indah ini, tidak hanya mengundang kita untuk hablum minAllah alias beribadah secara vertikal, dengan menyembah Sang Penggenggam Kehidupan. Islam juga menekankan pentingnya hablum minannas alias hubungan dengan sesama manusia. Kebaikan juga harus kita lakukan secara horizontal. Percuma saban hari pergi ke Masjid, umroh 10 kali, naik haji 5 kali, tapi sama sekali tak ada rasa peduli yang mengusik hati, manakala kita tahu tetangga kita tengah didera lapar tiada tara.

Inilah indahnya Islam.

Lebih-lebih kita diberikan kesempatan berlian (bukan hanya emas) untuk bisa bersua dengan bulan yang penuh gelimang rahmat: Bulan Ramadhan. SubhanAllah, Maha Suci Allah… Maha Besar Allah yang memberikan peluang bagi kita untuk “menjadi bayi lagi”. Sebagaimana sabda Rasul, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mewajibkan puasa Ramadhan. Barangsiapa berpuasa dan menegakkannya mengharapkan ridho Allah SWT, maka ia diampuni dosa-dosanya yang telah lampau, seperti bayi fitri (suci) yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Ahmad).

Ah, Ramadhan. Sungguh, kalau kita mengaku beriman, tentu Ramadhan adalah momen yang terlampau berharga, agar kita bisa meleburkan segala dosa. Kembali ke fitri. Berpuasa, memperbanyak amal kebaikan, dan tentu berempati dengan sesama.

Inilah yang terajarkan dalam Zakat Fitrah. Dengan 2,5 kilogram beras, kita dituntun Allah untuk menjadi pribadi yang suci dan tersucikan. Berbagilah beras atau makanan pokok itu. Berikan kepada mereka yang berhak untuk menerimanya. Distribusikan kepada kaum fakir dan miskin. Agar mereka yang papa bisa kenyang di Hari Raya. Agar mereka yang dhuafa sanggup tersenyum, lantaran kepedulian yang kita punya.

Karena itu, bayarkanlah! Singkirkan semua ketakutan, bahwa kehilangan 2,5 kilo beras tidak akan membuat kita jatuh miskin! Justru dengan menzakat fitrahi diri, maka kita murni bertransformasi menjadi “bayi yang suci”. Bayi yang baru saja terlahir dari rahim sang ibunda. Bayi yang rela mengeluarkan sebagian hartanya, demi memenuhi apa yang diperintahkan Sang Maha Sutradara Kehidupan.

Maha Suci Allah….

Maha Suci Allah, yang telah mengajarkan kita untuk berempati dan menjunjung solidaritas kepada fakir miskin. Maha Benar Allah, yang telah memberikan kita peluang untuk berzakat fitrah, membersihkan diri dan perilaku kita dari tindak-tanduk dan perilaku yang menyesatkan.

Berterima kasihlah pada Allah, yang menyediakan sarana untuk pembersih segala khilaf yang barangkali entah sengaja atau tidak, telah kita lakukan selama bulan puasa. Rasul bersabda, “Zakat Fitrah merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin.” (Hadits Hasan riwayat Abu Daud).

Alangkah komprehensifnya Islam!

Bahkan, Islam telah menyediakan “sarana penambal” apabila puasa kita tidak sempurna. Ini seperti yang dituturkan Waki’ bin Jarrah, “Manfaat zakat Fitrah untuk puasa seperti manfaat sujud sahwi untuk shalat. Kalau sujud sahwi melengkapi kekurangan dalam shalat, begitu juga zakat fitrah melengkapi kekurangan yang terjadi ketika puasa.”

Alhamdulillah… Alhamdulillah….

Bersyukurlah lantaran Allah telah memberikan begitu banyak kemuliaan dan kesempatan beramal bagi kita. Tunaikan zakat fitrah. Perbanyak sedekah. Hadirkan nama-Nya pada kalbumu, setiap waktu.

Lalu, kapan kita berzakat fitrah?

Memang, waktu paling utama untuk menyerahkan zakat fitrah adalah pagi hari sebelum kita tunaikan shalat Idul Fitri. Tapi ingat, zakat fitrah tidak sah, apabila kita baru tunaikan sesudah shalat Ied. Jadi, tak ada alasan untuk menunda-nunda. Tunaikan SEKARANG juga.

Inilah sabda Rasul, “Barang siapa yang membayar zakat fitrah sebelum shalat ied maka termasuk zakat fitrah yang diterima; dan barang siapa yang membayarnya sesudah shalat ied maka termasuk sedekah biasa (bukan lagi dianggap zakat fitrah).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasakan kebahagiaan itu….

Bahagia karena bisa peduli dan berbagi dengan sesama….

Bahagia karena Ramadhan telah menjadi “kawah candradimuka” yang meningkatkan level derajat ketaqwaan kita.

Bahagia karena kita menjadi pribadi baru, yang insyaAllah lebih optimis menatap dan menjalani hari. Yang siap bertempur mengarungi kehidupan dengan semangat Laa ilaaha illAllah… (*)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Percuma Baju Baru, tapi Hati (masih) Bau

Late Night Sale! Get Your Eid Fitri Costume! Discount Up to 70%

Promo Idul Fitri! Tampil Cantik dan Istimewa di Hari Raya. Kunjungi Counter Kami Sekarang Juga

Tampil Modis dengan Busana Muslim! Diskon Besar-Besaran!

Hebat! Luar biasa hebat!

Beginilah cara para pemasar mal dan toko fashion untuk mendongkrak omzet penjualan jelang Idul Fitri. Aneka sale dan program Gebyar Ramadhan plus Idul Fitri, seolah menggoda iman. Yang tadinya tak ada niat belanja, jadi window shopping dan pada akhirnya malah KALAP dan main borong baju satu toko.

Hebat! Sungguh marketing strategy yang brilian!

Dari tahun ke tahun, kita seolah terperangkap dalam tipu daya butik busana dan beragam department store. “Idul Fitri harus pakai baju baru.” Itulah premis yang selalu dijejalkan di otak kita. Suka-tidak suka, kita terhanyut, dan mencoba merancang logika sendiri, bahwa belum sah bila sholat Idul Fitri tanpa mengenakan baju baru.

Apalagi, dunia fashion muslim saat ini sedang berkiblat ke Indonesia. Ini membuat kita merasa “mati gaya” kalau tidak ikut tren. Dan pada akhirnya, lagi-lagi kita terjebak pada budaya konsumtif yang tak berkesudahan.

Tapi, Idul Fitri kan cuma sekali dalam setahun? Nggak ada salahnya dong, kalau kita beli baju baru?

Memang betul. Momen Idul Fitri tidak terjadi setiap hari. Tapi, coba dicek sekali lagi, betulkah Anda hanya membeli baju baru satu kali dalam setahun? Coba Anda periksa lemari. Berapa stok baju baru yang sama sekali belum pernah Anda pakai? Berapa baju yang masih ada bandrol harganya dan teronggok pasrah di wardrobe closet Anda?

Itu dia. Sebelum terjebak dalam kungkungan “sale” ; “diskon besar-besaran” ; “potong harga Ramadhan” dan istilah-istilah “komodifikasi Idul Fitri” lainnya, ayo kita buka kitab panduan hidup kita. “Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS. Al Isro’: 26-27)

Dilarang berboros-boros, masbro!

Rasulullah teladan kita pun tidak mewajibkan dirinya untuk pakai baju baru saban Idul Fitri. Yang terpenting, harus tampil bersih. Suci. Karena sekali lagi, harus kita ingat bahwa selama menjalani “kawah candradimuka” bernama Ramadhan, target kita adalah mensucikan hati. Supaya kita lahir menjadi insan yang suci. Laksana bayi yang baru lahir dari perut ibundanya.

Satu yang perlu selalu kita ingat: percuma baju baru, tapi hati (masih) bau.

PS: Saya sendiri sudah 7 tahun terakhir tidak membudayakan beli baju baru saban Lebaran. Bahkan, anak saya, Sidqi, memakai baju seragam sekolahnya ketika Lebaran tiba. Baju taqwa serba-putih berkopyah putih itu juga dipakai Sidqi saat menghadiri pernikahan saudara kami di Bojonegoro. Juga dipakai ketika foto studio bareng para sahabatnya. Dan dipakai ketika perpisahan kelas di TK. Well, saya memang mak irit ingin mengajarkan ‘Islamic financial planning’ padanya sedari kecil. Mumpung belum terlambat.

Image
Sidqi pakai kopiah putih, Lebaran tahun lalu
Image
Sidqi, masih berkostum putih-putih jelang akad nikah Saudara di Bojonegoro
Image
Sidqi and his friends saat foto studio
Image
Masih pakai baju yang sama di perpisahan TK Darussalam