Hajiku, Hajimu, Haji Kita

Disclaimer: Kalo yang ini, postingan masa kini. Udah 3 tahun sejak saya berhaji. Terlintas bikin postingan gegara ada tema “Haji” di Kompasiana. Ya sudah, saya posting di blog ini dah. Berhubung pengin komparasi dengan tulisan zaman dulu kala, sekaligus menjawab tags jeung cantik ini, kutulis dimari ahhh….

 

“Braaaakkkk…..”

Allahu Akbar, Ibuuuu…..ibuuu… ini gimana nih, Ibu….”

Astaghfirullah… Allah… Allah….”

Buru-buru saya berucap istighfar. Tak kuasa saya melihat “pemandangan ngeri” yang terjadi persis di depan saya. Seorang nenek-nenek bermukena lengkap, menaiki eskalator bareng bolo-bolonya. Semua serba lansia. Kalau lihat gaya bicara mereka, tampaknya, nenek-nenek sepuh ini berasal dari desa dan sama sekali tidak akrab dengan eskalator! Pantasss… Mereka kelihatan kemrungsung (panik dan ribet) ketika harus menapaki tangga berjalan. Pantas, satu dan yang lain kelihatan berusaha saling menguatkan, menyemangati agar bisa naik. Tapi, yang terjadi adalah…. Mukena salah satu dari mereka nyangkut, tergilas pijakan eskalator dan nenek tadi harus jatuh berguling-guling.

Untunglah, cukup banyak jamaah haji pria yang berada di sekitar kami. Setelah eskalator berhasil dihentikan, pak haji tadi langsung menolong nenek sepuh yang tak berdaya.

Yak, selamat datang di Masjidil Haram, Mekkah. Inilah momen terbesar dalam ibadah umat muslim sedunia. Berjubel manusia memadati bangunan suci ini. Masjid yang teramat sangat luas, penuh dengan beragam aksesoris hi-tech, sehingga kerap menjadi “jebakan betmen” buat para jamaah haji. Apalagi, yang berasal dari desa, dan minim pengalaman dengan teknologi.

Image

(bukan) jamaah ndeso lah yauw Heheheh

 Kalau mau berhaji, bukan hanya hati, jiwa dan iman yang harus dimantapkan. Duit, juga, hehe… Yang tak kalah penting, siapkan “mental” untuk menghadapi beragam hal di luar kebiasaan hidup kita.

Soal naik eskalator tadi, misalnya. Jauh-jauh bulan, ada baiknya CJH yang berasal dari desa diajak untuk jalan-jalan ke kota. Tujuannya? Ke mal! Ngapain? Coba naik-turun eskalator. Selain itu, biasakan diri untuk berakrab ria dengan kumpulan manusia dalam jumlah segabruk. Betul lho, kalau tidak terbiasa, lihat ribuan manusia bisa bikin sukses keliyengan!

Tahun 2010, Alhamdulillah saya memenuhi undangan Sang Penggenggam Kehidupan untuk beribadah ke Baitullah. Rasa haru yang meruap, rasanya sulit dipercaya, karena usia saya terbilang masih muda (untuk ukuran rata-rata jamaah haji Indonesia). Ya, saya berhaji di usia 29 tahun. Bersyukur lantaran usia muda ini memudahkan saya untuk melakoni sejumlah ibadah fisik. Bayangkan, SELURUH ritual dan aktivitas haji mensyaratkan fisik yang prima. Thowaf, kita harus memutari Ka’bah sebanyak 7 putaran. Lalu, sa’i, bolak-balik antara bukit Shofa-Marwah sebanyak 7 kali. Belum lagi berjibaku ketika antre bus. Ketika harus berjejalan di dalam Masjidil Haram. Ketika berjalan kaki dari pemondokan ke terminal. Macam-macam. Tak habis syukur saya karena undangan Allah yang begitu indah, sudah saya terima di usia 29 tahun.

Muncul pertanyaan, bagaimana saya bisa berhaji di usia semuda itu? Hmm, jawaban versi bijaknya: begitulah skenario Allah. Kadang, kita tidak pernah tahu dan tak bisa memprediksi jalan hidup kita. Kalau jawaban versi financial planning: Ya, boleh dibilang, berangkat haji adalah salah satu “tujuan finansial utama” saya. Apapun saya lakukan demi bisa berhaji. Saya rela ngirit-ngirit ongkos makan, asal ada duit yang bisa saya tabung di Rekening ONH. Saya sanggup tak beli baju modis, tak nonton film bioskop premiere, tak ikut gaul dan berhedon-ria dengan teman-teman. Mengapa? Karena saya meniadakan budget “having fun” dan mengalokasikan semua itu dalam rekening Haji. Alhamdulillah, duit tabungan sudah cukup. Plus, undangan Allah sudah tiba.  Sebuah harmoni nan indah. Lebih elok lagi, karena abang dan ibunda saya juga berhaji di tahun yang sama. Subhanallah, sungguh indah rencana Allah.

Demi Ngirit, Masak Sendiri

Masih membahas soal financial planning. Urusan hidup hemat harus berlanjut di tanah suci. Sebenarnya, negeri onta ini  tidak terlampau “mencekik” dalam urusan harga sembako. Ya, adalah harga-harga yang dikatrol, karena demand yang luar biasa meningkat. Kalau ketemu pedagang yang baik, insyaAllah kita nggak bangkrut-bangkrut amat-lah. Tapi, apabila Anda lagi apes, dan bersua pedagang yang ‘minta ditambah ajaran’ (istilah ini diperhalus dari ‘kurang ajar’) ya apa boleh buat. Saya pun pernah beradu mulut dengan si pedagang bahlul itu. Saya ngomel-ngomel pakai Bahasa Inggris, dia pakai Bahasa Arab. Nggak nyambungBiarin, yang penting puas, sudah bisa komplain ke dia. Hehe.

Nah, kami bertiga termasuk keluarga menengah yang tak tega bila harus menghamburkan duit. Untungnya, ibu saya termasuk perempuan dengan kecerdasan finansial yang sungguh patut diberi standing ovation. Dari tanah air, ibu membawa beragam properti dan bahan mentah, bumbu plus perintilan dapur lainnya. Mulai kompor listrik, rice-cooker mini, panci, wajan, teko, beras, kacang ijo, bahkan daun pandan! SubhanAllah banget kan?

Ternyata, strategi Ibu amat-sangat bisa menyelamatkan kantong dari “kepunahan penduduk”. Kalaupun beli di Arab, kami hanya belanja telor, sayur kangkung dan buah-buahan saja. Selebihnya, please welcome…. Chef Siti Fatimaaahh! Hehehhe….

Image

(mendadak) Chef Siti Fatimah (kanan)

 Lebih bersyukur lagi, karena lidah saya ternyata tak berjodoh dengan masakan Arab. Hampir semua masakan Arab diberi bumbu kapulaga, jinten yang rasanya justru (menurut saya) bikin eneg. Alhamdulillah, justru di Arab, saya merasakan bahwa masakan Ibunda adalah menu paling juara sedunia!

O iya, ibu saya juga menyiapkan stok bumbu pecel, abon, mie instan, ikan wader goreng, kripik usus, kripik belut, dan aneka snack yang bisa berfungsi sebagai teman makan nasi. Nggak ada judulnya kita bosan dengan sajian Ibu. Yang ada, teman-teman satu KBIH sibuk bersilaturrahim ke kamar kita. “Halo, Assalamualaikum, hari ini Chef Fatimah masak apa ya?”

Perbaiki Hati, demi Raih Haji Mabrur

Seolah tidak ada habisnya kalau harus mengulik memori ketika berhaji. Adaaaa saja yang mau diceritakan. Kenangan ketika wukuf di Arofah. Drama berebut bus Saptco gratisan. Pengalaman diusir asykar (petugas) Masjidil Haram karena ketahuan bawa kamera. Adu strategi simpan kamera poket di dalam kaos kaki, lantaran takut disita asykar di Masjid Nabawi. Macam-macam!

Image

Yang jauh lebih penting dari itu semua adalah, apa dan bagaimana upaya kita untuk meraih predikat Haji Mabrur. Karena rupiah yang kita gelontorkan, sungguh amat disayangkan bila tidak kita optimalkan untuk ibadah haji setulus hati. Memang, godaan kerap menghantam. Ujub (bangga pada diri sendiri) hanya karena sudah berhaji, adalah sebuah rasa yang harus kita enyahkan. Sekuat jiwa. Karena itu, sebelum berhaji, sesudah berhaji, dan setiap momen haji tiba, saya selalu baca untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq, sufi besar keturunan Rasul, yang saya cantumkan di akhir tulisan ini. Resapi dalam-dalam. Hayati, dan amalkan. Yang tahu mabrur-tidaknya ibadah hanya Allah. Tugas kita adalah melakukan upaya dan menguatkan hati agar tidak tergelincir dalam riya’ (pamer). Selepas itu, tak perlulah kita panik dengan embel-embel “Pak Haji” atau “Bu Hajjah” atau “Umi” dan sebagainya. Satu-satunya hal yang esensial, semoga Allah mengganjar kita dengan surga-Nya, sebagaimana sabda Rasul, “Haji mabrur itu tidak ada balasan lain, kecuali surga.” (HR Nasai dari Abu Hurairah).

Allahu Akbar. Indah nian… Dan, ingat-ingat juga sabda Rasulullah berikut, “Barang siapa berhaji di Baitullah, kemudian dia tidak berkata-kata kotor atau berbuat dosa, ia kembali dari haji seperti bayi yang baru dilahirkan oleh ibunya.” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Baiklah, di bawah ini saya untaian nasehat dari Ja’far Ash Shadiq:

Jika Engkau Berangkat Haji….

Kosongkanlah hatimu dari segala urusan dan hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah Swt.

Tinggalkan setiap penghalang dan serahkan urusanmu pada Penciptamu.

Bertawakkallah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu.

Berserahdirilah pada semua ketentuan-Nya, semua hukum-Nya, dan semua takdir-Nya.”

“Tinggalkan dunia, kesenangan dan seluruh makhluk.

Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk.

Janganlah bersandar pada bekal, kendaraan, sahabat, kekuatan, kemudaan, dan kekayaanmu.”

“Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi.

Bergaullah dengan baik.

Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan sunnah Rasul, yaitu berupa adab, kesabaran, kesyukuran, kasih sayang, kedermawanan, dan mendahulukan orang lain sepanjang waktu.

Bersihkan dosa-dosamu dengan air tobat yang ikhlas.”

“Pakailah pakaian kejujuran, kerendahan hati, dan kekhusyukan.

Berihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah.

Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan-Nya dengan ikhlas, suci, bersih dalam doa-doa kamu seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.”

“Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arasy, sebagaimana kamu bertawaf dengan jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina dan janganlah mengharapkan apapun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.”

“Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaharuilah perjanjianmu di depan Allah, dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerakusan ketika engkau menyembelih dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar Jamarat.”

“Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjidilharam. Berputarlah di sekitar Baitullah dengan sungguh-sungguh mengagungkan Pemiliknya dan menyadari kebesaran dan kekuasaan-Nya. Ber-istilam-lah kepada Hajar Aswad dengan penuh keridhaan atas ketentuan Allah dan kerendahan diri di hadapan kebesaran-Nya. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau melakukan tawaf perpisahan. Sucikan rohmu dan batinmu untuk menemui Dia, pada hari pertemuan dengan-Nya ketika kami berdiri di Safa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwa.”(*)

Advertisements

16 comments

  1. Pingback: Jadi “Monster” Pas Berhaji | bukanbocahbiasa
  2. Pingback: [Tags by Okke - Sepatu Merah] Posting Blog – Lain Dulu Lain Sekarang | bukanbocahbiasa
  3. Rinrin Irma · September 10, 2014

    naik haji bareng ibunda pastinya berasa aman dan tentram ya, mak… apalagi dimasakin hihihi… masakan ibu memang yang paling top dan pas di lidah

    saya juga pengen nih naik haji bareng orang tua…

    sejak kecil, kalau ditanya “apa cita-cita kamu?”, selain jadi polwan saya selalu jawab naik haji… cita-cita jadi polwan jelas tidak akan pernah tersampaikan…. naik haji, insha Allah…

    • bukanbocahbiasa · September 10, 2014

      Amiiin, amiiiin…. saling mendoakan ya mak…
      InsyaAllah doa2 para bunda di KEB dikabulkan oleh Allah, amiiin…

      Mak, btw, pic dirimu kok bisa ganti2 gini yak? Kapan hari yang jilbab item, sekarang jilbab merah. Yg di postingan sidqi vs dr oz, dikau pake corat/e bendera di wajah.
      Pegimane cara atur ganti2 profpic enih? *kepo maksimal*

      • Rinrin Irma · September 10, 2014

        ganti akun… kemaren pake google, sekarang pake fb. tapi yang dari fb koq bisa beda2 ya?

      • bukanbocahbiasa · September 10, 2014

        Naaa… itu dia. Sungguh potensial menerbitkan rasa kemal, kepo maksimal 🙂

  4. arifah wulansari · September 10, 2014

    hihihi..sengirit2nya aku sampe sekarang dananya masih blum cukup buat daftar haji mak..minta di doain sm bu haji aja deh biar bisa segera naik haji juga :DD

    • bukanbocahbiasa · September 10, 2014

      Aamiiin, aaamiiin, sama-sama berdoa mak.
      Doa seorang mukmin bagi saudaranya (apalagi kalo yang didoain itu enggak tahu) insyaAllah dikabulkan oleh Sang Maha Sutradara.

  5. momtraveler · September 10, 2014

    Ya Allah mbak, beruntungnya dirimu udah bisa haji di usia muda, sama ibu lagi huhuhu…. pengeennn 😦
    Mei kemarin aku umrah aja sueneng bangeett rasanya, ga kebayang kalo haji gimana. Doain segera menyusul ya mbak 🙂

    • bukanbocahbiasa · September 10, 2014

      Aamiiiin, aamiiiin, sama-sama saling mendoakan Mak Muna….
      InsyaAllah, doa kita diijabahi oleh Sang Pemilik Semesta, Aamiiin…

  6. cumilebay.com · September 11, 2014

    Kasihan banget nenek itu yaaa, kayaknya di manasik haji harus dikenalkan teknologi macam eskalator dll buat jamaah dari daerah biar kejadian itu ngak terulang #Sedih

    • bukanbocahbiasa · September 11, 2014

      Betul, betuuul…. jangan cuma diajarin doa2/ibadah ritual aja. Hal2 teknis dan yang terkesan “sepele” seperti ini juga kudu dipaparin ke calon jamaah.

      Makasih udah mampir yaa… *terharu* *dikunjungi seleblog cihuy*

  7. yantist · September 12, 2014

    Baca ini saya langsung bbm suami, ngajakin dia buat hemat dan ngirit biar bisa naik haji juga. Tapi kemudian sangsi sendiri… Apa bisa sy ga tergoda wiskul, nonton di bioskop… Huhuhu… Udah jadi gaya hidup. Tapi namanya juga pengorbanan ya mak… Harus ada yg dikorbankan dan diperjuangkan. Cemungudh… Doain sy ya Mak 😉

    • bukanbocahbiasa · September 12, 2014

      Soal bagaimana pengiritan yang saya lakukan demi berhaji, insyaAllah saya bahas di postingan terpisah ya mak.

      Makasih udah mampir 🙂

  8. Pingback: Berbagi itu Indah, bersama Bursa Sajadah – bukan bocah biasa
  9. Pingback: Buka Outlet Baru di Delta Surabaya Plaza, Chicking Indonesia Hadirkan Pengalaman Serasa Makan Olahan Ayam Khas Arab | bukan bocah biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s