Fiction, fiksi

[Fiction] BIMBANG (1)

Weheeeiii, saya posting cerita bersambung nih. Paling asyik baca cerita ini, sambil dengerin theme song “Mantan Terindah”. Yang versi Raissa aja. Lebih mantap. Happy reading!

B I M B A N G

Ada rasa yang tiba-tiba menyeruak. Datang tanpa diundang. Menjejali hati tanpa berucap permisi. Seolah ada buliran jelly nan kenyal, yang tengah berlompatan di ulu hati. Rasa itu… datang lagi. Setelah sekian lama aku mencoba mengebirinya. Setelah bertahun-tahun, aku berjuang ekstra keras untuk mengenyahkannya.

Assalamualaikum, Salma. Bagaimana kabar kamu?”

Kamu. Kamu yang membuat seluruh debar jantungku selalu berirama. Kamu. Yang selalu dengan hangat menyapa, menyajikan rentetan diksi yang mengiris sukma.

Waalaikumsalam. Baik. Aku… kabarku… baik. Seperti yang kamu lihat. Nggh, kamu?”

“Aku? Never better.”

Kamu mengulum senyum yang sama. Senyum yang masih kerap berkelibatan di memoriku. Senyum yang sanggup merontokkan pusaran badai, yang bertalu-talu di relung kalbu.

“Udah selesai sekolahnya?”

Alhamdulillah, Salma. Akhirnya! Perjuangan belajar di negeri orang! Pff! Aku bersyukur banget bisa lulus dari Oxford! Ini impian yang selalu aku pegang sejak di bangku SMP! And my dream comes true!”

raisa

Selalu seperti itu. Kamu, yang terbiasa menjawab pendek, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang demikian bersemangat. Antusias level akut, setiap kali topik pembicaraan menyerempet masalah pendidikan. Kamu, sedari dulu, tak pernah berubah. Manusia yang begitu kuat memegang ambisi untuk merebut tahta “Sang Juara”. Yang melecut diri sendiri untuk bisa menempuh bangku kuliah di Inggris. Yak. Oxford. Entah berapa kali kupingku ini mendengar kata “Oxford” “Oxford” dan “Oxford”. Dulunya, aku kira kamu sedang bicara soal opor. Oxford… opor… lalu aku, dengan innosensnya menanyaimu, “Lo, kamu mau kuliah di Opor? Opor ayam?” Sekonyong-konyong, kamu terbahak. Tertawa begitu ledak. Tak pernah kujumpai dirimu, si makhluk kutu buku dengan kacamata nan tebal, tertawa dengan gempita. Tapi, demi mendengar tanyaku yang demikian naifnya, kau menggempurku dengan olokan, ”Ya ampun…. kamu ini. Emang selama ini hidup di mana? Di gorong-gorong? Mosok nggak tahu Oxford University, perguruan tinggi favorit di Inggris sih? Makanya, jangan cuma nggosip soal Pangeran William dan Pangeran Harry. Kamu juga harus memperbanyak wawasan soal kampus-kampus top dunia dong!”

images

Aku tersenyum kecut. Tanpa diminta, kamu—yang masih kelas 2 SMP kala itu–nyerocos panjang kali lebar, soal sejarah Oxford. Tentang beragam fakultas yang ada di sana. Tentang ketatnya persaingan untuk menembus bangku kuliah. Tentang strategimu untuk mendapatkan beasiswa, agar kau bisa berkuliah di kampus mentereng itu.

Aku merasa tersihir. Tergiring oleh daya pikat matamu yang senantiasa berbinar. Manakala kau bicara soal ambisi sekolah, karir, langkah apa saja yang akan kamu tempuh agar kian cemerlang sebagai bintang. Aku merasa, detik itu juga, secuil hatiku pergi tanpa permisi. Ia hengkang. Ia terperdaya oleh sang maestro, mengikuti jejak hatimu, yang mungkin tak pernah sadar bahwa sedari dulu, ada pautan rasa yang sulit dijelaskan dengan kata.

***

“Nggak terasa ya. Kita sudah sama-sama dewasa sekarang.”

Aku menunduk malu, pantang bersitatap dengan matanya yang masih se-elang dulu. Lalu-lalang manusia memadati food court mal ini. Menyesal aku menuruti pintanya, untuk copy darat di tempat ini.

”Surabaya makin rame ya Salma?”

raisa jilbab

“Iya. Orangnya tambah banyak kan. Yang dulunya single, lalu menikah, punya anak. Jadi ya tambah rame.”

Kamu tergelak. Mirip dengan tawa belasan tahun lalu. Tapi, entahlah, di telingaku, tawa kamu kali ini terdengar begitu berwibawa. Dewasa. Ahh… apa iya, rasa itu masih tersimpan hingga sekarang, wahai Salma?

“Bener… bener banget, Salma. Setiap orang tentu beranjak dewasa ya, sama seperti kita. Umur udah 25-an, udah lulus kuliah. Siap kerja, siap punya anak… eitss.. menikah dulu kali yaaa… hehehe…”

Aku tersenyum lagi. Debar jantungku kian sulit dikendalikan.

“Memang sudah waktunya orang seumuran kita untuk menikah….”

Entah ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Lidahku terasa kelu.

“Nggh… iya kan? Kamu gimana Salma? Kapan mau nikah?”

***

Dua bulan lalu.

Ustadzah Tania, berkirim sms padaku. “Salma. Anti bulan depan sudah wisuda kan? Bagaimana, apakah bisa melanjutkan proses ta’aruf? InsyaAllah calon yang ini se-kufu dengan anti.”

Subhanallah. Jujur, kalau ditanya apakah aku siap melaju ke pelaminan, aku tidak tahu harus memilih jawaban yang mana. Usiaku saat ini menginjak angka 24. Duapuluh empat, angka yang sangat nanggung. Dibilang muda banget, juga nggak. Matang? Tua? Belum lah. Aku merasa, masih banyak hal yang bisa aku lakukan. Sembari kuliah, aku melakoni job sebagai social media strategist di sebuah merek clothing ternama. Aku, aktif di berbagai organisasi nirlaba, melayani masyarakat dhuafa. Aku menikmati itu semua. Aku merasa aku sangat berharga. Dan, apakah, jangan-jangan semua “keberadaanku” itu tercerabut, hanya karena aku memutuskan untuk me-ni-kah?

Menikah itu artinya aku harus membagi waktu dan konsentrasi untuk banyak hal. Untuk melayani suamiku. Untuk melayani mertua, ayah-ibu suamiku. Kalau aku punya anak? Wah, makin banyak hal yang harus aku pikirkan. Lalu, bagaimana jika, suamiku sama sekali tidak mendukung aku untuk beraktivitas di luar rumah? Bagaimana kalau suamiku adalah tipikal laki-laki yang menyuruhku hanya melakukan kegiatan domestik? Bagaimana kalau ia pencemburu akut? Tidak mengizinkan aku berinteraksi dengan lelaki manapun? Bagaimana kalau ia ternyata pelaku KDRT? Naudzubillahi min dzalik…

“Salma. Afwan, apakah bisa jika ta’aruf dilanjutkan pekan depan?” SMS kedua dari Ustadzah Tania. Aku bingung. Harus kujawab apa?

Afwan, ustadzah. Saya istikharah dulu saja ya. Nanti saya kabari lebih lanjut.”

“Baik, Salma. Saya tunggu. Syukron.”

raisa-siap2-nge-mc-di-masjidmsh-acara-anak2-jgmemperingati-1-muharram

***

Jujur saja. Waktu itu, aku berharap banyak pada kamu. Yang tengah menempuh studi di Oxford. Aku berharap, kamu segera pulang ke Indonesia. Lalu menemuiku dan keluarga besarku. Meminta restu untuk kemudian membina keluarga nan bahagia. Sayangnya, tak sekalipun, kamu berkirim kabar. Hatiku mendadak layu. Aku disengat patah hati yang cukup parah. Tapi, aku percaya, Rasa sakit hati itu indah. Setidaknya patah hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Hanya batu atau kerikil yang tidak sakit hati.**

Maka, kuputuskan untuk menerima saran Ustadzah Tania. Kujalani ta’aruf dengan seorang ikhwan, alumnus Teknik Elektro, yang sedang merintis kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sama sekali kami tak diizinkan untuk berkhalwat alias berdua-duaan. Para murabbi yang memfasilitasi kami. Hingga, pada satu titik, Allah menggerakkan hatiku, untuk menerima khitbah dari tukang insinyur teknik elektro itu.

***

“Aku sudah dilamar, Arya.”

Kamu tersedak. Terbatuk-batuk hingga membuat pipimu memerah.

“Oh…oh… gitu. Oh, baguslah.”

Aku berusaha meredam gejolak hati yang pecah berkeping-keping. Ada serpihan sendu, mengapa tidak dari dulu, Arya? Mengapa baru sekarang?

“Kapan nikahnya?”

“InsyaAllah, dua bulan lagi. Kami masih urus masalah administrasi.”

“Oh. Siapa… calon.. nggh… su-ami kamu…?”

“Raditya. Aku kenal dari komunitas kajian.”

“Oh. Dijodohkan?”

“Kami berproses, Arya. Ta’aruf.”

“Kamu… kamu… yakin dengan dia? Maksudku, kamu yakin, bahwa kamu akan bahagia bila menikah dengan dia?”

Pertanyaan yang tak perlu dijawab. Aku benci jenis pertanyaan model ini, yang menuntutku untuk gegayaan menerawang masa depan. Hei, aku bukan dukun apalagi paranormal! Siapa yang bisa menjamin kehidupan kita di masa mendatang?

“Hanya Allah yang tahu.”

“Kamu, mantap menikah dengan dia?”

“InsyaAllah. Arya, aku minta maaf. Hari ini kita bersilaturahim sebagai dua kawan yang lama tak bertemu. Sekaligus, aku mengabarkan bahwa sebentar lagi aku akan jadi istri seseorang. Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi diri kita, yakinilah itu. Terima kasih sudah mengizinkan aku menjadi teman kamu. Saya pamit dulu….”

“Salma, kita belum selesai bicara…”

“Maaf Arya. Aku, masih banyak hal yang harus aku lakukan. Assalamualaikum…”

Aku bergegas lari dari hadapanmu. Ya Allah… kenapa ini? Apa ini ujian yang harus hamba hadapi, ketika pernikahan sudah ada di depan mata? Kenapa Arya hadir di saat-saat seperti ini? Ketika hamba memutuskan untuk serius dan dikhitbah oleh Raditya?

Aku berjalan cepat. Berpacu melawan bulir-bulir air, yang tiba-tiba bersemayam di kelopak mata. (bersambung)

Foot note:

anti  = kamu (perempuan)

Afwan = maaf

Syukron = terima kasih

** kutipan dari Tere Liye

Advertisements

10 thoughts on “[Fiction] BIMBANG (1)”

  1. Hakhakhak… Iya mak, nama “Salma” ini terinspirasi dirimu… Sepertinya dikau (zaman perawan dulu) banyak yang naksir kan mak, hihihi #eaaa

    Endingnya?
    Hmm, masih bingung sih. Pilih Arya? Atau Raditya?

    Happy ending itu relatif lah ya. Ma’acih udah mampir ya mak.

    1. Jadi yaaa… seolah2 si Salma ini wajahnya mirip Raisa tapi pake jilbab gitu deh…
      Iyaa… kasus2 seperti ini banyak lah yaa… Dan sepertinya, emang rentan bikin menggalau… heheheh….

      Ma’acih Dani udah mampir (juga) dimari.
      Eh, btw, dikau ikutan GA Mbak Joeyz langsung juara kan? Kayaknya dikau rejekian deh, kalo ikut GA.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s