Mau Ikutan Seleksi Google Connect Live 2019 dan Terbang Gratis ke Amrik? Ini Tipsnya!

follow me on twitter: @nurulrahma

Apa Saja yang Harus Disiapkan untuk Ikut Seleksi Google Connect Live 2019?

Haihaihai.

Setelah beredar di sejumlah offline event dan melakoni ‘bukan trip biasa’ alias Umroh, Alhamdulillah…. Sekarang aku berkesempatan buat ngeblog lagi, yeaaayyy!

Tadinya mau cerita tentang aneka kejadian abrakadabra weleh-weleh selama Umroh. Tapi, oh well, kenapa banyaaaaaak DM yg masuk ke Instagram, ataupun email dan WA yang hampir semuanya menanyakan topik serupa: “Kak, aku pengin ikutan Google Connect Live 2019. Gimana caranya buat terpilih (seperti Kak Nurul Rahma) ya?”

Oke. Sebelumnya aku mau kasih disclaimer dulu (hobi banget cyiiin kasih disclaimer 😛 ) Memang, tahun 2017, Allah menakdirkan aku buat ikutan Google Local Guides Summit di San Francisco, California, Amrik… tapiiii (menurutku) bukan berarti aku ‘pegang banget’ kunci dan trik untuk bisa kepilih. Artinya, ada banyaaak faktor yang bermain di takdir itu. Salah satunya, ya karena emang takdir Allah. Plus bisa dibilang, ada unsur luck juga.

Karena itu, ketika menuliskan postingan ini aku juga nggak mau dianggap sebagai role model yang sesungguhnya (apadeh). Beberapa rekan blogger bolak/i japri konsultasi ke aku dan pokoke melakukan apapun yang aku sarankan. Tapi ternyata mba dan mas blogger itu belum terpilih.

Ada lagi, satu blogger yang juga meng-ATM-isasi tips yang aku jlentrehkan. (ATM = Amati, Tiru, Modifikasi). Dan ternyataaaa, doi kepilih!! Bangga banget dong. Tapi, setelah ngurus visa Amerika (apply DUA KALI, booo!) ternyata rezeki cuss ke Amrik belum cair. Ya sudah, mau gimana lagi.

***

Nah, karena “gatel” dapat segabruk DM soal Google Connect Live (GCL), baiklah Kakak mulai sesi penjlentrehan kali ini yak.

First thing first, pastikan kalian yang mau apply BISA dan PAHAM berbahasa Inggris secara AKTIF baik LISAN maupun TULISAN.

Ini pentiiiing banget. Karena gini, nanti peserta GCL itu kan datang dari kurang lebih 60 negara. Tiap orang pasti kudu berkomunikasi kan? Sejak ngurus visa pun, kita juga bakal dituntut untuk gape berbahasa Inggris. Aneka form yang kudu diisi, trus wawancara ama petugas native di KonJen ataupun Kedubes Amrik, itu semua pake Bahasa Inggris, darling.

Pas naik pesawat juga gitu. Di dalam burung besi yang akan terbang lintas benua kurang lebih selama DUA PULUH JAM itu (yeah, 20 jam bosquuuuu!) kita akan dilayani oleh cabin crew yang hampir semuanya ngga bisa bahasa Indonesia.

Mau nyari toilet? Gihh, nanya pake Bahasa Inggris! Kelaparan dan butuh welas asih cabin crew buat ngasih cemilan? Ya ngomong-nya juga kudu berbahasa Inggris. SEMUA, literally semua hal yang kita lakukan harus tersampaikan in English.

Tapi Kak….. aku pengin banget ke Amrik, walaupun Bahasa Inggrisku gruthal grathul….

I’m not the judge ya, jadi aku juga tak berhak melarang kalian buat apply. Saranku, kalau emang masih mau mencoba ikutan seleksi GCL, ya belajarlah Bahasa Inggris secara intens mulai sekarang! Embuh piye carane…. Kalian masih punya waktu sampai November 2019 untuk bisa mastering English 😀

***

Selanjutnya, sebagian dari kalian tentu udah terima email dari Google kan? Kalimatnya memang rada ambigu. Judulnya super PHP 😀

 Anda bisa menghadiri acara akbar tahun ini di California

Tapiii… trust me, itu BUKAN undangan yang menyatakan kalau kalian OTOMATIS BERHAK cuss ke Amrik 😀 Melainkan itu ajakan untuk ikutan seleksi. Jangan GR dulu ya cyyyn hihihi.

Lalu, piye caranya apply Mbak?

 

Ya langsung aja klik: DAFTAR SEKARANG.

Di situ akan mengarahkan teman-teman untuk menuju web-nya:

https://maps.google.com/localguides/event/connectlive

Baca syarat-syaratnya dengan detail dan jeli. Jangan sampai ada yang terlewat yak.

*** 

Tapi Kak…. Itu syaratnya pakai Bahasa Inggris, aku ngga paham…

Loalaaah, perasaan tadi udah aku sampaikan deh, kalo First thing first, kalian yang mau coba apply/ ikutan acara ini PASTIKAN bisa berbahasa Inggris secara aktif. La kalo baca syarat-ketentuannya aja udah bingung, ya sepertinya…. sorry to say….. event ini memang BUKAN untuk kalian  

Sekali lagi, aku bukannya mau menghempaskan harapan atau gimana gimana ya. Tapi get real aja-lah… buat memahami syarat ketentuan aja engga bisa, ya pegimana nanti bakal survive selama event berlangsung?

Sekali lagi BACA syaratnya dengan detail. Jangan sampai ada satu kata yang terlewat. Kalau masih belum mudeng, buka kamus atau Google translate deh 😀

***

Begitu udah nangkep apa aja yang disyaratkan sebagai aplikasi (lamaran untuk join GCL), yuk pantengin beberapa tips berikut (tentu saja disajikan dalam Bahasa Inggris):

Cara Bikin Post/Thread di LG Connect:

https://www.localguidesconnect.com/t5/Help-Desk/How-do-I-write-a-post-on-Connect/ba-p/1047644

Cara Bikin Postingan untuk GCL 2019:

https://www.localguidesconnect.com/t5/General-Discussion/How-to-write-a-great-post-for-Connect-Live-2019/m-p/1297539#M292823

Cara Bikin Video Aplikasi untuk GCL 2019:

https://www.localguidesconnect.com/t5/General-Discussion/9-tips-for-creating-your-Connect-Live-2019-application-video/td-p/1308029

Cara Bikin List (tentang Resto atau Destinasi):

https://www.localguidesconnect.com/t5/General-Discussion/How-to-make-great-restaurant-lists-on-Google-Maps/m-p/605959#M146940

***

Segini dulu ya tips yang bisa aku sampaikan. Sekali lagi, jangan malas buat riset, tentang apapun! Riset cara bikin essay ataupun video yang uhuuui. Riset tentang cara bikin visa Amrik. Riset tentang baju apa yang cocok dipakai untuk cuaca di San Jose California.

Siapkan semua yang diminta oleh panitia. Plus….. jangan lupa buat berdoa! Semangaaaaaattt 😀 😀

 

Advertisements

Sembuhkan Luka di California

Disclaimer: Ini adalah journal penuh ke-baper-an yang saya goreskan pasca mengikuti Google Local Guides Summit di Amerika, Oktober 2017 lalu. Silakan dibaca, sembari memutar tembang “Mengunci Ingatan” by BaraSuara atau Kunto Aji 😀 

***

Cuaca di San Francisco memang sukar ditebak. Terkadang dingin menusuk sumsum. Tapi, tidak jarang, matahari bersinar dengan garangnya. Kali ini, saya kudu menyerah pada hawa dingin yang menerpa kulit. Menyesal rasanya pakai baju biru casual ini.

Kenapa musti kuabaikan saran dari Ivan? Yap, local guides asli Jakarta, yang sudah 15 tahun berdomisili di SF ini bilang, ”Layer is the key!” itu prinsip yang harus selalu dijalankan manakala beredar di kawasan California. Karena ya itu tadi, cuaca amat sulit ditebak. Yang awalnya kelihatan hangat… eh, bisa mendadak dingin brrrrr…!

“Duh, nyesel aku… nyesel banget…!”

Aku menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. Berharap kehangatan bisa muncul dari sana. Plus, disambi menggosok-gosokkan kedua telapak tangan. Nihil. Tak ada hasil.

IMG_0655

Photo Google-14

Beberapa local guides dari negara lain melemparkan senyum. Kami belum kenal sebelumnya, tapi wajah-wajah yang super excited itu, menyadarkan saya bahwa…..

Heiiii… this is my once-in-a-lifetime experience!

Lupakan soal jaket, prinsip ‘layer is the key!’ yadda yadda blablabla itu! Lupakan hawa dingin yang terus menerabas masuk!

Just seize the day… enjoy your moment! Jangan focus pada kesalahan yang engkau lakukan pagi ini! Fokuslah selalu pada apa yang bisa kau perbuat supaya momen berharga ini tidak lenyap plassss begitu saja!

Chill, girl! Santaaaaaiiii!

***

Karakter dan personality saya laksana cuaca di SF: amat sukar ditebak. Saya sendiri—sebagai sosok yang dititipi roh, jiwa raga oleh Sang Maha Kuasa—juga kerap terjerembab dalam pertanyaan “Are you okay, dear nurulrahma?” Apalagi kalo lagi PMS. Wadaaawww, kadang saya nggak kenal dengan jiwa yang bersemayam di tubuh ini.

“Who are you?”

 

Sama seperti keputusan ‘bodoh’ di mana saya tidak mengenakan jaket/ outer ketika jalan-jalan di SF. Dalam hidup, banyaaaaak banget keputusan bodoh, konyol, aneh, yang saya lakukan. BANYAAAAK BANGET! Dan herannya, saya tuh impulsive abis. Bisa banget mengambil keputusan seketika, saat itu juga, dengan semena-mena.

Kemudian…. Yang muncul adalah…. Penyesalan…. Dan merutuki diri sendiri. What have you done anyway?

***

Terkadang, orang-orang di sekitar menilai saya baik-baik saja. Sama halnya ketika ibunda saya pada akhirnya berpulang. Ketika para pentakziah datang, saya memasang wajah, “I’m okay… saya ikhlas….” Tak perlu ada air mata yang mengalir di hadapan mereka. Saya tahan sekuat tenaga. Namun… sepekan… dua pekan kemudian…..

Tanggul air mata itu jebol juga.

Saya merutuki diri sendiri. Sebenarnya, gelagat tidak beres sudah muncul berbulan-bulan lalu. Ketika ibu mendadak malas makan. Ketika batuk ibu tak kunjung sembuh. Ketika ibu begitu sering berbicara tentang kematian.

KENAPA SAYA TIDAK PEKA?

Kenapa saya selalu merasa bahwa ibu adalah super-lady, strong woman, yang sigap dan siap sedia menghalau semua cobaan dan rintangan dalam hidup? Kenapa saya membiarkan ibu bertarung dengan problema hidup yang datang bertubi-tubi? Apa gunanya keberadaan saya sebagai anak beliau? Kenapa saya tidak suportif? Mana kontribusi saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi. Termasuk, pertanyaan konyol yang tak perlu dijawab, ”Andaikata waktu itu saya nggak salah bawa Ibu ke RS yang pertama, mungkin nyawa Ibu masih bisa diselamatkan….Kenapa waktu itu saya justru bawa Ibu ke sana ya?”

Astaghfirullah…..

***

Sulit rasanya untuk memaafkan diri sendiri. Amat sulit. Saya mencoba untuk mengembargo diri, tidak terlibat dan berinteraksi dengan aneka forum kajian dekat rumah. Mengapa? Saya takut berjumpa dengan sahabat-sahabat Ibu. Di relung hati yang paling dalam, saya merasa…. tatapan mereka seolah “menyalahkan” saya. Anak yang nggak bisa mempersembahkan hal terbaik bagi Ibunda.

Setiap ada momen keislaman di masjid dekat rumah, saya sengaja datang terlambat. Supaya apa? Agar dapat posisi di shaf paling belakang, dan saya tidak perlu memasang wajah manis penuh senyum ulala di depan para sahabat ibu.

***

“So… how? You still feel it’s too cold here?”

“Hmmm… not really… I’m okay now.”

 

Saya memasang wajah “Aku baik-baik saja”. Yeah, terkadang kita bisa sedemikian santun pada totally-stranger-person, dan justru bersikap semau-gue pada orang yang demikian besar jasa dan pengaruhnya untuk hidup kita.

Kami menyusuri kawasan Fisherman’s Wharf ini… Menjumpai singa laut yang heboh berteriak, seolah memancing atensi para wisatawan. Dari kejauhan bisa kami saksikan Alcatraz, yap… penjara yang demikian legendaris itu.

Dari Marin Headlands

Dari Marin Headlands

“Banyak tahanan kriminal paling sadis yang dipenjara di Alcatraz. Mereka mencoba melarikan diri, dengan renang di sepanjang laut SF. Tapi tahu sendiri kan… cuacanya dingin banget seperti ini. Tahanan yang berusaha kabur itu, kebanyakan udah nggak jelas nasibnya. Kemungkinan besar, meninggal kedinginan ketika berusaha renang  di sini…”

Aku manggut-manggut mendengar penjelasan Karen, local guides moderator yang khatam banget seputar destinasi di SF.

Kabur dari penjara yang begitu menyeramkan.

Lalu berenang mengarungi samudera, dengan suhu yang minus.

Heiiii…! Mereka para criminal kelas wahid!

Dengan catatan keburukan yang begitu dahsyatnya, para tahanan itu sanggup memaafkan diri sendiri. Untuk kemudian, berusaha keras agar bisa lepas dari jerat penjara yang mengerikan. Barangkali, prinsip hidup mereka, lebih baik aku bertarung melawan dinginnya samudera… tidak masalah apabila nantinya aku hanya tinggal nama… tapi paling tidak, aku sudah berjuang untuk keluar dari penjara yang tidak manusiawi ini… dan aku memberikan bukti, bahwa sebagai manusia, aku memaafkan diri sendiri.

***

Maka…..

Ditingkahi sepoi angin teluk San Francisco…. Saya memejamkan mata, seraya bergumam pelan…..

”Dear @nurulrahma… All is well….. Bersikap adillah pada dirimu…. Semua orang punya porsi salah dan dosa masing-masing…. Banyak hal yang terjadi di dunia ini, di luar kuasa dan kehendak kita, karena heiii…. siapa kita? Kita hanyalah makhluk lemah, sebutir atom di galaksi nan demikian perkasa… Kita hanyalah debu… dibandingkan segenap kekuasaan Sang Pemilik Semesta…. Maka…. Maafkan dirimu… Maafkan…. Just let everything happens…. Embrace your life and be thankful…”

IMG_0871

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Begini Caraku Tunjukkan Cinta pada Ibunda

Tanah kubur Ibuku sudah mulai mengering. Matahari Surabaya sepertinya sedang garang-garangnya. Kuusap peluh yang mulai membanjir. Jilbab abu-abu kesayangan Ibu, yang kini kukenakan, mulai tampak noktah keringat di sana sini.

Ibu berpulang setahun lalu. Sudah 365 hari aku tak lagi punya Ibu. Tapi aku masih ingat setiap detil rasa sakit yang Ibu rasa di hari-hari terakhir beliau. Memori itu masih tersimpan di laci ingatan, tatkala Ibu harus berperang melawan nyeri, yang sekonyong-konyong hadir di rongga paru-paru beliau. Ibu kesakitan. Tapi dalam sakitnya, tak sekalipun ia mengeluh, ataupun menyalahkan takdir Sang Maha.

Baca: Surat untuk Ibu

Ibu memegangi dada beliau, yang ditusuk gelombang sakit akibat kanker yang terus merajam, beranak-pinak dan out of control. Ia tidak mengeluh. Ia tidak bertanya, “Ya Allah.. Apa salah saya? Kenapa harus saya?”

Ibu hanya bergumam pelan… “Laaa Ilaaha Illa Anta…. Subhanaka Inni Kuntu Minadzolimin…”

Continue reading