Gimana Kelola THR Anak?

Bau-bau Lebaran udah kecium. Hawa-hawa Idul Fitri udah terasa sampe ke sini. Gimana kabar shaf Masjid? Maju tak gentar kan? Kalo barisan manusia yang thowaf di mall? Biyuuuuh…..Makin membludak! Tumpah ruah. Hihihi.

Yang menggembirakan adalah, beberapa teman saya menjalani i’tikaf di Masjid. Utamanya yang para cowok. Ahhh, asyik banget itu. Meneladani Rasul. Karena Rasul di 10 hari terakhir juga ber-i’tikaf alias mendekatkan diri pada Sang Penguasa Semesta di Masjid. Bisa tadarus, pelajari tafsir, sholat sunnah, pokoke kita jadi punya kesempatan untuk mengenyahkan urusan dunia sejenak, dan lebih mempersiapkan diri untuk kampung akherat.

Ada ‘amin’ saudara-saudara? 🙂

Errr… saya mau cerita apa sih sebenarnya, kok jadi lupa. ^^garuk-garuk^^. Hahaha.

Gini lo, saban musim Lebaran tiba, kita kan biasanya unjung-unjung ya. Bisa ke tetangga, saudara, kolega, kemana-mana deh. Naaah, kalo bawa bocil, biasanya niiih, ada tuan rumah yang bagi-bagiin angpau ke anak kita. Itu juga yang dialami Sidqi. PANEN RAYA banget mah, doi kalo Lebaran tiba 🙂 Ada yang ngasih sangu mulai dari 20K, 50K, yang di atas 100K juga ada. Kalo ditotal jendral, ternyata mayaaaan banget loh 🙂

Lalu, apa yang dia lakukan dengan duit-duit THR ntuh?

Sebagaimana bocil-bocil pada umumnya, sudah pasti Sidqi mupeng belanja mainan baru ya kan?

Apalagi kalo ngeliat dunia Toys masa kini, ya ampuuuun, lucuk lucuk banget yak. Orang dewasa aja masih sering tergugah untuk shopping aneka die cast, action figure dll-nya itu. Apalagi, anak-anak?

Kalo ini "mainan" Sidqi pas udah kuliah nanti ya naaak :)
Kalo ini “mainan” Sidqi pas udah kuliah nanti ya naaak 🙂

Lantas… Apakah saya meloloskan SEMUA permintaan Sidqi?

Hmm. Belum tentu 🙂 ^^mulai keluar tanduk^^ Sebagai financial planner ala-ala, saya musti sigap memberikan kuliah “How to Spend Your Money wisely”

Pertama, Sidqi kudu ngecek dulu. Mainan di rumah apa kabar? Segitu buanyaaaaaknya. Mosok mau nambah lagi? Mau simpen dimana?

Kedua, oke, kalo Sidqi memang mau membuang stok mainan lama (atau mainan yang masih oke dikasih ke anak-anak yang biasanya main ke rumah kami) bagaimana pengaturan penyimpanan mainan nantinya?

Ketiga, coba ditelaah lagi. Apakah beli mainan ini bener-bener KEBUTUHAN atau sekedar KEINGINAN?

Keempat, apakah mainan ini memberikan dampak positif untuk kepribadian dan karakter Sidqi? Kan banyak tuh, mainan yang justru menjerumuskan bocah-bocah.

Kelima, setelah punya mainan baru, apakah Sidqi siap berkomitmen untuk sholat lima waktu sehari semalam tepat waktu? Makan mandi dan nyiapin baju sendiri? Ngaji setiap hari? Apa prestasi personal yang Sidqi canangkan, dengan kehadiran mainan baru?

Keenam, yakin mau dialokasikan untuk mainan? Enggak mau buat wisata kuliner ajah? –> ini mah emaknya yang modus. Minta ditraktir 😛

***

Pokoke segabruk pertanyaan saya sodorkan buat Sidqi. Saya nggak mau lah, doi langsung “terbuai” dengan duit panas kayak THR dan aneka sangu-sangu macam gitu. Justru, dengan adanya momen kayak gini, bisa menjadi sarana belajar anak untuk bisa lebih bijak dalam mengelola keuangan, dalam skala paling sederhana sekalipun.

Daaan, jangan lupa…. Tunaikan kewajiban dan berbagi terhadap sesama! Ini yang paling penting. Pokoke, selain memberi kesempatan anak buat “membahagiakan” diri sendiri, momen kayak gini sekaligus kesempatan kita buat ngajarin “Giving, Giving and Giving.”

By the way, anyway, busway…. begimana THR-nya??? Udah caiiirrr kaaah? 🙂

Aduh, aduh, aduh! Ternyata, Snack Favoritku itu…..

Siapa sih yang enggak suka camilan?

Kalau adzan berkumandang, saya langsung buka puasa dengan minum air hangat secukupnya plus kurma (kalo stoknya lagi ada). Habis gitu, saya langsung cari snack alias makanan kering 

Soale, kalau langsung makan berat (nasi dan bolo2nya itu) kadang2 perut saya suka sebah. Kaget get get get 🙂

Salah satu snack yang saya suka pake banget adalah Pr**gl*s –> udah lumayan nyamarin belum yak?

Intinya, ini adalah sejenis keripik kentang yang crispyyyy banget. Dikemas dalam wadah yang ramping memanjang. Ada rasa cheese, seaweed, ada yang spicy jugak.

Untuk harga, normalnya dibandrol 19 ribuan. Nah, kapan hari ada promo di Giant, tiap beli Pr**gl*s harganya diskon jadi 9.900 saja! Dasar emak-emak kan… Impulsif banget ngeborong ntuh jajan. Langsung saya ambil 4 pax. Rasa cheese dan seaweed.

Crisp…crisp… kriuk… kriuk…. Rasanya itu gurih tapi enggak keasinan. Pas banget gitu lo. Pokoke, nih snack lumayan jadi favorit saya dan Sidqi. Sampe rebutan dah kita saban ada Pr**gl*s

Hingga akhirnyaaaa……

Saya baca dari beberapa blog dan website terpercaya, bahwa nih Pr**gl*s ngeluarin produk yang ada rasa bacon! WHAT??? Omaigad, omaigad, omaigad. Bacon itu kaaaan?? B4B1 hiks.

Dengan lemas tak berdaya karena menghadapi kenyataan pahit ini, saya kuatkan mental untuk menatap kaleng kemasan Pr**gl*s . Saya berupaya sekuat tenaga untuk mencari dan menemukan logo HALAL di kemasan produk ini. Satu kali saya cermati….. tidak ada. Dua kali…. saya pelototi habis-habisan….masih tidak ada. Tiga kali…. ahhh, mungkin di bagian tutupnya… dan ternyata, tidak ada.

***cryyyyyy****

Ya ampyuuuun, ternyata produk ini! Jadi selama ini??? Astaghfirullah.

Kenapa saya bisa se-silap ini sih? Seceroboh ini, dalam memilih makanan yang kami konsumsi sekeluarga? Duh, duh. Pantas. Pantas saja, ada sesuatu yang kerontang di lubuk hati. Ternyata, saya telah memilih makanan yang HARAM.

“Siapapun yang tubuhnya tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih layak membakarnya.” (H.R. Ath-Thabrani).

Astaghfirullah….

Saya memang belum dapat konfirmasi dari Pr**gl*s . Tapi, kalau coba searching di google (dan tentu saja, saya mengandalkan situs-situs yang kredibel) besar kemungkinan bahwa produk ini syubhat cenderung haram.

Katakanlah mereka berkilah tidak ada unsur B4B1 di taste keju dan lain-lain. Tapi, tetap saja, mereka memproduksi yang rasa bacon kan? Dan, lebih ironis lagi, karena mereka membranding “Ramadhan Mubarak” di produk rasa bacon, walopun pada akhirnya produk2 itu ditarik dari pasaran.

Masya Allah.

Makin ke sini, kita memang kudu banget hati-hati dalam memilah dan memilih makanan. Ada yang serba palsu. Ada yang haram terselubung. Jangan-jangan, bakso yang selama ini kita beli di abang-abang, belum tentu berasal dari daging sapi?

Haram atau Halal?  Sulit mendeteksinya :(
Haram atau Halal?
Sulit mendeteksinya 😦

Who knows? Kecurigaan harus terus kita kedepankan, walopun ya nggak sampe parno juga sih.

Yang saya herankan adalah, biasanya kalo di supermarket/hipermarket ada kan rak yang khusus memajang produk ber-B4B1. Kenapa untuk snack satu ini enggak ditempatin di sana ya? Malah, di Superindo kapan hari saya liat, Pr**gl*s bercokol di daerah sekitar kasir, yang mana rentan banget diambil orang secara impulsif, manakala mau bayar belanjaan.

Saya berlindung kepada Sang Penguasa Semesta, agar diberi kehati-hatian dan enggak ngawur ketika belanja. Perempuan emang cenderung “emosional” tatkala shopping. Kadang, kita shopping gegara ada diskon. Atau, kita ambil ini-itu, tanpa memperhatikan dengan seksama apakah ada label halal atau tidak. Justru saya malah lebih “bawel” ngeliatin tanggal kadaluarsa. Sementara, label halal beberapa kali malah terabaikan. Hiks. Hiks.

Berlindung kepada Allah, agar dosa-dosa memakan barang haram ini terampuni. Sungguh, apalah arti makhluk sebutir debu ini, kalau doa-doa tertolak lantaran barang haram yang sudah masuk lambung dan jadi daging.

“Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam  menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya acak-acakan, dan badannya lusuh penuh debu. Sambil menengadahkan tangan ke langit ia berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia selalu bergelut dan dikenyangkan dengan yang haram. (Maka Nabi saw pun menegaskan), lantas bagaimana mungkin ia akan dikabulkan doanya.” (HR. Imam Muslim). Hadis Arba’in An-Nawawi No. 10

Ini Ramadhan, kawan. Saatnya kita lebih berhati-hati dalam memilih bahan pangan. Cukup saya korbannya. Jangan sampai ini menimpa Anda. (*)

Ternyata Aku Baru Tahu kalau…..

…… Merawat orang tua yang mulai sepuh banget itu, sama sekali tidak mudah 🙂

Sama sekali tidak gampang.

Jadi, begini. Ibu mertua saya, Sabtu lalu harus opname di salah satu RS Surabaya. Hasil lab plus diagnosa dokter menyebutkan, beliau sakit liver dan gejala DB, karena trombositnya ngedrop terus.

Mertua saya kan anaknya ada 4. Laki-laki semua. The thing is, tidak ada satupun yang berdomisili di Surabaya. Anak pertama, di Jakarta. Anak kedua (suami saya), kerja di Madiun. Anak ketiga di Bandung. Anak keempat mengais ringgit di Malaysia. Perfecto :))

Walhasil, ketika nginep, Ibu mertua bawa pakaian secukupnya (bener-bener minimalis) dengan diantar adik kandung beliau, yang Alhamdulillah domisili di Sidoarjo, ada mobil dan bisa nyetir.

Suami saya baru datang ke Surabaya jam 20:30, dan langsung cus ke RS, untuk nungguin ibu mertua.

Yang jadi tantangan berikutnya adalaaah…. Siapa yang nemenin bapak mertua di rumah? Sekedar info aja. Bapak mertua saya ini, usianya 76 tahun, sempat sakit stroke, dan saat ini untuk berjalan harus dibantu dengan tongkat. Kemana-mana kudu pakai kursi roda. Tangan kanannya nyaris tak bisa digerakkan. Sometimes, berbicara suliiiit banget. Tapii, karena doi di masa mudanya lumayan powerfull, ada semacam “sisa-sisa egoisme masa muda” yang masih terpampang nyata di profil beliau.

Ini nih, yang PR banget hahaha. Ketika suami saya nungguin ibu mertua di RS, maka saya kudu ngejagain Bapak mertua di rumah.

Lebaran tahun 2012
Lebaran tahun 2012

Kenapa kok Bapak mertua nggak sekalian ikut nginep di RS saja? 

Sempat ada wacana semacam itu. Tapi, ternyata bapak mertua kalau kudu pipis di toilet RS, air seninya sama sekali enggak bisa keluar. Apa yaaa, mungkin karena beliau kudu adaptasi, dan (mungkin) sulit bagi kaum sepuh untuk langsung “connect” dengan lokasi baru, kali ya?

Ya wis. Akhirnya, saya dan Sidqi kudu nemenin bapak mertua TANPA ibu mertua. Yang terjadi adalah……

1. Bapak mertua saya itu pada dasarnya emang hobi ngobrol. Nyaris, 5 menit sekali, eh… nggak, 3 menit sekali… beliau menanyakan pertanyaan yang sama, BERULANG-ULANG. Misalnya: “Ibu itu sebenarnya sakit apa? Kenapa bisa begitu? Kapan Ibu pulang dari RS?” wis pokoknya diulang-ulang terus menerus. Berapa kali? Ratusan 🙂

2. Ibu mertua saya tipe istri teladan nan shalihaat gitu deh. Pokoke paket komplit. Wajahnya kece, tinggi semampai, santun, priyayi, jago masak, jago jahit, jago dandan, pandai membawa diri, intinya she’s like a Queen!! ((apakabar gueeeh, mantunyaaa???))

Awal-awal jadi menantu beliau, terus terang saya agak “terintimidasi” sih hahaha. Tapi, lama-lama ya sutralaaaah, capek bo, kalo kudu “berkompetisi” (in a positive way) sama beliau.

Nah, karena ibu mertua tipikal “almost perfect” lady inilah, bapak mertua saya serasa kayak “anak ayam kehilangan induknya” gitu. Beneran. Bolak/i memunculkan opsi untuk ikut nginep di RS, tapi kan rem to the pong ya boook. Rempong! Wong buat pipis aja syusyeeeh. Ditawarin leyeh2 di kasur penunggu juga kagak mau.

Jadi, saban njenguk ibu mertua, yang terjadi adalah DRAMA, sodara-sodara.

Bapak mertua nangis. Merasa ibu mertua sakit, gegara doi.

Lalu ibu mertua (masih dengan style beliau yang sooo elegan! Heran deh eikeh, ibu mertua gue biar sakit, teteeuuup kece) bilang gini, “Bapak jangan nangis. Kalo Bapak nangis, nanti aku ikut nangis. Nggak sembuh-sembuh. Malah sakit kabeh.”

Trus, Bapak mertua minta kursi rodanya dideketin ama kasur ibu mertua.

Hihihiiii… so sweet banget yak, mertua akuuu?

***

Yaaaa gitu deh. Pada intinya, postingan ini semi curcol ajah. Bahwa, merawat orangtua itu butuh kesabaran yang luar biasa. No wonder, ada yang bilang, orang tua itu di masa usia lanjut akan kembali seperti bayi. Nanya bolak-balik. Persis kayak anak bayi/balita kan?

“Itu apa, Ibu? Kenapa bisa begitu? Kenapa enggak begini?” wisss, gitu terus. Makanya, aku juga bilang ke Sidqi. Kalo kakung mulai bolak/i nanya, jangan bosan. Karena dulu, pas Sidqi bayi juga kayak gitu.

Selama merawat orang tua, kita juga kudu banget menekan ego. Pokoke nggak boleh ngerasa bener dewe.

Kayak tadi pagi, pas sahur, bapak mertua udah keukeuh sumekeh mau ikut puasa. Gubraaak. Aku bilang, “Enggak usah, kung. Nanti malah sakit, bakal repot….”

Eh, beliau dengan pedenya menjawab, “Gapapa. Ga bakal repot.”

“Iya, kakung nggak repot. Yang njagain ini yang repot.”

Slepeeeettt. Duh. Nista sekali ucapan terakhir barusan. Hiks. Kentara kalau aku belum ikhlas merawat orangtua. Hiks. Hiks. Maapkan menantumu ini ya, Bapak….

Eniwei, mungkin jelang 10 hari terakhir Ramadhan ini, saya nggak bisa maksimalin ibadah vertikal. Tarawih saya bolong. Tadarus? Pelajari tafsir? Sholat wajib jamaah ke Masjid? Wedeeew, angkat tangan dah. Tapi, insyaAllah, moga-moga, Allah bisa suntikkan semangat merawat Bapak-Ibu mertua. Semoga, keberadaan saya, se-minimal apapun itu, ada manfaatnya, bagi mereka.

Selamat Ramadhan, kawan.

Rayakan Ramadhan-mu. Mumpung masih ada kesempatan 🙂

Bisakah Tiket Konser Maroon 5 Dikonversi Jadi Sedekah ?

Your sugar

Yes, please

Won’t you come and put it down on me?

I’m right here, ’cause I need

Little love, a little sympathy

(SUGAR, by Maroon 5)

Siapa suka lagu SUGAR ini? Weeew, sayaaaa…!! Saya…..!!

Lagunya easy listening, enak buat goyang dan segerrr banget. Ditunjang video klipnya yang sumpeeeh…kece beraaats! Di lagu ini, Kangmas Adam Levine ^^haissshh^^ dan bolo pleknya jadi surprise guest star di beberapa resepsi pesta kawinan! Cuss langsung ke youtube kalo penasaran yak.

Eits, ngapain sih, tetiba saya ngomongin Maroon 5?

Tahu sendiri dong. Band ini kan udah dijadwalin perform di Indonesia, tanggal 23 September 2015. Para penggemar Maroon 5 udah pada beli tiketnya. Konon, dari data yang dirilis si promotor Live Nation Indonesia, tiket sebanyak DUA BELAS RIBU biji udah SOLD OUT ajah gitu loooh! Wiksss…!

Yakin deh, para fansnya Kang Adam Jordan Levine ini pengin jejingkrakan plus poto2 narsis pake lensa super wide.

Ya iyalaaah, yang namanya konser dengan 12 ribu penonton, kita kudu menyiapkan amunisi HP yang oye dipadu segala aksesoris yang paripurna kan?

Daaaan, ternyata oh ternyata, dalam akun twitternya, Maroon 5 menyatakan konser yang bakal digelar di BSD City itu DIBATALKAN, sodara-sodara. Hiksss banget yak? Eniwei, alasan yang dipake adalah, karena konser itu diselenggarakan pada malam takbiran jelang Idul Adha. Jadi, tim Maroon 5 pengin menghormati Hari Raya umat Islam itu.

Untitled

Wohoooo… tentu, saya angkat topi dengan pilihan yang diambil Maroon 5. Walopun, kita enggak tahu persis alasan yang sebenarnya apa, tapi ya sutralaaah, anggap aja mereka benar-benar tulus menghormati Idul Adha.

Eh, btw, berapa sih, harga tiket untuk nonton konser ini?

Tiket dibagi dalam empat kategori, yaitu Tribun Rp900 ribu, Festival 2 Rp1 juta, Festival 1 Rp1,3 juta dan VIP A&B Rp2,5 juta. Omaygaaat, itu duit semua yak? ^^MencobaMengaisRecehdiDompet^^

Well, kadang, manusia tuh lucu ya. Untuk urusan duniawi semacam ini, kita asik-asik aja ngeluarin duit 2 juta-an. Berapa jam sih, nonton konser Maroon 5? Nggak sampe sehari semalam kan? Dan, duit udah dadah bubbye gitu ajah.

Tapi, masalah beramal?

Hmmm, ini sentilan buat diri saya pribadi. Kalau mau kulineran, rasanya saya enggak eman-eman tuh, ngeluarin duit sampe 100 ribu sekali makan. Tapii, manakala ada mbak-mbak dari Panti Asuhan yang kredibel, mengajukan peluang berburu tiket surga, saya kok rasanya beraaaaat gitu, untuk sekedar merelakan hengkangnya selembar 50 ribu dari dompet.

Ini saya aja yang ngalamin, atau udah jadi common things yak? ^^caritemen^^

Eniwei, ini lagi bulan Ramadhan, my men…. Yang namanya pahala, dilipatgandakan. Jika amal kebaikan kita analogikan seperti investasi, maka di bulan ini, tingkat return-nya amat sangat WOW. Menakjubkan bingits.

So, ayo deh, kita tekan tombol “pause” sejenak untuk urusan dunia. Coba kita kontemplasi, seberapa seriuskah amal-amal kebaikan yang kita lakukan di bulan Ramadhan? Berapa kali kita bersedekah, either ke Masjid, kasih buka puasa, sedekah sahur, ke yayasan sosial yang kredibel? Sudah sampai mana ngaji kita? Apakah hafalan Qur’an bertambah? Apakah kita rajin dan istiqomah sholat ke Masjid, dan mengajak keluarga kita untuk bersama-sama merayakan Ramadhan? Apakah, perilaku kita jauh lebih tertata, lebih bijak, enggak gampang ‘meledak’ laksana mercon bantingan? ^^omaygaaat, kalimat terakhir ini, sooo me bangeeet *cry*

Karena menjanjikan pahala melimpah ruah, Ramadhan menjadi bulan yang amat spesial. Karena itu, saya mau urun saran ke pihak promotor yang menangani refund tiket.

Ketimbang rempong ngurusin refund tiket, alangkah baiknya kalau para calon penonton itu, diberikan opsi menarik: “Apakah uang yang sudah dibayarkan untuk beli tiket, bersedia dikonversi jadi sedekah, melalui lembaga/yayasan yang profesional, kredibel dan terpercaya?”

Banyaaaak kan, lembaga macem DD, RZ, NH, dan macem-macemnya itu. Naaah, nanti, konsumen cukup memilih lembaga mana yang jadi sarana penyaluran sedekahnya. Yaaa, mirip-mirip dengan program sedekah uang kembalian di minimarket itu deh. Bedanya, duit ini, duit “gedhe” yang memang butuh keikhlasan luar biasa untuk menyalurkan ke masyarakat dhuafa.

Dengan terbitnya tulisan ini, saya menantang diri sendiri untuk melakukan hal yang sama. Sedekah dalam jumlah yang lumayan melimpah. Jangan cuma sedekah di angka receh. Toh, yang kita butuhkan adalah keyakinan bahwa sedekah adalah sarana untuk lebih meraih cinta Allah. Sedekah adalah sebuah langkah jitu, sebagai terapi jiwa agar iman semakin melekat dalam dada.

Haqqul yaqin, Ramadhan adalah momentum yang sangat tepat. Kalau kita berhasil menaklukkan rasa “eman-eman”, maka “iman” kita insyaAllah akan meningkat tajam. Kangmas Adam Levine juga siap berdendang untuk kita:

Yeah, you show me good loving

Make it alright

Need a little sweetness in my life

Your sugar

Yes, please

Won’t you come and put it down on me?(*)