Tiba-Tiba Aku Begitu Takut pada Kematian….

Tiba-Tiba Aku Begitu Takut pada Kematian….

Tiba-tiba aku menjadi khawatir bila sang Malaikat Maut mencabut nyawaku saat ini juga. Aku panik. Tak biasanya aku seperti ini. Selama ini, aku begitu ‘akrab’ dengan aroma kematian. Ayahku sudah meninggal sejak aku duduk di kelas 4 SD. Pas jadi reporter SCTV, berita tersangka didor polisi adalah ‘makanan sehari-hari’ bagiku.
Buatku, sesi kematian adalah adalah lonceng penanda berakhirnya momen perjalanan hidup di kawah dunia nan fana. Mati adalah sebuah katalisator menuju alam yang baru. Namun, hari ini, aku begitu takut pada kematian…..

***

Namanya Dwi Hartanti.
Manis, diimbuhi lesung pipi yang tak mau hengkang dari wajah ayunya. Dia adalah PELAJAR TELADAN TINGKAT NASIONAL (SMP) TAHUN 1995. Sengaja font-nya aku besarkan, karena aku begitu mengagumi dia…

Dulu, zaman SMP, aku sering banget diminta ngisi biodata ke diary temen-temen.
Nah, di kolom IDOLA: aku nyaris tak pernah absen menuliskan 3 (tiga) nama: Nabi Muhammad, ibuku, dan Dwi Hartanti.

Dwi Hartanti adalah idolaku. Idola yang sangat egaliter. Ia sepantaran denganku. Saat itu, ia berstatus siswi SMPN 1 Sby, dan aku SMPN 17 Sby. Kami berkenalan dalam sebuah kompetisi Pelajar Teladan. Menyaksikan makhluk semanis Dwi, aku merasa bahwa dalam lomba ini, aku tidak mungkin akan keluar sebagai jawara. Nyaliku ciut, aku kalah sebelum berperang demi bertemu dengan gadis semenarik dia.

Teladan. Dia memang layak menyandang predikat itu. Betapa kombinasi otak encer serta aura gaul yang positif dan fleksibel Tuhan sematkan padanya. Tak pernah aku melihat Dwi berkeluh, dia selalu mengerjakan SEMUANYA dengan sungguh-sungguh.

Cantik, baik, inspiring, nice… Kami kian akrab ketika sama-sama bergumul di dunia jurnalistik, di Kropel (Klub Reporter) Pelajar Surabaya Post. Lalu, Dwi masuk ke Fakultas Kedokteran UNAIR, dan aku terdaftar sebagai mahasiswi di Teknik Informatika ITS. Ternyata sahabatku di ITS adalah sahabat Dwi ketika di SMAN 5 Sby… Dan, kami kian akrab… Anak-anak pinter bin gaul yang semuanya adalah sahabat Dwi, kini menjadi temenku juga…

***

Tak henti-hentinya aku mengidolakan seorang Dwi Hartanti. Bahkan ketika ia memilih Amak Mohammad Yakoub – temen kami di Jawa Pos- sebagai pendamping hidupnya. Amak, di benak Dwi, adalah sosok yang membuat dia merasa ‘nyaman’… dan itu sudah lebih dari cukup sebagai syarat mutlak menjadi ‘soulmate’ dalam irama kehidupan Dwi… Lalu lahirlah ‘malaikat kecil’ dalam kehidupan mereka. Namanya Mika. Keluarga yang sempurna. Indah, penuh berkah…. Kudengar Dwi sedang mengambil program dokter spesialis di Univ. Indonesia Jakarta, lalu Amak menjadi dosen di School of Business Management di ITB Bandung. Cantik, cerdas, baik, menarik, antusias, brilian… sebutkan apapun sifat positif manusia, dan Dwi Hartanti punya itu semua…

***

Hingga 2 (dua) hari lalu–ketika aku sedang di Tulungagung, jenguk nenek suamiku yang lagi sakit keras– berita duka itu menerobos masuk. Dwi Hartanti berpulang. Komplikasi penyakit yang ia derita, membuat idolaku itu harus menyerah pada sang maut. Dwi berpulang diiringi kesedihan yang menyayat dari seluruh rekannya… Dwi yang cantik… Sang dokter ayu nan bersahaja, yang banyak teman… selalu open-minded… dadaku serasa tersayat….

***

Jangan-jangan giliranku sebentar lagi???
Jangan-jangan sang malaikat maut sedang mensurvey siapa lagi makhluk Allah yang segera berakhir jatah kontrak hidupnya???

Lalu,akan seperti apakah, jika jiwa telah berpisah dengan ragaku?
Apakah teman-teman, sanak saudaraku akan berduka?
Ataukah mereka justru bersyukur, karena 1 (satu) makhluk menyebalkan telah hengkang dari muka bumi?

Bagaimana aku nanti akan dikenang?
Apakah aku hanya akan berakhir di batu nisan, dan that’s it, itu aja? Atau, orang akan mengenangku sebagai ibu yang tak bertanggungjawab, pekerja sosial yang berjiwa kapitalis, oportunis, si lidah tajam yang bangga dengan label ‘Ratu Tega’? Oh, ya Allah…. ternyata aku harus banyak berbenah…. Tiba-tiba aku sangat takut dengan kematian…. Ternyata aku belum siap… Totally belum siap….

**Obituari untuk Dwi Hartanti, kuyakin ALLAH akan menyambutmu dengan Taman Surga-Nya yang terindah**
Dwi Hartanti dan 'malaikat kecil'nya, MikaDwi Hartanti dan ‘malaikat kecil’nya, MikaDwi Hartanti & Amak Yaqoub, a happy couple...Dwi Hartanti & Amak Yaqoub, a happy couple…

Tulisan ini saya publish di FB, beberapa hari setelah kabar duka itu datang. Versi asli dan komen para FB-ers bisa dilihat di sini

[Fiction] : Bimbang (part 2)

Cerita sebelumnya: Arya, sahabat masa kecil yang begitu cerdas, tiba-tiba hadir dalam kehidupan Salma. Padahal, Salma sudah di-khitbah oleh Raditya. Apa yang akan dilakukan Salma? Siapa yang terpilih menjadi pendamping hidupnya?

Life’s like a multiple choice question, sometimes the choices confuse you, not the question itself.

Aku tersenyum kecut. Quote yang berseliweran di timeline twitter ini hak jleb banget. Sangat menohok. Apalagi, kalau dikaitkan dengan kondisi hatiku saat ini. Ahaaii, wahai hati, hati yang begitu rapuh, apa kabar kamu hari ini?

“Menikah itu mudah. Asalkan dilandasi niat untuk beribadah, sebagai wujud penghambaan pada Allah, dan niat berdakwah, maka Allah akan mempermudah itu semua. Allah yang akan memilihkan pasangan terbaik untuk hamba-Nya yang taat dan bertaqwa.” Masih kuingat tausiyah Ustadzah Tania tempo hari. Ya. Aku sepakat dengan kalimat yang ia gulirkan. Menikah itu, bagi beberapa orang, memang mudah. Mendapatkan jodoh, bagi beberapa orang, memang tampak seperti, yaaa… seperti sedang memilih baju yang akan dipakai hari ini. Gampil. Simpel. Banget. Dan, di mata beberapa orang, apa yang aku alami, memang terlihat sederhana. Sangat menyenangkan, membahagiakan, sekaligus inspiratif.

Subhanallah… Jadi, anti sudah dilamar Raditya? Barakallah, semoga semuanya lancar yaa…”

Anti memang cocok dengan Radit. Kalian berdua insya Allah bisa jadi pasangan dakwah yang saling menguatkan…”

Begitulah. Nyaris sulit menemukan teman yang tak setuju atas perjodohan—ups, ta’aruf—kami. Semua sepakat bahwa aku dan Radit adalah “dua jiwa yang ditakdirkan untuk bersatu”.

Sampai…. sampai ketika Arya datang. Keberadaan dia memporakporandakan sebongkah hati yang begitu lemah. Tiba-tiba, fragmen kebersamaan aku dan dia, terputar di benak. Aku bisa saksikan kepingan kenangan yang terajut. Ketika kami sedang jalan-jalan di toko alat elektronik. Dan, aku memegang sebuah “harta karun” bernama flashdisk.

“Arya! Lihat ini!”

“Apaan? Ya ampun, cuma flashdisk? Kenapa sampai histeris sih?”

“Inii… kayaknya aku harus punya ini deh. Aku bisa simpan file-file tulisan yang aku tulis di lab komputer sekolah, trus nanti aku bisa kirimkan email cerpen-cerpenku dari warnet. Iiih, keren banget kan?”

“Ya udah. Beli aja gih. Gitu aja heboh amat.”

“Iiih, Arya! Komentar yang lebih asik dikit, napa? Berapa nih yaa… harganyaa… E yaampuuun, 200 ribu dong?! Giling!”

Laki-laki si remaja tanggung di sebelahku itu tersenyum sinis. ”Napa? Beli aja! Katanya mau nge-save cerpen pake itu?”

“Iyaaa… tapiii, mihiiil banget, Arya…. Hiks…”

“Ya, kamu nabung dulu aja.”

Duh. Hatiku perih, demi merelakan sebuah fakta, bahwa saat itu aku tak bisa membawa pulang flashdisk idaman. Tapi, Tuhan rupanya tak mengizinkan aku berlama-lama berkubang dalam perih. Karena, di ulang tahunku, ada hamba-Nya yang datang, mengirimkan sebuah kado mungil, berbungkus kertas sampul cokelat, persis seperti yang dipakai anak SD untuk menyampuli buku tulisnya.

Aku ngikik. “Ndeso banget sih bungkusnya? Pasti isinya nggak kalah ndeso. Mi Anak Mas? Atau, cokelat Superman? Atau, jangan-jangan… telor cicak, hahahah…”

Arya merengut sebal. “Komennya entar aja, kalo kamu udah buka bungkusnya.”

“Oke. Aku buka sekarang yaa…”

Mataku terbelalak. Hatiku? Apalagi. Meleleh. “Aryaa… ini kan mahal….”

“Gapapa. Aku udah planning sejak lama. Kamu memang butuh barang itu. Supaya cerpen-cerpenmu bisa dimuat di banyak majalah. Dan, impianmu untuk jadi penulis kondang bisa segera kamu raih. Mulai sekarang, kamu kudu lebih rajin nulis yaaa…”

So sweet… Manusia satu ini, memang sulit sekali dienyahkan dari memori. Sikapnya memang kadang nyinyir. Acapkali jutek. Tapi, itu tak menghalangi kelembutan plus perhatian yang bercokol di hatinya. Aku menggenggam flashdisk itu erat-erat. Seperti aku menggenggam sebuah rasa, yang entah sampai kapan aku pendam dalam dada.

***

Itulah. Terkadang, apa yang nampak di permukaan tak melulu sesuai dengan isi hati. Raditya memang baik. Tak perlu ragu soal itu. Tapi, apa iya, Raditya si manusia baik itu memang benar-benar jodoh yang tepat untuk aku? Ayah-ibuku begitu bersemangat ketika Raditya dan keluarga besarnya serius meng-khitbah. Terlebih, ia dengan begitu tangkasnya, menirukan ucapan Bilal Bin Rabbah, tatkala meminang shalihaat idamannya. “Jika Bapak-Ibu menerima pinangan kami, maka segala puji bagi Allah. Jika Bapak-Ibu tidak menerima, maka Allah adalah Tuhan Yang Maha Besar….”

Melting. Hati kami semua langsung meleleh, detik itu juga. Untuk beberapa saat, aku dihampiri sebuah eureka, “This is it! Ini dia imamku!” Aku mantap dipilih dan memilih dia. Aku mantap bersanding dengan tukang insinyur elektro ini. Rasa mantap itu kuperoleh dari sholat istikharah, tahajud dan beragam ibadah sunnah lainnya. Seperti yang disarankan Ustadzah Tania.

Namun, ketika rasa mantap itu sudah tampak begitu membulat, rupanya ada letupan rasa lain, yang menyeruak tanpa permisi. Apa yang harus aku lakukan? Waktu berjalan begitu cepat. Aku hanya punya waktu dua bulan untuk memutuskan, siapakah yang aku pilih? Aku menghormati Raditya. Aku respek dan salut pada dia. Tapi, Arya? Arya adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan efek butterfly in my stomach. Bersama Arya, hidupku semakin hidup. Arya, dia satu-satunya orang yang bisa menggoreskan pelangi di langit hidup nan kelam.

Tapi, sangat tidak adil, kalau kemudian aku meninggalkan Raditya begitu saja. Aku harus bicara pada dia. Harus.

“Assalamualaikum, halo, ini dengan akhi Raditya?”

“Waalaikumsalam, iya ukhti. Bagaimana? Oh, tunggu sebentar yaa… Ada teman yang lagi manggil-manggil aku, sebentar yaa… teleponnya jangan ditutup dulu… Wooiii… ada apa?? Ntar, bentar lagi aku beresin network-nya…! Tunggu bentar nih, nanggung… calon istriku lagi nelpon….!”

Calon istri.

Raditya berkata pada teman-temannya, bahwa sang “calon istri” tengah menelepon, dan minta untuk tidak diganggu sejenak. Calon istri. Kupingku tidak salah dengar. Calon istri.

“Iya, Salma. Ada apa ya?”

Aku membisu. Hanya buliran air yang menetes pelan. Lalu menggenangi kedua bola mataku. Tegakah aku? Tegakah aku mengatakan kondisi hati yang sebenarnya pada pria baik yang menyebutku sebagai “calon istri”?

***

Ini kesempatan terakhir, untuk menunjukkan bahwa aku tengah dilanda bimbang. Raditya harus tahu. Kami bertemu di sebuah cafe sederhana. Berkali-kali kuaduk milk shake yang sudah nggak jelas teksturnya.

”Nggak tahu kenapa, aku merasa, aku belum siap untuk berlanjut ke pelaminan, dengan kamu…”

“Karena… ada…. Arya?!” suara Raditya terdengar sedikit serak. Mungkin, hatinya tengah berpacu, melawan amarah yang siap tumpah.

“Maafkan aku… Aku tak tahu harus berbuat apa…”

Raditya menghembuskan nafas. “Ukhti Salma. Saya mengapresiasi kejujuran yang ukhti sampaikan. Memang berat, karena bila saya ada di posisi ukhti, barangkali saya juga dilanda kebimbangan yang sama. Untuk kasus kita ini, ada baiknya kita kembali pada pedoman yang disampaikan Rasul. Seorang mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Maka tidak halal bagi seorang mukmin membeli barang yang telah dibeli saudaranya, dan mengkhitbah wanita yang sudah dikhitbah saudaranya, hingga laki-laki itu meninggalkannya (HR Muslim). Dalam hal ini, ukhti Salma memang sudah saya khitbah. Keluarga besar juga sudah menentukan tanggal akad nikah. Jadi, ketika saya belum membatalkan khitbah, maka Arya tidak boleh mengkhitbah anti. Kecuali jika…..”

Napasku tercekat. Astaghfirullah… aku sudah menyakiti laki-laki baik ini….

“Kecuali jika, saya membatalkan khitbah itu….”

Astaghfirullahal ‘adzim… Salma… What the h*ll are you doing?

“Apakah itu yang anti inginkan?”

Masya Allah… Lagi-lagi, sebuah tonjokan keras, yang langsung mengenai ulu hati. Benarkah? Benarkah ini yang kamu inginkan, wahai jiwa yang cengeng, manja dan tak tahu diri? Puaskah engkau menyaksikan kemelut rasa yang tergambar di wajah Raditya? Antara sedih, terpukul, shock, dan berupaya tegar. Begitukah? (bersambung)

#TGIM : Nitip Doa

Udah hari Seniiin…. yayyy!! *pura-pura hepi* *pencitraan*

Happiness is made, not given. Itu slogan yang terpampang nyata di blog saya. Makanya, saban Senin, saya yang bertanggungjawab untuk membuat Senin terasa bahagia. Hehhee…

Oke, kali ini, cerita soal beberapa bos di kantor yang naik haji. Kalau para stafnya? Alhamdulillah, naik gaji 🙂 *ngimpi*

Tahun ini, salah satu bos saya yang masih muda bingits, naik haji ama istrinya. Saya nitip doa. Doanya saya kirim by email. Isinya? Hmmm, rahasiaaa 🙂

Emang udah jadi tradisi kali ya, beberapa jamaah haji ‘dititipin doa’ sama rekan, tetangga, saudara, dllnya. Saya juga beberapa kali ‘disuruh ibu’ untuk mempraktikkan hal serupa.

Dan, Anda tahu, ketika ibu saya berangkat haji sendirian (tahun 2000-an kalo ga salah), beliau sampai punya SATU BUKU KHUSUS yang berisikan titipan doa teman2nya! Maklum, ibu saya masuk grup nenek2 lincah bin gahol gitu, jadi temennya segabruk. Dan nyaris semuanya nitip doa ke beliau.

CIMG4962

Walhasil, saya mikir. Kalau SEMUA orang itu nitip doa, dan SEMUA orang itu minta dibacain doanya, dan, SEMUANYA minta dibacain di tempat2 khusus, seperti di Raudhah, di depan Multazam, di Padang Arofah, maka… pertanyaan berikutnya adalah…. tidakkah ini memberatkan si jamaah?

Bayangin. Ibu saya aja, yang “cuma” guru SMA, dapat titipan doa 100-an kalo enggak salah. Lalu, gimana dengan bos saya yang memang doi pembimbing KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji)? Udahlah doi kudu ngurusin jamaah, eh, masih aja direcokin dengan urusan nitip-menitip doa.

No wonder, menurut saya sih, nitip doa memang kudu ada etikanya. Jangan ‘nitip’ aja, tapi mbok ya, kalau bisa, kita ikut urun meringankan beban si jamaah.

Oh. apakah kalimat ini terdengar seperti si perencana keuangan yang menggagas titip doa berbayar ituh?

Well, jujur aja, pada intinya memang, saya ‘sepakat’ dengan Bung Gozali. Keren kan, kalau para penitip doa itu juga sekalian bersedekah. Tapiiii, memang, sedekah itu kudu muncul dari niat yang ikhlas. Bukan karena, ‘ya emang diwajibin ama gozali sih!’ atau karena ‘sedekah deh, sungkan kalo enggak…’

Tapi, lebih kepada ikhlaskan beramal membantu sodara kita calon jamaah haji. Semacam itulah. *maapin kalo mbulet*

Maka dari itu, ketika bos saya mau berangkat, saya nitipin sejumlah rupiah. Eh, si istri bos saya itu enggak mau. Walhasil, saya bilang gini, “Mbak, kalau mbak ga mau trima infaq ini untuk aktivitas sehari2 di Arab, at least sampaikan saja infaq saya untuk para cleaning service di Masjidil Haram. Atau, beliin Qur’an lalu taruh di Masjid. Atau, buat apa saja, monggo. Yang penting, mohon doakan supaya saya…. blablabla….”

Saya yakin, ketika bos saya dan istrinya melangitkan doa, maka Allah Yang Maha Bijaksana akan mengirimkan takdir terindah-Nya untuk saya. Untuk keluarga, untuk seluruh kaum muslim-muslimah. Bi’idznillah….

Selamat hari Senin…! 🙂

Mantan Terindah

Whooops!! Siapakah “mantan terindah” itu? *kedip-kedip. Apakah saya akan menggalau parah di postingan kali ini?

Jreng, jreeeng… Tidak, sodara-sodara! Postingan ini memang bakal nyeritain tentang “mantan terindah” saya, mantan yang suliiit banget bikin saya move on. Mantan saya yang cakepnya luar binasa, yang bikin saya rela kepoin saban waktu, dan ngajakin anak plus suami saya nengokin doi setiap akhir pekan.

Gilak! Suaminya diajak nengokin pulak!

Iya lah. Lah wong “mantan terindah” saya adalah…. kampus ITS tercinta 🙂 *anti-klimaks*

Kenapa mantan?

Jadi gini. Seperti yang saya ceritain di postingan ini, itu, dan anu, saya tuh lulusan Komunikasi Unair. Tapi, kali ini, saya mau cerita soal kampus pertama saya, di tahun 1999, ketika saya dinyatakan LULUS UMPTN dan masuk di ITS!  Hwaaaa… *terharu, elap air mata*

Tahu sendiri kan, betapa kejam, sengit, sadis, dan ulalanya persaingan untuk perebutkan bangku UMPTN. Satu bangku diperebutkan 400-an calon mahasiswa. Dan, daaan… SAYA, sodara-sodara… SAYA menjadi salah satu pemilik bangku itu!

ITS JADUL

Yang lebih bikin mewek haru lagi adalah, saya diterima di jurusan TEKNIK INFORMATIKA, sebuah jurusan PRESTISIUS, yang bisa menjamin mahasiswa plus lulusannya TAJIR melintir.

Wow, semakin ngecessss lah akuuu… Maklum, bocah masih labil, pikirannya cari kampus yang “menjanjikan”, bisa kerja dengan penghasilan melimpah ruah.

Ya sudah. Saya jalani perkuliahan dengan hepi. Saya ikuti Ospek dengan sepenuh hati. Saya nyanyikan Mars Kampus dengan penghayatan yang luar biasa. Believe it or not, sampe detik ini, saya masih APAL lirik lagu Mars ITS loh!

Almamaterku yang kucinta || Ibu yang luhur ITS

Tetaplah jaya semangatmu || cita-citaku tak kendur…

Menjunjung teknologi yang canggih || berbudi agung dan cerdas

Menuju kesejahteraan || bangsa dan umat manusiaa….

Uwowowo…. merindinggg disko dengar lagu ini. Kampusku. ITS-ku. Dari rahimmu lah akan lahir, para teknokrat hebat, yang bisa membanggakan negeriku, membanggakan suroboyoku….

Hidup ITS…. Hidup ITS…. Almamaterku jaya….!!!

***

Ini yang menurut saya, bikin ITS memorable. Kampus ini berhasil meniupkan kebanggaan, PRIDE dan sense of ownership yang tinggi pada mahasiswanya. Bukan hanya itu. Di ITS, saya jumpai sejumlah dosen yang tak melulu ajarkan teknik. Tapi juga filosofi kehidupan. Seperti dosen saya ini.

Ketika mengajar, beliau ga langsung capcuss menjelaskan tentang materi programming. Tapi, beliau menghadiahi kami siraman mutiara yang luar biasa.

Diterima di ITS memang harus bersyukur, tapi juga harus berusaha, kerja keras dan ikhlas. Berdoa, selalu mendekat pada Allah. Karena Allah akan memberikan yang terbaik untuk kita, sesuai dengan upaya yang kita lakukan. 

Kurang lebih itulah yang beliau sampaikan. Tak heran, beberapa teman saya menjelma menjadi “filsuf” sejati. Tahu Agustinus Wibowo kan? Traveler plus novelis “Selimut Debu” itu loh. Doi itu teman SATU ANGKATAN bareng saya! Yap, Teknik Informatika ITS 1999. *bangga*

AGUSTINUS

agustinus-3

INFORMATIKA ITS

Keterangan foto: Yang bertampang sangat Tionghoa adalah Agussssss….

Well, walau pada akhirnya, Agustinus bernasib seperti saya… (maksudnya, sama-sama enggak lulus dari ITS… kalo “nasib” hoki keliling dunia sih, lebih cihuy doi bangeeet….)

Tapi, Agustinus bisa meng-capture kalimat2 bernada filosofi hidup yang mencuat dari para dosen kami. No wonder, dia berhasil menulis novel yang magis banget, mengaduk-aduk emosi pembacanya… Sekaligus bikin kita iri setengah hidup dengan beragam potret kehidupan yang dia hasilkan.

Teman saya yang lain juga aktif ngeblog. Di bawah bendera http://bamboeroentjing.com/ beberapa rekan mendokumentasikan “ceracau” mereka tentang banyak hal. Itulah yang saya suka dari ITS. Mahasiswa dididik bukan merely untuk menjadi cerdas, brilian, dalam hal teknik semata. Tapi, lebih kepada agar mereka jadi manusia seutuhnya. Hal-hal berbau teknologi itu penting. Penting banget, malah. Tapi, meski sudah menggondol predikat “teknokrat” bukan berarti kita bermetamorfosa jadi mesin. Kita tetaplah manusia. Yang punya rasaa…. punya hatiii…. *singing*

Makanya, seneng banget pas googling, nemuin beberapa blog alumnus Informatika ITS, yang… yaa… gitu deh, membuat saya semakin bangga dan gak bisa move on dari ITS.

Ibu muda ayu nan bijak ini, misalnya. Doi dosen Informatika loh. Dan prestasinya, ga main-main! Nur Aini adalah perempuan pertama di DUNIA yang bergabung dengan Joomla! Development Working Group. FYI aja nih, Joomla! adalah sistem manajemen konten yang bebas dan terbuka (opensource) dan dikenal sebagai program nomor satu di dunia untuk PHP (Personal Home Page).

Hebatnya, di header blog pribadi, doi nulis code is for a fun, not for a fund

fund is a plus. fun for your self and society.

Ya ampun, ketujesss banget gue…! Dan, di blognya, dia sering mengulas tentang hal (yang sering dianggap) remeh-temeh banget. Soal ASI, soal pengasuhan anak, soal daily life di Irlandia…. Dan, nyaris semua postingannya bikin saya “Wow….teknokrat memang kudu humble seperti dia.”

Jadi, kalau ditanya, bagaimana kriteria sekolah idaman saya? Hmm, nggak usah jauh-jauh. ITS itu udah idaman saya banget. Maklum, saya ni hidupnya masih di lingkungan pulau Jawa melulu. Sulit untuk ngajak mikir jauuuuh… ya, ada sih, beberapa kampus luar yang kelihatannya perfect abis. Tapi, di mata saya ITS adalah kampus dan “mantan terindah”

Yang t’lah kau buat… Sungguhlah indah…. buat diriku… susah lupa….. 

Youtube Mommylicious #ParentingBook

Diikutkan dalam Give Away “Sekolah Impian” Mak Arin Murtiyarini

Thanks God It’s Monday! #1

Kalo selama ini kita kenalnya TGIF alias Thanks God It’s Friday, sekarang saya mau bikin Thanks God It’s Monday #TGIM

Kenapa? Yaa, karena selama ini, kebanyakan dari kita —kita?!?!? elo aja kaliii??— senewen, sutris, galau, plus enggak bisa move on dari hari Minggu. Ya kaaan? Penginnya liburrr, gegoleran dan klesotan aja di rumah. Ya kaan? *cari temen*

Tapii, saya lalu teringat sama slogan Hard Rock Cafe I don’t Like Monday. Yeppp, don’t-nya dicoret/ disilang. Jadi, kita bacanya I Like Monday. Widih. Super-brilian, yes? Ide ini besutan si jenius marketing, Yoris Sebastian.

belakangan ini, langsung disebut I LIKE MONDAY siy

belakangan ini, langsung disebut I LIKE MONDAY siy

Nah, maka dari itu, setiap Senin, saya berusaha buat istiqomah bikin postingan #TGIM ini. Isinya, yaaa… berbagi kabar bahagia, walau remah-remah tak mengapa. Yang penting, ada kejadian atau peristiwa atau sebuah insight yang membuat Senin saya ceria dan penuh semangaat!

Misalnya, hari ini nih. Dengan penuh rasa deg-degan, saya naik ke atas timbangan. (o iya, saya dapat timbangan ini, hadiah dari voucher menang lomba blog Ace Hardware. #penting)

Bismillah….. duuuh… grogi bangeeet niiih….

Daaan…. JREEENG!! Jarumnya dong! Jarumnya ke kiriiii BANGET!!

Duh. jangan-jangan, timbangannya udah rusak neeh? Etapi, Serius loh! Masak jarumnya nunjuk ke angka 64!! Ulalalalaa…..

Ya elaaah, BB 64 aja udah girang setengah mampus….??

Biarin, husshh hussshhhh enyahlah pikiran negatif *usir-usir ala Syahrini*

Jelas aja saya girang. Karena, pas sebelum bulan Ramadhan kemarin, BB saya mencapai angka 72. Serius. Bodi saya emang se-menggelambir itu. Saya enggak peduli dengan celoteh manusia

“Iiiih, Nurul kok sekarang gendut ya?”

“Ya ampuuuun, Nurul…! Kamu baru punya anak satu kok badannya udah dedel duwel gitu?”

“Kamu kalo naik angkot bayarnya pasti dobel yak. Makan banyak tempat!!”

Saya gak mau ambil pusing dengan bully itu semua.

Tapiii, oh tetapi. Pas sholat tarawih di Masjid Al-Wahyu, ada satu penceramah yang juga seorang praktisi kesehatan. Beliau berjudul Prof Dr Soehartono Taat Putra, Guru Besar di FK Unair Sby. Satu quote beliau yang muaaakjleeeeb adalah:

MATI itu TAKDIR.

Tapi, BAGAIMANA KITA MATI itu NASIB.

Kita memang tak bisa mengubah Takdir Kematian yang digariskan oleh Allah.

Tapi, kita bisa MENGUBAH NASIB. Kita bisa menjauhkan diri kita dari PENYAKIT seperti DIABETES, JANTUNG, KANKER dan sebagainya. Dengan Apa? Dengan Mengubah POLA dan GAYA HIDUP KITA.

Jedeeeerrr….!!!

Ini si profesor kayaknya sengaja mencabik-cabik hatiku di hadapan para jamaah tarawih yang berbahagiaaaaa…. *nangis*

***

Kayaknya ini yang namanya hidayah yak? Setelah denger ceramah doi, saya jadi mikir,

“Badan ini adalah AMANAH yang ALLAH TITIPKAN untuk saya. Masak iya sih, saya MERUSAK AMANAH ini??

Tidak semua orang punya FISIK YANG LENGKAP. BADAN SAYA INI KOMPLET. Hanya saja, saking bandelnya si penerima amanah, bodi ini dijejali lemak plus gelambir, yang sama sekali enggak sedap dipandang dan disandang.

Oke. Baiklah. InsyaAllah, saya akan BERUBAAAAAHHH…..!”

Ini semua bermula di Bulan Ramadhan. Saya mencoba mengubah pola makan. Tadinya saya hobi dan ikrib banget dengan makanan berlemak. Sekarang? Udah deh, cukup tempe-tahu-tongkol goreng. Iya, saya belum bisa skip gorengan memang. Tapi, saya udah mulai yuk say dadah bubbye dengan cakue, roti goreng, ote-ote (bakwan), tahu isi, yang dijual abang2 gorengan pinggir jalan.

Selain itu, saya juga rutin minum ini: madu-pahit-mabruuk_00000

Asli. Ini saya enggak lagi iklan, apalagi job review. Saya cuma sharing aja, gimana ceritanya bobot saya yang tadinya 72, secara berkesinambungan turun ke angka 64. Padahal, saya enggak sedot lemak. Takut. Ga boleh ama jeung Astri Ivo.

Balik lagi ke si Madu Pahit. Makhluk ini banyak banget gunanya. Di-googling sendiri aja ya, kakaaak…

Yang jelas, salah satu manfaatnya adalah, nih madu bisa banget menekan nafsu ngemil kita. Selama ini, gairah dan passion saya akan cemilan begitu berkobar. Nyaris ga pernah saya lewatin hari tanpa nyemil. Kalo lagi ngetik, saya PASTI nyemil. Kalo ga nyemil, tulisan saya PASTI ga selesai.

Setelah rutin minum nih madu, ga tau kenapa ya, kok semacam ada SUGESTI bahwa I can Live without that CEMILAN!! 

Bisa banget loh ternyata.

Dan, yang jelas, saya jadi alergi gitu deh, dengan makanan ga sehat.

Masak, kapan hari saya coba makan P*p M*e. Yep, mie instan yang cukup nuangin air panas itu loh. Setelah makan satu suapan, hoekksss, kenapa rasanya pahit gini yak? Bumbunya itu berasa OBAT KIMIAWI banget!

Saya jadi lebih suka masakan rumahan. Saya lebih suka sayur sop, sayur bening, sayur asem, tumis pare, oseng2 kangkung buatan ibu saya. Beneran!

Alhamdulillah…. ALLAH yang gerakkan lidah, hati, otak saya. Tinggal olahraganya aja nih yang dikencengin. Maklum, kalo mau olahraga tuh, adaaaa aja excusenya, hehehe….

Daan, Senin saya makin bahagia, manakala baca cerita perempuan cantik ini. Doi tuh, mempopulerkan diet Mayo, tapi dengan cara yang asyik. Super-duper-inspiratif. Setelah baca postingan interview bareng doi, Senin saya terasa sangaaat ceria.

Oke. Ini cerita bahagiaku di #TGIM.

Mana ceritamu? 🙂

Weekly Photo Challenge: Adventure!

Well, because my family are not soo into adventurous things, sooo… for this challenge, I only submit this simple picture.

Tree

Tree

We’ve been staying at Tree House The Pines Taman Dayu Pasuruan, East Java, Indonesia. 

It’s like… you know… we slept with “original sounds tracks” from animal creatures, like monkey, siamang, etc. Wuhuuu… it’s fun, yet little scary! Quite adventurous, I think 🙂

Angka + Insting = Formula Strategi Bisnis

Rizki Rahmadianti

Owner Rira Clothing, Jilbab Rizhani dan Little Bee Boutique

Memasuki dunia bisnis ibarat kita sedang bermain rollercoaster. Terkadang, kompetisi begitu sengitnya, hingga tak jarang membuat kita terpelanting, bahkan terjun bebas. Namun, seorang pebisnis tangguh tak boleh mengenal kata menyerah. Harus bangkit. Harus survive. Bahkan, harus terus melaju, lebih pesat ketimbang sebelumnya.

unnamed

Rizki Rahmadianti pernah merasakan itu semua. Ketika omzet bisnisnya stagnan di tahun 2009, Rizki memutar otak dan menyusun strategi agar tetap bisa berkiprah di dunia bisnis fashion. “Dalam dunia bisnis, ada dua hal yang harus selalu kita jadikan pertimbangan ketika merancang strategi. Angka penjualan dan insting bisnis. Itu yang harus selalu kita kolaborasikan,” papar pemilik brand Rizhani, Rira Clothing dan Little Bee Boutique ini.

Rizki belajar banyak dari pengalaman ‘jatuh bangun’ kala berbisnis. ”Pebisnis UKM itu kelemahannya adalah sering meremehkan angka. Suka main perasaaan atau insting saja. Padahal, angka itu penting. Laporan keuangan sangat penting untuk merumuskan strategi bisnis. Karena kalau hanya mengandalkan insting, maka bisnis kita akan cepat nggeblak dan nggak berkembang,” urainya.

Kini, Rizki dan timnya semakin disiplin dalam bermain angka. ”Jangan hanya fokus mengembangkan merek. Tentu, merek adalah sebuah hal yang penting karena itu menunjukkan idealisme kita. Tapi jangan lupa, bahwa kita harus selalu menciptakan sales atau penjualan,” imbuh alumnus Universitas Brawijaya ini.

Pesatnya dunia online membuat Rizki kian aktif memasarkan produknya. ”Seluruh marketing produk saya bersumber dari online. Saya memanfaatkan social media, juga membuat beberapa website untuk memperkenalkan brand yang kami kelola.”

Untitled

Tak kenal lelah, Rizki terus belajar seputar strategi online marketing. “Alhamdulillah, kalau di-googling, brand kami berada di peringkat teratas. Untuk bisa merebut pasar online, kita memang harus terus membekali diri dengan banyak belajar dan memperdalam ilmu pemasaran online,” ujarnya.

Namun, dunia marketing online juga sarat dengan kalangan pebisnis yang menghalalkan segala cara. “Persaingan di dunia online itu keras, maka Anda harus kuat mental lebih dulu. Pernah di salah satu platform toko online, saya temukan ada yang menggunakan foto milik brand Little Bee. Yang luar biasa adalah, dengan foto yang sama, bahkan watermark-nya masih menempel, dia berani menetapkan harga 5 kali lebih murah dari Little Bee. Bukan itu saja. Si pemilik toko juga menulis di Fanspage Facebook kami bahwa jualannya lebih murah, jadi mending beli dari tokonya saja,” urai Rizki.

Apa yang Rizki lakukan? Apakah menuntut orang yang “kurang ajar” itu? ”Tidak. Saya tidak mau ngurusin orang-orang seperti itu, karena akan menghabiskan energi. Lebih baik saya fokus untuk mengembangkan bisnis.  Saya hanya berdoa agar desain kami memberikan manfaat baginya. Saya percaya bahwa bisnis yang diawali dengan baik, hasilnya akan baik. Begitu pula berlaku sebaliknya,” urainya bijak. (*)

unnamed (1)

Workshop Rira Clothing, Rizhani, Little Bee Boutique

Rungkut Barata VI/18 Surabaya

(031)8700215

 

 

[Fiction] BIMBANG (1)

Weheeeiii, saya posting cerita bersambung nih. Paling asyik baca cerita ini, sambil dengerin theme song “Mantan Terindah”. Yang versi Raissa aja. Lebih mantap. Happy reading!

B I M B A N G

Ada rasa yang tiba-tiba menyeruak. Datang tanpa diundang. Menjejali hati tanpa berucap permisi. Seolah ada buliran jelly nan kenyal, yang tengah berlompatan di ulu hati. Rasa itu… datang lagi. Setelah sekian lama aku mencoba mengebirinya. Setelah bertahun-tahun, aku berjuang ekstra keras untuk mengenyahkannya.

Assalamualaikum, Salma. Bagaimana kabar kamu?”

Kamu. Kamu yang membuat seluruh debar jantungku selalu berirama. Kamu. Yang selalu dengan hangat menyapa, menyajikan rentetan diksi yang mengiris sukma.

Waalaikumsalam. Baik. Aku… kabarku… baik. Seperti yang kamu lihat. Nggh, kamu?”

“Aku? Never better.”

Kamu mengulum senyum yang sama. Senyum yang masih kerap berkelibatan di memoriku. Senyum yang sanggup merontokkan pusaran badai, yang bertalu-talu di relung kalbu.

“Udah selesai sekolahnya?”

Alhamdulillah, Salma. Akhirnya! Perjuangan belajar di negeri orang! Pff! Aku bersyukur banget bisa lulus dari Oxford! Ini impian yang selalu aku pegang sejak di bangku SMP! And my dream comes true!”

raisa

Selalu seperti itu. Kamu, yang terbiasa menjawab pendek, tiba-tiba berubah menjadi sosok yang demikian bersemangat. Antusias level akut, setiap kali topik pembicaraan menyerempet masalah pendidikan. Kamu, sedari dulu, tak pernah berubah. Manusia yang begitu kuat memegang ambisi untuk merebut tahta “Sang Juara”. Yang melecut diri sendiri untuk bisa menempuh bangku kuliah di Inggris. Yak. Oxford. Entah berapa kali kupingku ini mendengar kata “Oxford” “Oxford” dan “Oxford”. Dulunya, aku kira kamu sedang bicara soal opor. Oxford… opor… lalu aku, dengan innosensnya menanyaimu, “Lo, kamu mau kuliah di Opor? Opor ayam?” Sekonyong-konyong, kamu terbahak. Tertawa begitu ledak. Tak pernah kujumpai dirimu, si makhluk kutu buku dengan kacamata nan tebal, tertawa dengan gempita. Tapi, demi mendengar tanyaku yang demikian naifnya, kau menggempurku dengan olokan, ”Ya ampun…. kamu ini. Emang selama ini hidup di mana? Di gorong-gorong? Mosok nggak tahu Oxford University, perguruan tinggi favorit di Inggris sih? Makanya, jangan cuma nggosip soal Pangeran William dan Pangeran Harry. Kamu juga harus memperbanyak wawasan soal kampus-kampus top dunia dong!”

images

Aku tersenyum kecut. Tanpa diminta, kamu—yang masih kelas 2 SMP kala itu–nyerocos panjang kali lebar, soal sejarah Oxford. Tentang beragam fakultas yang ada di sana. Tentang ketatnya persaingan untuk menembus bangku kuliah. Tentang strategimu untuk mendapatkan beasiswa, agar kau bisa berkuliah di kampus mentereng itu.

Aku merasa tersihir. Tergiring oleh daya pikat matamu yang senantiasa berbinar. Manakala kau bicara soal ambisi sekolah, karir, langkah apa saja yang akan kamu tempuh agar kian cemerlang sebagai bintang. Aku merasa, detik itu juga, secuil hatiku pergi tanpa permisi. Ia hengkang. Ia terperdaya oleh sang maestro, mengikuti jejak hatimu, yang mungkin tak pernah sadar bahwa sedari dulu, ada pautan rasa yang sulit dijelaskan dengan kata.

***

“Nggak terasa ya. Kita sudah sama-sama dewasa sekarang.”

Aku menunduk malu, pantang bersitatap dengan matanya yang masih se-elang dulu. Lalu-lalang manusia memadati food court mal ini. Menyesal aku menuruti pintanya, untuk copy darat di tempat ini.

”Surabaya makin rame ya Salma?”

raisa jilbab

“Iya. Orangnya tambah banyak kan. Yang dulunya single, lalu menikah, punya anak. Jadi ya tambah rame.”

Kamu tergelak. Mirip dengan tawa belasan tahun lalu. Tapi, entahlah, di telingaku, tawa kamu kali ini terdengar begitu berwibawa. Dewasa. Ahh… apa iya, rasa itu masih tersimpan hingga sekarang, wahai Salma?

“Bener… bener banget, Salma. Setiap orang tentu beranjak dewasa ya, sama seperti kita. Umur udah 25-an, udah lulus kuliah. Siap kerja, siap punya anak… eitss.. menikah dulu kali yaaa… hehehe…”

Aku tersenyum lagi. Debar jantungku kian sulit dikendalikan.

“Memang sudah waktunya orang seumuran kita untuk menikah….”

Entah ke arah mana pembicaraan ini akan bermuara. Lidahku terasa kelu.

“Nggh… iya kan? Kamu gimana Salma? Kapan mau nikah?”

***

Dua bulan lalu.

Ustadzah Tania, berkirim sms padaku. “Salma. Anti bulan depan sudah wisuda kan? Bagaimana, apakah bisa melanjutkan proses ta’aruf? InsyaAllah calon yang ini se-kufu dengan anti.”

Subhanallah. Jujur, kalau ditanya apakah aku siap melaju ke pelaminan, aku tidak tahu harus memilih jawaban yang mana. Usiaku saat ini menginjak angka 24. Duapuluh empat, angka yang sangat nanggung. Dibilang muda banget, juga nggak. Matang? Tua? Belum lah. Aku merasa, masih banyak hal yang bisa aku lakukan. Sembari kuliah, aku melakoni job sebagai social media strategist di sebuah merek clothing ternama. Aku, aktif di berbagai organisasi nirlaba, melayani masyarakat dhuafa. Aku menikmati itu semua. Aku merasa aku sangat berharga. Dan, apakah, jangan-jangan semua “keberadaanku” itu tercerabut, hanya karena aku memutuskan untuk me-ni-kah?

Menikah itu artinya aku harus membagi waktu dan konsentrasi untuk banyak hal. Untuk melayani suamiku. Untuk melayani mertua, ayah-ibu suamiku. Kalau aku punya anak? Wah, makin banyak hal yang harus aku pikirkan. Lalu, bagaimana jika, suamiku sama sekali tidak mendukung aku untuk beraktivitas di luar rumah? Bagaimana kalau suamiku adalah tipikal laki-laki yang menyuruhku hanya melakukan kegiatan domestik? Bagaimana kalau ia pencemburu akut? Tidak mengizinkan aku berinteraksi dengan lelaki manapun? Bagaimana kalau ia ternyata pelaku KDRT? Naudzubillahi min dzalik…

“Salma. Afwan, apakah bisa jika ta’aruf dilanjutkan pekan depan?” SMS kedua dari Ustadzah Tania. Aku bingung. Harus kujawab apa?

Afwan, ustadzah. Saya istikharah dulu saja ya. Nanti saya kabari lebih lanjut.”

“Baik, Salma. Saya tunggu. Syukron.”

raisa-siap2-nge-mc-di-masjidmsh-acara-anak2-jgmemperingati-1-muharram

***

Jujur saja. Waktu itu, aku berharap banyak pada kamu. Yang tengah menempuh studi di Oxford. Aku berharap, kamu segera pulang ke Indonesia. Lalu menemuiku dan keluarga besarku. Meminta restu untuk kemudian membina keluarga nan bahagia. Sayangnya, tak sekalipun, kamu berkirim kabar. Hatiku mendadak layu. Aku disengat patah hati yang cukup parah. Tapi, aku percaya, Rasa sakit hati itu indah. Setidaknya patah hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup. Hanya batu atau kerikil yang tidak sakit hati.**

Maka, kuputuskan untuk menerima saran Ustadzah Tania. Kujalani ta’aruf dengan seorang ikhwan, alumnus Teknik Elektro, yang sedang merintis kerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sama sekali kami tak diizinkan untuk berkhalwat alias berdua-duaan. Para murabbi yang memfasilitasi kami. Hingga, pada satu titik, Allah menggerakkan hatiku, untuk menerima khitbah dari tukang insinyur teknik elektro itu.

***

“Aku sudah dilamar, Arya.”

Kamu tersedak. Terbatuk-batuk hingga membuat pipimu memerah.

“Oh…oh… gitu. Oh, baguslah.”

Aku berusaha meredam gejolak hati yang pecah berkeping-keping. Ada serpihan sendu, mengapa tidak dari dulu, Arya? Mengapa baru sekarang?

“Kapan nikahnya?”

“InsyaAllah, dua bulan lagi. Kami masih urus masalah administrasi.”

“Oh. Siapa… calon.. nggh… su-ami kamu…?”

“Raditya. Aku kenal dari komunitas kajian.”

“Oh. Dijodohkan?”

“Kami berproses, Arya. Ta’aruf.”

“Kamu… kamu… yakin dengan dia? Maksudku, kamu yakin, bahwa kamu akan bahagia bila menikah dengan dia?”

Pertanyaan yang tak perlu dijawab. Aku benci jenis pertanyaan model ini, yang menuntutku untuk gegayaan menerawang masa depan. Hei, aku bukan dukun apalagi paranormal! Siapa yang bisa menjamin kehidupan kita di masa mendatang?

“Hanya Allah yang tahu.”

“Kamu, mantap menikah dengan dia?”

“InsyaAllah. Arya, aku minta maaf. Hari ini kita bersilaturahim sebagai dua kawan yang lama tak bertemu. Sekaligus, aku mengabarkan bahwa sebentar lagi aku akan jadi istri seseorang. Allah akan memberikan jodoh yang terbaik bagi diri kita, yakinilah itu. Terima kasih sudah mengizinkan aku menjadi teman kamu. Saya pamit dulu….”

“Salma, kita belum selesai bicara…”

“Maaf Arya. Aku, masih banyak hal yang harus aku lakukan. Assalamualaikum…”

Aku bergegas lari dari hadapanmu. Ya Allah… kenapa ini? Apa ini ujian yang harus hamba hadapi, ketika pernikahan sudah ada di depan mata? Kenapa Arya hadir di saat-saat seperti ini? Ketika hamba memutuskan untuk serius dan dikhitbah oleh Raditya?

Aku berjalan cepat. Berpacu melawan bulir-bulir air, yang tiba-tiba bersemayam di kelopak mata. (bersambung)

Foot note:

anti  = kamu (perempuan)

Afwan = maaf

Syukron = terima kasih

** kutipan dari Tere Liye

Jamu itu…. Gue Banget!

Alhamdulillah, jadi pemenang hiburan di Lomba Jamu IPB info di sini 

jamu-winner

Jamuuuu…. jamuuu…. Jamunya masss… jamu pegel linuu…. encok-encok bakal hilaang….

Jamuuu… jamuuuuu….

Suara kenes bin endhel khas Juminten masih terngiang-ngiang di kuping saya. Buat generasi 90-an tentu nggak asing dengan sinetron komedi “Lika-liku Laki-laki”. Ria Irawan berhasil memainkan peran bakul jamu yang kemayu sekaligus ngangenin.

Widih. Bagaimana dengan bakul jamu masa kini yak?

43198943_mk_penjual_jamu

credit

Karena gencarnya promo cafe-cafe fancy, dus tren ngopi-ngopi cantik ala Amrik, walhasil anak muda kita makin akrab banget dengan minuman produk franchise. You name it lah. Semacam kopi-kopi yang segelasnya bisa dibandrol 50 ribu, atau bubble tea, atau milk shake, pokoke serba kebarat-baratan. Asal udah nongkrong di kafe, gosip-gosip cihuy, lalu selfie, bbeuuuuh berasa keren sejagat raya lah.

“Lagi nongkrong di St*rb*cks euy. Sedap!”

“Wih. Ngantri di Jc* yahud banget! Rameee… padahal lagi pengin nyeruput hazelnut latte…”

Tweet semacam itu berhamburan di timeline. 

Kalau anak-anak muda bisa begitu bangga nongkrong di kafe kopi dan sebangsanya, makaa…. jamu juga bisa banget dibikin keren, cute, asik dan gue banget!

Caranya?

depan

Eng ing enggg…. SMART banget nih, terobosan yang dilakukan SIDO MUNCUL. Pas saya lagi jalan-jalan di Mal Delta Plaza Surabaya, ada sebiji kafe assoy yang nangkring di sono. Jualannya? Jamu! Widih. Keren kan?

Saking happy-nya nemu spot menakjubkan ini, saya buru-buru pesen ke mbak “barista” yang nongkrong di situ.

CIMG6582

Beneran, euy. Mbaknya bukan pakai style ala-ala Juminten. Sudah nggak pake jarit atau konde. Tapi, style doi sooo… kosmopolitan. Nongkrong di kafe jamu ini berasa lagi nongkrong di kafe yang chic. Langsung deh, saya ngetwit

yuhu

Price list jamu. Murah-meriah banget-nget :-)

Price list jamu. Murah-meriah banget-nget 🙂

Tuh kan, kalau jamu dikemas dalam strategi penjualan yang wow, maka anak muda seperti saya sudah pasti bakal melabuhkan pilihan pada jamu.

Jamu ini kan produk otentik Indonesia. Banyak manfaatnya pula. Kalau mau mengulik beragam referensi yang ada di sini atau di situ, maka kita akan dibuat takjub setakjub-takjubnya akan kehebatan jamu.

Bisa ngobatin penyakit kolesterol, diabetes, darah tinggi, obesitas (uhuk!) bahkan tumor ataupun kanker!

Buat ibu-ibu yang lagi kasih ASI ke dedek bayi, juga bisa rutin konsumsi jamu. Supaya ASI-nya makin lancar jaya.

Nah, karena sekarang manusia-manusia Indonesia lagi doyan banget ber-online shopping, termasuk saya, maka lagi-lagi kudu ada terobosan wow yang dilakukan di kancah marketing.

Please welcome…… *drum roll* rumahjamu dot com…!

Untitled

Praktis banget. Cukup modal mantengin gadget atau komputer, tinggal pilih jamu apa yang kita mau. Ada edukasi seputar manfaat masing-masing jamu. Yang pengin kulit mulus, hayuk deh pilih kunyit asam. Yang pengin haid lancar, bisa pilih kunyit asam plus sirih. Navigasinya enak banget. Online shopping jadi gampiiilll, gak pake ribet.

Intinya, ada banyak cara untuk menjadikan jamu sebagai kebanggaan Indonesia. Iya dong, kalau kita terlalu sering mengusung lifestyle ala kebarat-baratan, ya jangan salahin kalo anak-anak di masa mendatang gak kenal dengan jamu.

Hayuk ah. Kita mulai kembali menjamu diri sendiri dengan jamu.

Karena jamu itu…. gue banget…!

Lestarilah Jamu Indonesia 🙂

Flyer Lomba Penulisan Artikel Jamu di Blog

Sumber:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal