lifestyle

Istidroj atau Berkah?

Disclaimer: Sebelum membaca postingan ini, satu prasyarat utama: DILARANG BAPER 🙂 Saya sedang menulis untuk menasehati diri sendiri. Sama sekali tidak ada tendensi untuk menuding siapapun. This article is dedicated for me, myself, and emaknya Sidqi :)))

 

***

Jadi, begini.

Mulai dari mana yak, ceritanya? Haha.

Okai, setelah ikutan event SGM Mombassador beberapa waktu lalu, saya akhirnya kenal dengan beberapa emak/bunda yang masuk dalam kategori Kuter alias Kuis Hunter. Yeap, sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa yang namanya Kuter tuh mayoritas seruuuu, asoy geboy, kreatif dan punya daya juang yang setara dengan bom Hiroshima Nagasaki hahaha. Intinya mereka petarung banget lah!

Dasar saya emak latah dong, akhirnya pulang dari Jogja, saya semangat banget ikutan beragam kuis yang tersebar di seantero jagad medsos. Be it on instagram, FB, twitter, mana aja deh…. kecuali di blog. Yeppp, saya agak lamaaa nggak update di blog, tentu saja karena lagi mengerahkan daya dan upaya untuk ikut berkecimpung di jagad perkuisan.

Nah, di bulan Desember itu kan Hari Ibu yak. Jadinya, kuis-kuis yang beredar otomatis membahas tentang ibu gitu deh… Mulai dari #MemoriTentangIbu #ILoveYouMom endebrai endebrai pokoke tentang ibu.

Mayoritas kuisnya sih, tentang foto bareng ibunda tercinta. As you know, karena ibu saya udah berpulang ke rahmatullah sejak September 2016, maka saya nggak bisa foto-foto lagi bareng beliau. Well, ini agak awkward juga nih sedihnya… Sedih karena ibu udah berpulang, atau sedih karena nggak bisa poto-poto lagi, duuuh… sungguh anak yang aneh 🙂

Kemudian, dengan semangat ’45 saya ikut dong segambreng kontes foto itu. Dengan caption yang saya bikin semelasss mungkin, pokoke karena basic saya adalah blogger, jadi saya berharap juri nggak semata-mata lihat fotonya, tapi juga ngebaca captionnya.

Wuahh, dalam sehari bisa kali saya ikutan 5-8 kuis yang berbeda. Itu kayaknya adaaaa aja yang jadi bahan tulisan saya.

 

Daaan, begimane hasilnya sodara-sodara?

ZONKKKKK semua hahahaahaha *ketawa tragis*  *garuk-garuk ubin*

Ini kagak tau nih, kenapa yak, susah banget buat ikutan eksis di belantara kuis hunter hahaha.

***

Daaan, entah karena faktor hormonal, atau emang saya lagi sensi akut, atau gimana, saya bawaannya jadi gampang spaneng. Sidqi agak ngalem dikit, udah saya sembur tuh, dengan ceracauan yang alakazam.

Sidqi agak males mandi (semacam judul blognya si neng keceh nih *colek rintadita*) lah kok saya yang emosional level propinsi. Bawaannya pengin nyap nyap melulu.

Udah gitu, di mata saya, semua orang tuh pada nyebelin semua gitu loh. Nggak ada yang bener. I hate everybody. Tukang sayur jadi orang yang ngebetein karena suka dateng kelewat pagi. Pak satpam kok agak cari muka ya, di mata saya? Trus, itu bakul nasi goreng yang suka mangkal saban malem, kenapa nasgornya jadi asin banget gini?

Wis tho, pokoke saya jadi mangkeeeeelll beneran nggak jelas gitu deh.

***

Lalu, saya mencoba instropeksi. What’s wrong with me? Aya naon, emaknya Sidqi?

Apa ada sesuatu yang “keliru” dalam hal bagaimana saya menjemput rezeki? Atau… ada semacam onak dalam hati, sehingga kalbu saya tak ubahnya sarang benalu? Yang selalu melihat dengan kacamata penuh dengki dan iri, terhadap kebahagiaan yang orang lain rasa? Atau… jangan-jangan selama ini, saya menempuh jalan yang sebenarnya keliru?

 

Entah.

Entah.

Sungguh, saya tak tahu apa jawabannya. Yang jelas, saya coba telusuri, belakangan ini, saya memang kerap diberi “ujian” oleh Sang Maha berupa bahagia demi bahagia… Yang kemudian menjelma jadi setitik noktah angkuh, takabur… merasa bahwa saya bernilai… saya eksis… saya layak diperhitungkan… saya berprestasi… saya hebat… saya….

Astaghfirullah.

Jangan-jangan, selama ini yang saya terima adalah istidroj? Seolah-olah, saya anggap itu semua berkah, padahal Tuhan sedang “menggoda” saya dengan beragam ujian “jebakan betmen” berupa kebaikan prestasi dll dst, kendati ibadah saya kocar-kacir, hati saya nyaris tak pernah tertaut dengan sebegitu kuat dengan Sang Maha… Tauhid saya berantakan dan memprihatinkan?

Istidroj…seolah-olah Tuhan melimpahkan begitu banyaaaak sumber kebaikan, padahal di saat yang sama, saya sedang melakukan aneka kemaksiatan. Di momen yang sama, saya sedang menari-nari dengan gendang keangkuhan, dan menuding orang lain sebagai pihak yang tak becus, rendahan dan sebagainya. Astaghfirullah.

***

 

 

 

 

Advertisements

8 thoughts on “Istidroj atau Berkah?”

  1. Ini tulisan untuk pengingat aku juga, betapa aku juga takut, segala kebaikan yang aku dapat, khawatir justru “ujian”. Apakah aku akan tetap terlena lupa ibadah, atau justru makin dekat denganNYa?

  2. kata senior2 blogger, kuter, muter, mlungker, bunder…hahahahaha… tipsnya adalah ikut lomba dan lupakan
    ya udah… wes gak usah di pikirin lagi… kayak saya gini lo
    gak ikutan apa2 hahahahaha *kaboor

  3. Ikut ngaca yo mbak 🙂 Aku jarang ngekuis, ngeGA lomba Blog apalagi. Kalaupun ikut, buat seneng-seneng nggak tak pikirin nemen-nemen, menang alhamdulilah kalah yo wis, cemen ya haha

  4. Kalo berharap terlalu banyak dan seolah-olah harapan itu sudah dalam jangkauan, kemudian, -duuuaaar-, gak ada satupun yang jadi nyata, maka kecewalah yang dituai.
    Resep supaya gak kecewa: gak usah ikut kuis , atau ikut tapi lupakan setelah ikut kuis, anggap saja hiburan yang ada hadiahnya.
    Berbuat yang terbaik lalu lupakan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s