Jadilah Pengusaha Wahai Generasi Muda Indonesia!

Coba deh, tanya warga kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta atau Surabaya. Random aja, nggak usah merujuk ke strata ekonomi atau kelas social tertentu.

Pertanyaannya adalah, “Tahukah Anda, apa itu Gojek?”

Huuum… saya yakin banget deh, 80% (atau lebih) bakal bisa menjawab pertanyaan itu. Walaupun mungkin tidak semua orang bisa order atau udah pasang aplikasi ojek/taxi berbasis aplikasi, tapi keberadaan start-up macem Gojek dan kawan-kawannya ini, udah pasti jadi rising star yang buat sebagian orang dielu-elukan dan jadi solusi banget.

(sebagian orang ini sudah pasti termasuk diriku, yang ke mana-mana nyandu pake taxi online, hehehe)

Baca : Tentang Ojek Syar’i 

Eksistensi moda transportasi online seperti Gojek dan sebagainya, diacungi jempol oleh Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro. Kata Pak Menteri, start up  seperti Gojek adalah contoh penerapan sharing ekonomi, yang mulai hari ini dan di masa mendatang bakal jadi tren ekonomi!

ENterpreneur

Yang ditekankan Pak Menteri adalah, sharing economy tidak hanya meningkatkan pendapatan bagi pemilik usaha. “Kelebihan sharing economy adaah membantu pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja baru,” kata ia.

Baca: E-Fishery pukau dunia lewat alat pakan ikan berbasis teknologi

Bener banget nih. Saudara saya juga ada yang bertahun-tahun bingung mau kerja apa. Terus saya arahkan buat jadi rider GoJek. Lumayan lah, bisa untuk menyambung hidup sehari-hari. Bahkan, saya kan sering tuh, ngobrol ama driver Grab car. Rata-rata, cerita yang saya dengar dari mereka adalah…..”Saya kredit mobil ini dari hasil nge-grab lho Mba….”

Waaah, Alhamdulillah 😊

Memang tidak semua orang kecipratan impact positif dari keberadaan sharing economy semacam ini. Kayak sopir angkot, atau tukang ojek konvensional juga sering melakukan sweeping di kawasan tertentu, macam terminal ataupun stasiun KA. Yah, namanya orang udah rebutan jatah makan yak… Apapun bakal mereka lakoni dah. Tapi, yang saya highlight adalah… ide-ide cemerlang dari para entrepreneur start up ataupun sharing economy, yang emang dibutuhkan banget oleh bangsa ini.

Baca: Yang Muda Yang Mengguncang Dunia

Kalau dikaitkan dengan data yang ada di Kementerian PPN/Bappenas, Menteri Bambang mengatakan bahwa pemerintah optimis ekonomi Indonesia akan tumbuh positif di kuartal III tahun ini. Wohoooo! Hal ini dikarenakan adanya peningkatan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah juga peningkatan investasi dan ekspor yang lebih baik.

“Pertumbuhan ekonomi di kuartal III diperkirakan lebih tinggi dibandingkan kuartal II, yaitu sekitar 5.1 persen,” tuturnya.

Kita memang kudu optimis dong. Sikap optimis itu yang insyaAllah bisa menggerakkan potensi warga, agar memberikan kontribusi terbaik untuk bangsa.

Sekarang bayangin aja ya gaes. Indonesia pada 2030-2040 diprediksi mengalami masa bonus demografi, yaitu jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibandingkan dengan penduduk usia tidak produktif.

Ini PELUANG banget! Tapi ya gitu. Warga yang berada di usia produktif ini ya harus benar-benar produktif dan kontributif.

Entrepreneur

Kalau dilihat dari berbagai aspek, sudah barang tentu, kita berharap munculnya ide-ide brilian dan semangat untuk berbuat yang terbaik bagi orang banyak. Jiwa memberi kebermanfaatan optimal ini, identik dengan jiwa pengusaha/entrepreneur.

Baca : Interview dengan Owner Lazizaa Fried Chicken

Karena itulah, Indonesia kudu menghasilkan banyak wirausahawan, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja baru.

“Kita masih membutuhkan lebih banyak enterpreneur di masa depan, karena nanti di tahun 2030 diprediksi akan terjadi bonus demografi sehingga membutuhkan banyak lapangan kerja. Jumlah penduduk usia produktif akan mendominasi jumlah penduduk Indonesia. Oleh sebab itu dengan tersedianya lapangan pekerjaan yang memadai dan cukup, paling tidak dapat membantu perekonomian Indonesia,” tutur Menteri Bambang.

Tak bosan-bosannya, Menteri Bambang menyemangati generasi muda Indonesia untuk semangat menjadi pengusaha. “Ketika rekan-rekan mahasiswa sudah lulus nanti, tidak harus semua menjadi pegawai. Menjadi seorang entrepreneur yang punya pendidikan tinggi lebih baik,” begitu ucap Pak Menteri dalam sebuah forum di Universitas Indonesia.

bappenas-menteri

Memang mendorong wirausaha baru tak mudah. Berdasarkan data sensus ekonomi Badan Pusat Statistik (BPS) 2016, saat ini jumlah wirausaha di Indonesia baru sebanyak 7,8 juta jiwa atau sebesar 3,1 persen dari total penduduk. 

Rasio ini masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen, maupun Amerika Serikat 12 persen.

Dalam mengatasi tantangan pelaksanaan strategi-strategi di atas, tentunya dibutuhkan kerja sama dari berbagai pihak, selain pemerintah. Dukungan kalangan swasta dan partisipasi masyarakat luas wajib dipenuhi pula untuk menyelesaikan masalah ketimpangan di Indonesia.

Baca : Bank Sampah Raih Penghargaan Pangeran Charles 

Untuk itu, pemerintah mulai menyiapkan berbagai kebijakan penunjang. Misalnya, peningkatan kualitas tenaga kerja melalui pendidikan vokasi.

Yuk ahhh… anak muda Indonesia… mulai sekarang persiapkan diri kalian untuk jadi pengusaha!

 

Advertisements

One comment

  1. nyonyasepatu · 13 Days Ago

    Iya aku setuju apalagi berusaha sekarang banyak yang gak perlu modal gede ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s