Motivasi Menghafal Qur’an

Bismillah…..

heningbanget

kulwit @PencintaQuran

Saat ini Mimin lagi menyimak taushiyah Ust Abdul Aziz Al-Hafidz ttg #MotivasiMenghafal. Simak yaa kilasannya 🙂

“Kita hafal bgt alFatihah krn tak terhitung lagi brp kali kita mngulangnya. Sudahkah hafalanmu diulang sbnyk alFatihah?” #MotivasiMenghafal

“Kalau baru saja mngulang hfln alQuran bbrp kali, gak pantas mengeluh. Apalagi mnyalahkan ‘ini ayatnya susah bgt’.” #MotivasiMenghafal

“Katakan pada surat hafalanmu, ‘saya siap mengulangmu sbnyk seringnya sy mngulang alFatihah.” -UstAbdAziz #MotivasiMenghafal

“Bercita-citalah memiliki hafalan alQuran selancar kita melafalkan alFatihah.” -UstAbdAziz #MotivasiMenghafal

“‘janganlah mati kecuali dlm keadaan muslim’. Katakanlah, ‘Tdk ingin mati kecuali dlm keadaan mnghafal alQuran.” #MotivasiMenghafal

“Menghafal alQuran itu harus INTENSIF dan SEPANJANG HIDUP.” UstAbdAziz #MotivasiMenghafal

“Rasa jenuh bermula dari tak ada kesadaran iman & ibadah. Hati yg bersih takkan merasakn jenuh pd alQuran.” UstAbdAziz #MotivasiMenghafal

“Saat mnghafal akan bnyk cobaan. Seakan ditanya, ‘serius kamu ingin mnghafl alQuran?’ Agar diktahui siapa yg SERIUS.” #MotivasiMenghafal

“DOA INTENSIF. ‘Jk hny andalkan kmmpuan diri, sy…

View original post 384 more words

1 ONS BUKAN 100 GRAM tetapi 28,35 gram

Hwaaaaaaa!!!!

Sampaikan Walau Satu Ayat

timbanganPENDIDIKAN YANG MENJADI BOOMERANG

Seorang teman saya yang bekerja pada sebuah perusahaan asing, di PHK akhir tahun lalu. Penyebabnya adalah kesalahan menerapkan dosis pengolahan limbah, yang telah berlangsung bertahun-tahun. Kesalahan ini terkuak ketika seorang pakar limbah dari suatu negara Eropa mengawasi secara langsung proses pengolahan limbah yang selama itu dianggap selalu gagal. Pasalnya adalah, takaran timbang yang dipakai dalam buku petunjuknya menggunakan satuan pound dan ounce.

Kesalahan fatal muncul karena yang bersangkutan mengartikan 1 pound = 0,5 kg. dan 1 ounce (ons) = 100 gram, sesuai pelajaran yang ia terima dari sekolah. Sebelum PHK dijatuhkan, teman saya diberi tenggang waktu 7 hari untuk membela diri dgn. cara menunjukkan acuan ilmiah yang menyatakan 1 ounce (ons) = 100 g.  Usaha maksimum yang dilakukan hanya bisa menunjukkan Kamus Besar Bahasa Indonesia yang mengartikan ons (bukan ditulis ounce) adalah satuan berat senilai 1/10 kilogram. Acuan lain termasuk tabel-tabel konversi yang berlaku sah…

View original post 973 more words

Aam Amiruddin: Tips ‘Ngobrol Asik’ Ortu dan Anak

“Kok, anak zaman sekarang susah diatur ya? Berani ngelawan orangtua? Beda banget dengan anak-anak zaman dulu…”

Image

Sering dengar keluhan semacam ini? Kalau melihat tren perkembangan anak dan remaja, kita semua memang patut mengelus dada. Menjadi orangtua di era kekinian sama sekali bukan hal yang mudah. Sejumlah orangtua mengeluhkan perilaku anaknya yang kian temperamen. Nah, liburan akhir tahun kemarin, saya sempat ikuti kajian Ustadz Aam Amiruddin. Sebagai ustadz pemateri acara religi di TVOne, RCTI, SCTV dan Trans TV, Aam akrab dengan beragam curhat jamaahnya seputar parenting. Yuk, simak obrolan dengan Ketua Pembina Yayasan Percikan Iman ini.

Ustadz, sebenarnya mengapa anak-anak sekarang begitu gampang ‘naik darah’ dan amat sulit dikendalikan orang tua?

Mengapa anak temperamental? Kita tidak bisa menuding hanya dari satu aspek saja. Karena, karakter anak terbentuk sejak dalam kandungan. Maka dari itu, ketika seorang wanita sedang hamil, usahakan temperamen ibu hamil (bumil) tidak naik. Orang kalau marah, hormon adrenalin melewati ambang batas. Hormon masuk plasenta, sehingga bayi ikut marah. Kalau bumil sering marah, maka bisa menyebabkan anak menjadi temperamental.

Jadi, ketika anak kita kerap naik darah, coba lihat masa lalu, kita flash back sejenak. Ibunya sering marah atau tidak? Bagaimana dengan lingkungan tempat anak kita bertumbuh kembang? Apakah anak kita dibesarkan di lingkungan yang juga keras dan kasar?

Kalau orangtua mengajarkan dengan cara yang keras, dengan berteriak, “Sholaaaat!!!” maka anak kita pasti akan belajar untuk menjawab dengan cara serupa, “Bentaaaarrrr!!” Jadi, bentakan dibalas dengan bentakan.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Misal anak main game, pas masuk waktu sholat. Elus punggungnya. Kita ajarkan bagaimana cara bernegoisasi. “Tadi kan sudah ibu kasih waktu main game selama 10 menit. Sekarang, ayo kakak berhenti dulu main game-nya. Sholat berjamaah dulu.”

Ingatlah, ibu-bapak, kalau anak dibesarkan dengan caci maki, maka ia akan belajar berkelahi. Kalau anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia akan belajar percaya diri. Besarkan anak kita dengan cinta kasih, supaya ia tidak menjadi anak yang temperamen tinggi.

Apa tips komunikasi yang bisa dibagikan pada kami?

Al-Qur’an sudah menjabarkan 6 (enam) strategi komunikasi yang harus dijalankan antara orangtua dan anak. Yang pertama, Qaulan Sadida, artinya perkataan yang benar, baik berdasarkan aspek isi, maupun cara penyampaian. Artinya, saat berbicara kepada anak, isi pembicaraannya harus benar menurut kaidah ilmu. Kalau anak bertanya, orangtua jangan asal menjawab, sebab bisa jadi jawaban kita itu salah menurut kaidah ilmu.

Misalnya, “Mama, kenapa ikan kok matanya nggak berkedip padahal ia ada di air?” Ibunya menjawab, ”Emang maunya gitu. Kamu yang gitu aja kok ditanyakan?” Ini adalah contoh jawaban yang asal-asalan dan tidak benar menurut kaidah ilmu.

Kalaupun orangtua tidak bisa menjawab pertanyaan anak, lebih baik berterus terang sambil memuji pertanyaan itu. Katakan, “Aduh sayang, pertanyaan kamu hebat sampai Mama nggak bisa jawab. Nanti kita cari jawabannya di buku ya.” Jawaban seperti ini adalah qaulan sadida.

Yang kedua, Qaulan Baligha. Artinya, perkataan yang berbekas pada jiwa. Agar ucapan berbekas pada jiwa anak, kita harus memahami psikis atau kejiwaan anak. Orangtua yang baik pasti mengetahui karakter anak-anaknya. Perkataan orangtua akan bisa menyentuh emosi atau perasaan anak, apabila mereka memahami karakter anaknya.

Yang ketiga, Qaulan Ma’ruufan. Perkataan yang baik, yang penuh dengan penghargaan, menyenangkan dan tidak menistakan. Apabila kita menemukan kesalahan dalam perilaku atau ucapan anak, tegurlah dengan tetap menjaga kehormatan anak, jangan dinistakan di depan orang banyak.

Yang keempat, Qaulan Kariiman. Perkataan yang mulia, yang memberi motivasi, menumbuhkan kepercayaan diri, perkataan yang membuat anak bisa menemukan potensi dirinya. Misal, ada anak yang mengeluh pada orangtuanya karena nilai fisika selalu jelek. Ayahnya berkata, “Waktu SMP, nilai fisika ayah juga selalu jelek. Tetapi, sekarang ayah malah jadi guru besar fisika. Ayah yakin kamu bukan bodoh, tapi belum menemukan teknik belajarnya.”

Ini contoh ucapan yang qaulan kariiman, ucapan mulia yang penuh motivasi. Apa contoh yang tidak qaulan kariiman? Ortu yang komentar, “Emang kamu nggak ada bakat di fisika, sampai kapan pun pasti jelek nilainya.” Hati-hati, ucapan ini bisa membunuh semangat dan karakter anak.

Yang kelima, Qaulan Layyinan. Perkataan yang lemah lembut. Ucapan lembut mencerminkan cinta dan kasih sayang, sementara ucapan kasar mencerminkan kemarahan dan kebencian. Islam mengajarkan kita layyin alias lembut, penuh cinta dan perhatian.

Dalam riwayat Imam Ahmad, diungkapkan bahwa Rasulullah bertemu dengan seorang sahabat yang sangat melarat. Rasul bertanya, “Mengapa kamu mengalami kesengsaraan seperti ini?” Sahabat itu menjawab, ”Ya Rasulullah, saya mengalami kemelaratan ini karena selalu berdoa, ’Ya Allah, berikanlah kepadaku kemelaratan di dunia, sehingga dengan kemelaratan itu aku bisa bahagia di surga.”

Mendengar jawaban ini, Rasul bersabda, ”Inginkah aku tunjukkan doa yang paling baik? Robbanaa aatina fid dunya hasanah, wafil aakhirati khasanah wa qinaa ‘adzaabannar (Ya Allah, berikan kepada kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akherat serta jauhkan kami dari azab neraka).”

Coba kita perhatikan kasus tersebut. Doa yang diucapkan sahabat itu salah. Ia minta melarat di dunia, karena berharap kebahagiaan di akherat. Akan tetapi, Nabi tidak memarahinya. Beliau menunjukkan doa terbaik dengan penuh kelembutan. Apa hikmah yang bisa kita ambil? Dalam berkomunikasi dengan anak, bila mereka melakukan kesalahan, jangan dihadapi dengan kemarahan, apalagi menggunakan bahasa yang kasar. Gunakanlah bahasa yang lembut, penuh cinta dan hikmah.

Yang keenam, Qaulan Maysuura, perkataan yang mudah. Maksudnya, ucapan yang mudah dicerna, tidak berbelit-belit. Bisa juga bermakna ucapan yang membuat anak merasa mudah untuk melaksanakan apa yang kita katakan. Misal, ada seorang anak mengeluh bahwa belajar Bahasa Inggris itu susah.

Ada orangtua berkomentar, ”Teman Mama sekarang sekolah di Amerika. Padahal dulu, nilai bahasa Inggrisnya jelek. Tapi, ia tekun, maka sesulit apa pun pelajaran, kalau kita tekun insyaAllah jadi biasa dan akhirnya bisa.”

Inilah contoh ucapan yang maysuura, ucapan yang membuat orang yang mendengarnya merasa mdah dan ringan. Sayangnya, ada ortu yang berkomentar begini, ”Emang Nak, kalau nggak cerdas, belajar sekeras apapun tetap aja bodoh!” Inilah contoh ucapan yang tidak maysuura karena ucapannya membuat anak menjadi semakin merasa sulit, bahkan jadi putus asa. (*)

Don’t Judge

A 24 year old boy seeing out from the train’s window shouted ” Dad, look the trees are going behind!”. His dad smiled.

A young couple sitting nearby, looked at the 24 year old’s childish behavior with pity.

Suddenly he again exclaimed. “Daaaad, look the clouds are running with us!”.

The couple couldn’t resist and said to the old man. “Why dont you take your son to a good doctor?”

The old man smiled and said “I did. We are just coming from hospital. My son was blind from birth, he just got his eyes today. Every single person on the planet has story. Dont judge people before you truly know them. The truth might surprise you. Think before you say something!”

 

Flu, Penyakit Paling Gak Enak Sedunia

Hatsssyyiiii!! 

Sniiifff, ya ampuuuun, bersin lagi! Entah udah keberapa kalinya seharian ini. Ingus-ingus berleleran. Mata jadi berkunang-kunang. Kepala pusing ga karuan. Huuft!

Flu emang penyakit yang gak ngenakin yak. Sebenernya yang meler-meler tuh cuman idung. Tapi entah kenapa, bisa merembet ke semua organ tubuh plus mengganggu seluruh sendi kehidupan berbangsa dan bernegara *woeekss*. 

Dan, kalo “cuma sakit flu” masak sampe izin ga ngantor seh? 

Itu dia. yang bikin flu jadi penyakit paling ga enak sedunia. 

Hatssyiiii, hatssyiiiiii!!

*sekian update blog hari ini*

Iman Kalahkan Eman

Oleh: @nurulrahma 

“Ibu, aku mau nyumbang.” Baru saja kami berdua masuk pintu supermarket, eh, Sidqi, anak saya, sudah menunjuk kotak sedekah yang bertengger di dekat tempat penitipan barang.

“Itu Bu, aku minta uangnya, mau infaq.”

Aku membuka dompet. Menghitung uang yang ada di dalamnya. Harus beli minyak goreng, susu yang harganya ‘enggak sopan’ mahalnya, beras, mie, sabun cuci… Haduh. cuma ada 1 lembar seratus ribuan, 1 lembar 50 ribuan, plus 5 lembar 2 ribuan di dompet. Mana cukup?

“Lain kali aja ya Dek, nyumbangnya… kita kan sering ke sini…”

“Kasihan, Bu. Kotak sumbangnya masih sedikit uangnya. Nanti temen-temen yatim nggak bisa makan dan sekolah, gimana?”

Ugh. Aku tertohok sekaligus terpojok. Pagi-pagi sudah dapat ‘siraman rohani’ dari ‘dai cilik’ bersuara sumbang yang hobi menyumbang.

“Ya udah. Ini kamu cemplungin ke sana.” Aku angsurkan selembar 2-ribuan.

Sidqi memandangku heran. ”Kok cuma segini Bu? Yang 50 ribuan, boleh?”

Arrrghhh, ni bocah! Udah tau kita mau belanja bulanan, kok ya malah minta duit yang lebih gede?

“Dek, kita ini mau belanja. Udah nyumbangnya segitu aja. Eman-eman duitnya. Nanti kan ada orang lain yang bakal ngisi tuh kotak,” saya berusaha mengelak.

“Loh, kata Bunda di sekolah, kalau nyumbangnya lebih banyak, pahalanya lebih gede. Lagian, Ibu kan nanti bisa ambil uang di ATM. Ibu bawa ATM kan?”

Arrggghhh (lagi). Benar-benar pukulan telak dari seorang bocah 5 tahun. Tak mau berdebat panjang lebar—apalagi para pramuniaga asyik ngikik melihat debat kami berdua—saya buru-buru keluarkan duit 50 ribu. ”Nih, masukin!”

***

Bicara soal habit bersedekah, saya mengaku kalah dengan anak saya. Sejak kecil, Sidqi memang menunjukkan antusiasme luar biasa untuk beramal. Di sekolah, saya sering dapat laporan dari Bunda—guru dia—di TK. ”Mama, kemarin Sidqi kasih saya susu kotak. Katanya buat anaknya Bunda,” begitu kata Bunda Ira suatu ketika.

”Mama, maturnuwun, kemarin Sidqi bagiin kerupuk dan kue buat saya,” ungkap Bunda Faiz lain hari. Atau, ungkapan senada datang dari teman sekelasnya.

“Sidqi kasih minuman kotak buat aku kemarin,” kata Labib, yang gemar main dengan dia.

Di satu sisi, saya senang dengan habit anak saya. Tapi, di sisi lain, naluri manusia saya yang memegang falsafah “Hemat Pangkal Kaya” menunjukkan protes. Gawat nih, kalau Sidqi ‘terlalu baik’ bisa-bisa berakibat ‘tidak baik’ karena bakal menguras dompet ibunya…

Ah, ternyata, begitulah setan menggoda saya. ”Dan setan menakutimu dengan kemiskinan…[QS Al-Baqoroh]

Begitulah, sifat eman begitu menyergap dan menguasai relung kalbu saya. Eman (diucapkan seperti nama seorang pelawak) dalam bahasa Jawa berarti rasa berat hati, sayang, dan tidak ikhlas melepaskan. Seperti ungkapan “Eman-eman kalau uangnya harus disumbangkan”. Itu berarti “Sayang sekali kalau uangnya harus disumbangkan”. Eman itu rasa sayang yang menggandoli ketika harus berpisah dengan sesuatu.

Eman menunjukkan sikap takut kehilangan, keterikatan, dan tidak rela memberikan. Penyakit yang menghantui amal sedekah dan perbuatan baik lainnya. Rasa eman juga menjadi diagnosa utama tentang penyakit sejuta umat manusia: terlalu cinta kepada dunia.

Amal sedekah, qurban dan aneka ibadah dalam agama menjadi salah satu bentuk ujian tentang seberapa besar rasa cinta kita. Karena cinta perlu pembuktian. Lewat ujian dalam sebuah pengorbanan. Dari situ dapat dilihat kualitas cinta yang sesungguhnya. Karena cinta sejati selalu berwujud pengorbanan. Seperti cinta seorang Ibu yang rela berkorban nyawa demi bayi yang dilahirkannya.

Begitu juga dengan cinta kita kepada Allah. Juga butuh pembuktian. Tidak cukup kita hanya mengatakan, ”Saya orang Islam yang mencintai Allah…” Tapi, pas diajak menuju amal kebaikan, kita buru-buru mengatakan, “Lain kali aja yaa… Saya sudah nyumbang lewat lembaga anu, lembaga itu…”

Pertanyaannya adalah, ‘lain kali’-nya itu kapan? Lalu, kalau sudah nyumbang lewat aneka lembaga, sudah seberapa besarkah porsi donasi dan kontribusi kita? Eman ini memang hanya bisa dikalahkan oleh iman.

Iman, artinya sebuah kepercayaan. Rasa percaya bahwa Allah itu memang ada. Percaya kalau rezeki itu Allah yang Maha Mengatur. Percaya bahwa di tiap rezeki yang dititipkan Allah untuk kita, ada porsi saudara-saudara kita yang kurang beruntung, yang memang harus rutin kita keluarkan. Percaya pada janji Allah bahwa kebaikan kita akan dibalas hingga 700 kali lipat. Percaya bahwa kita nggak akan jatuh miskin hanya gara-gara hobi bersedekah. Dan kenyataannya, hingga detik ini, tidak ada satu orangpun yang mendadak bangkrut karena gemar beramal. Dengan berbekal iman, maka rasa eman itu akan sirna. Berganti perasaan lega luar biasa dan bahagia tiada tara. Karena iman kita berhasil mengalahkan eman.

Bersedekah memang erat kaitannya dengan masalah iman. Tidak cukup hanya dibahas dalam tataran kajian, tapi iman ini harus berwujud dalam tindakan. Sama seperti kisah Nabi Ibrahim. Tanpa rasa eman, ia harus merelakan anak yang begitu dicintainya. Iman Ibrahim telah mengalahkan eman. Begitu pula dengan putranya, Ismail.  Tanpa rasa eman, didorong semangat iman, rela memberikan nyawanya sendiri sebelum digantikan oleh domba. Tak ada perasaan eman-eman, karena sudah terlanjur cinta pada Allah dan beriman pada-Nya.

“Ibuuuu…. Aku mau nyumbang…”

Kali ini, suara Sidqi tak lagi terdengar sumbang, Ia sudah menularkan virus ‘hobi nyumbang’ padaku.

“Mau nyumbang kemana lagi Dek?”

“Ini. Ada kotak sedekah anak sholeh. Tadi barusan dikasih sama mas Iswanto dari Nurul Hayat. Boleh ya Bu? Nanti nama Sidqi ada di kuitansi lucu. Boleh ya Bu?”

Mata Sidqi berbinar lebar. Kubayangkan, betapa ia kian semangat menebarkan virus-virus gemar bersedekah pada teman mainnya. ”Nanti aku bilang mas Dafi, Dek Iza, Mbak Dini, Mas Awal, Mas Rizki, Mbak Ayun, Mbak Vira, Mbak Sita… Aku bilang biar mereka semua pada ikut nyumbang ya Bu.”

Tuh kan, barusan saya bilang apa.(***)

  

 

Tersadar Jauh dari Allah

Reminder… Truly Reminder…

Febrianti Almeera

“Sejauh apapun kita salah melangkah, kembalilah.. pada Allah..” – Febrianti Almeera

Sore kemarin seperti biasa saya mengikuti sebuah ta’lim yang bernama ta’lim Darusy Syabab. Ta’lim ini didirikan oleh guru saya, Rendy Saputra, dan sudah berjalan dalam kurun waktu kurang lebih 2 tahun. Terbuka untuk umum, perempuan dan laki-laki (dibatasi oleh hijab). Bertempat di Jl. Tubagus Ismail no. 5D, berlangsung setiap Senin, pk 17.00 – 19.00. Di sela waktu ta’lim, kami akan shalat maghrib dan isya bersama. Saya senang sekali mengikuti ta’lim ini, karena ya.. yang namanya manusia, keimanan jelas tidak stabil, kadang naik kadang turun. Dalam seminggu, banyak sekali hal yang terjadi dalam kehidupan manusia, dan pastilah ada hal-hal yang menggoyahkan iman kita. Maka bagi saya, berkumpul dengan orang-orang shalih merupakan salah satu charger terbaik yang mampu menstabilkan kembali keimanan serta keyakinan saya terhadap Allah SWT. Dan terbukti, selalu berhasil. Alhamdulillah 🙂

Sore kemarin itu saya berangkat dengan beberapa…

View original post 1,691 more words

Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Disclaimer: Tulisan ini sudah mengendap di laptop sekitar setahun lalu. Waktu itu, umur Sidqi, anak saya masih 6 tahun, dan sudah saya “paksa” untuk masuk ke SD swasta  yang berjarak sekitar 700 meter dari rumah kami. Maksud hati pengin anak ‘lebih unggul’ karena sudah kelas 1 SD di umur yang amat muda. Lumayan Pede-lah dengan kemampuan kognitif Sidqi. Apa daya, ternyata, kondisi sekolah plus banyak hal lain justru membuat anak saya terjerembab dalam “depresi” dan berubah jadi sosok yang sama sekali nggak saya kenal 😦 Saya posting di sini. Semoga kita bisa ambil sedikit pelajaran. Bahwa, lebih cepat belum tentu lebih baik 🙂

Demi Buah Hati: Sudahkah Rela Berpayah-Payah?

Mewek saban denger kata "sekolah"
Mewek saban denger kata “sekolah”

Sudah beberapa hari belakangan ini, Sidqi, anak saya mogok sekolah. Tiap kali ditanya alasannya, Sidqi tidak punya jawaban yang memuaskan.

“Pokoknya aku ndak mau sekolah.”

“Kenapa? Apa temen-temenmu nakal?”

“Bosan. Aku capek sekolah. Aku lebih suka di rumah. Pokoknya, aku nggak mau sekolah.”

Ingin rasanya menjadi orangtua “semi-Hitler” yang langsung berteriak lantang,

”Ayooo sekolaaahhh! Kalo gak sekolah, mau jadi apa kamu, hah?!?!?”

Tapi, sekuat tenaga saya coba menahan amarah. Sabaar…. Sabaarrr…..

Anehnya, meski membolos beberapa hari, pihak sekolah tidak memberikan semacam “teguran” kepada kami. Tadinya saya berharap minimal wali kelasnya yang berkunjung ke rumah. Atau, paling tidak, menelepon dan menanyakan kabar Salman. Sama sekali tidak.

“Wong sekolah gratis, yo wis, jangan punya ekspektasi apapun,” suami saya sempat berujar demikian.

Ya. Beginilah akibat dari paradigma orangtua yang punya “awareness tinggi” dalam hal “financial-planning” (bahasa yang mudah dicerna: orangtua yang super-irit cenderung pelit). Dari sekian banyak sekolah Islam yang ada di kota ini, kami justru menjatuhkan pilihan pada sekolah X. Ya alasannya itu tadi. Karena Gratis.

Akibatnya bisa ditebak. Kalau ada idiom “Gratis kok njaluk slamet?” (Gratis kok minta selamat?) maka itulah yang kini tengah kami hadapi.

Saya putar otak menghadapi kemelut ini.

Apakah saya mau menegakkan disiplin, dengan “memaksa” anak sekolah? Muncul kekhawatiran, kalau-kalau nantinya Sidqi justru “trauma sekolah” dan benar-benar sama sekali tidak mau berhubungan dengan segala sesuatu yang bernama sekolah.

Yang lebih parah lagi, bisa-bisa saya diciduk Komisi Perlindungan Anak, gara-gara berbuat KDRT—Kekerasan dalam Rumah Tangga pada anak.

Tapiii, kalau saya terlalu lunak, dan tetap membiarkan Sidqi berasyik-masyuk dengan bolos-membolos? Hhhh… mau dibawa kemana hidup dia nantinya?

Dan, apa kata keluarga besar kami?

Apa kata adik ipar saya yang menggondol gelar PhD dari sebuah universitas ternama di London, Inggris?

Apa kata omnya Sidqi yang kini jadi dosen di ITB?

Apa kata tantenya Sidqi yang cum laude dari Fakultas Kedokteran di Unair dan kini lagi ambil spesialis di UI?

Oh, seluruh keluarga besar kami adalah para manusia brilian. Suami saya juga menggondol gelar Master dari ITS.

Apa kata mereka, kalau ada satu bocah di dinasti ini yang ogah sekolah? Oh, APA KATA DUNIA??

BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya
BERTIGA: Sidqi, emak dan utinya

Ini sudah menginjak hari ke-15 Sidqi membolos. Belum ada jurus cespleng yang bisa saya terapkan agar Sidqi mau kembali ke sekolah.

”Dek, kamu tahu kan kalau sekolah itu untuk masa depan dan kepentingan adik?”

“Ndak. Sekolah itu untuk kepentingan Ibu! Bukan kepentinganku!”

Jleb! Mak jleb jleb!

Mungkin Sidqi benar.

Akulah yang berambisi menyekolahkan dia.

Akulah yang punya keinginan besar untuk menjadikan Sidqi seorang yang punya gelar akademis berderet-deret.

Akulah yang punya kepentingan itu.

Akulah yang merasa malu kalau anakku tidak sepintar sepupu-sepupunya yang lain.

Akulah yang punya kepentingan untuk mendapatkan “kalungan medali” sebagai “ibu yang sukses mendidik anaknya sehingga melahirkan sosok yang amat-sangat brilian di dunia sains dan mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia.”

Akuilah…. Akuilah kalau aku yang ‘gila pujian’… Ingin memantaskan diri di hadapan manusia… Punya segudang ambisi agar muncul sebagai wanita hebat yang mampu menyeimbangkan antara karir dan keluarga. Preeettt! Kerdil sekali pikiran saya!

Ya Allah…

Terkadang saya begitu bersemangat mengejar pengakuan manusia… Tapi, saya lupa, kalau sesungguhnya, “sertifikat” dari Allah justru yang amat penting dan malah tak pernah kuhiraukan… Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah….

Sesaat, saya tenggelam dalam istighfar yang panjang…. Astaghfirullah hal ‘adzim…..

***

Ngacaaaaa muluuuuu :-P
Ngacaaaaa muluuuuu 😛

Pelan tapi pasti, saya mencoba menerima kondisi ini. Saya berdamai dengan situasi. Oke. Anak saya ogah pergi ke sekolah formal. Di satu sisi, ini memang masalah. Kendati demikian, toh masih banyak hal baik yang bisa saya temukan dalam diri Sidqi. Ia masih mau ngobrol dengan saya. Ia masih mau menulis. Ia masih mau bergaul dengan anak-anak kecil di kompleks rumah. Ya sudahlah. Mungkin inilah cara Allah supaya saya mau menundukkan hati, dan kembali bermunajat kepada-Nya. Kadang-kadang, Allah memang menunjukkan kasih sayang-Nya dengan mengirimkan “sedikit” cobaan dalam hidup kita.

Ketika anak kita tengah “bermasalah”, jangan buru-buru menuding dia sebagai “si biang onar”. Atau melabeli dia dengan ucapan yang sama sekali nggak enak didengar, “Kamu itu bisanya cuma ngrepotin papa-mama….”

Ternyata anak kita, meskipun tampak sebagai sosok yang “tidak tahu apa-apa”, mereka punya daya rekam yang sungguh kuat. Tiap kalimat yang meluncur dari bibir kita, akan menancap di otak mereka. Kalimat buruk yang menggores sukma, tentu akan sangat mudah diingat. Apalagi, bila kalimat itu meluncur dari bibir sang ibunda, “Dasar anak nakal! Nggak tahu diri!!” Detik itu juga, harga diri si anak akan runtuh, hancur berkeping-keping.

Yang jelas, setiap orangtua punya kewajiban untuk mendidik buah hati mereka berdasarkan Fitrah Ilahiah atau sifat bawaan dari Sang Pencipta. Mereka lahir laksana secarik kertas putih. Lingkunganlah yang kemudian memberinya warna, termasuk dalam hal ini pola asuh orang tua.

Untuk lebih bersyukur atas segala kondisi anak, marilah kita senantiasa Menyadari Semua Anak adalah Bintang. Semua anak PASTI hebat.

Allah, Sang Pencipta yang Maha Sempurna tidak pernah menciptakan produk gagal. Seorang anak yang dalam kaca mata fisik atau mental kerap kita labeli sebagai “si cacat” justru adalah “sebuah bintang” yang bisa menyinari lingkungannya.

Karena itulah, kita harus menjadi “Guru Terbaik bagi Anak”. Bukan berarti kita harus berstatus sebagai Profesor Anu, atau Doktor Fulanah, atau harus menyandang gelar yang panjangnya laksana gerbong Kereta Api. Bukan itu!

Coba kita lihat sejarah Imam Syafii dan Imam Ahmad. Ibunda beliau-beliau itu bukanlah sosok perempuan dengan kecerdasan di atas rata-rata. Sama sekali tidak! Yang mereka miliki adalah, ketulusan menjadi ibu, penerimaan tanpa syarat, cita-cita yang demikian agung dan memuliakan, serta kesediaan dan kesabaran untuk berpayah-payah dalam mendidik dan membesarkan anaknya.

Betapa banyak orang-orang sukses justru lahir dari ibu-ibu lugu. Carl Frederich Gauss yang berjuluk “The Princess of Matematics” lahir dari orangtua tak berpendidikan. Ibunya bahkan buta huruf.

Apakah Anda pernah membaca buku “EMAKNYA DAOED YOESOEF?” Mata kita pun akan segera terbuka bahwa Menteri Pendidikan pertama Indonesia yang luar biasa itu ternyata adalah anak dari seorang emak yang buta huruf, orang kampung biasa seperti orang kampung kebanyakan. Yang berbeda adalah, Emaknya punya jiwa dan doa yang tak pernah putus untuk kebaikan anaknya! Subhanallah….

Coba berdirilah di depan cermin. Tanyakan pada diri Anda. “Sudahkah aku punya keikhlasan dan rela berpayah-payah untuk mendidik buah hati?” Jawablah dengan jujur. Jangan sampai, pepatah “Buruk Muka, Cermin Dibelah” terjadi pada diri kita.(*)

Titik Winarti : Konsisten Berdayakan Kalangan Difabel

Image
Ibu Titik Winarni (kiri) bersama Ucil, salah satu difabel yang udah jadi ‘tangan kanan’-nya

Tidak banyak kalangan yang menaruh perhatian kepada para penyandang disabilitas (difabel). Berbeda halnya dengan Titik Winarti. Ibu energik yang berdomisili di kawasan Sidosermo Indah ini punya cara yang amat kreatif, untuk memberdayakan para penyandang disabilitas (difabel). Di bawah bendera Tiara Handycraft, beliau merekrut sejumlah penyandang disabilitas (difabel) untuk sama-sama melahirkan produk-produk yang berkualitas.

Tak hanya dipasarkan di dalam negeri. Produk Tiara Handycraft juga telah diekspor dan diminati banyak konsumen di mancanegara. Di antaranya, Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Jaringan pemasaran yang mengglobal ini merupakan buah dari prestasi yang diraih Titik di tahun 2005. 

Saat itu, Titik meraih penghargaan Microcredit Award dari pemerintah. Dia lalu berpidato di depan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), saat mengikuti pencanangan Tahun Internasional Kredit Mikro di markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Image
Yihaaa… Tas yang saya pakai itu hasil kreasi teman-teman difabel loh!

Inilah profil social-enterpreneur yang luar biasa. Semua prestasi dan kerja keras Titik itu diawali dengan modal yang aman minim: 500 ribu saja! Ya, Titik mendapatkan modal dengan berhutang di salah satu koperasi wanita di Surabaya. Dan, usahanya bergulir dan berkembang dengan begitu massif. Plus, memberdayakan kaum penyandang disabilitas.

Tentu banyak inspirasi yang bisa kita petik dari beliau. Dalam sebuah kunjungan hangat di rumah yang sekaligus berfungsi workshop-nya, saya asyik berbincang dengan beliau.

Di Indonesia, tidak banyak orang yang punya kepedulian pada penyandang disabilitas. Bisa Ibu jelaskan latar belakang mengapa Ibu memilih untuk fokus di pemberdayaan bagi mereka?

Sedari awal, saya punya spirit untuk menunjukkan kepada masyarakat umum, bahwa anak-anak ini sebenarnya juga bisa menghasilkan karya. Hanya saja, mereka memang tidak mendapatkan kesempatan sebagaimana orang kebanyakan. Dalam hal ini, saya ambil peran itu. Saya berdayakan mereka untuk menjadi pengrajin, penjahit, pembuat pola dan berbagai pekerjaan yang ada di Tiara Handycraft. Dengan memberikan kesempatan seperti ini, maka saya yakin bahwa anak-anak yang berkebutuhan khusus seperti mereka juga mampu berkarya. Ini tentu sekaligus bisa menjadi pelecut semangat bagi anak-anak normal, bahwa yang difabel saja mampu, masak yang anggota tubuhnya lengkap, malah malas-malasan dan ogah berkreasi?

Respon masyarakat bagaimana terkait pemberdayaan ini?

Memang awalnya ada yang berpikiran sempit dan cenderung under-estimate. ‘Anak cacat bisa apa sih?’ Ada juga yang menganggap, kalaupun anak difabel ini memproduksi suatu tas atau dompet, maka biasanya para konsumen membeli produk itu hanya karena belas kasihan. Padahal, kami menerapkan quality control yang amat ketat bagi produk handycraft yang kami hasilkan.

Bagaimana kontrol mutu yang Anda terapkan?

Apabila ada (calon) konsumen yang mempertanyakan kualitas produk kami, maka saya menjawab, “Ibu tahu merek Dannis Collections?” Tentu merek Dannis sudah punya branding image yang sangat kuat. Para penikmat fashion pasti sudah kenal merek ini. Nah, saya ceritakan pada mereka, “Anak-anak di Tiara Handycraft juga dipercaya untuk memproduksi beberapa items di Dannis.” Tentu mereka terkejut. Melihat standar jahitan Dannis yang rapih dan berkualitas, mungkin beberapa orang tidak percaya. Tapi, saya terus tunjukkan kepada masyarakat bahwa, ini lho, anak-anak difabel ini juga punya standar kerja dan output yang tidak kalah. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh, sehingga mendapatkan pengakuan dari brand fashion yang terkenal di negeri ini.

Image
Para karyawan difabel di Tiara Handycraft Surabaya

Setelah dipercaya menjadi vendor untuk Dannis, terobosan apa lagi yang Ibu terapkan pada Tiara Handycraft?

Sedari awal, saya berupaya mencari jalan untuk bisa mengakses pasar luar negeri. Kami terus membidik beberapa negara sebagai target market untuk produk-produk Tiara Handycraft. Alhamdulillah, sejumlah Negara memberikan respons positif. Produk kami diterima oleh konsumen di Brazil, Spanyol, Belanda, Amerika Serikat serta Singapura. Saat ini, tren yang berkembang adalah, para konsumen akan membeli suatu produk berdasarkan ‘personal story’ yang melekat di produk tersebut. Jadi, misalnya, dia beli tas produk Tiara. Nah, di label harga, kami jelaskan bahwa produk ini digarap oleh penyandang tuna daksa. Maka, ia akan dengan senang hati bercerita ke rekan-rekannya bahwa “Hei, ini lho, saya pakai tas yang dibikin oleh penyandang difabel.”

Jadi, saya bikin produk itu handmade, eksklusif, ada pencantuman identifikasi pembuat produk. Karena kalau lihat orang beli tas mahal bermerek, sudah banyak kan? Nah, kami lebih menyasar para peminat barang yang esklusif dan dibuat dengan sentuhan personal.

Saat ini ada 40-an pekerja difabel yang tinggal di rumah Ibu. Bagaimana keluarga Ibu merespons pilihan yang Ibu ambil?   

Memang pada awalnya dua anak saya, Ade Rizal dan Tamzis Aribowo tidak setuju dengan sistem workshop sekaligus asrama yang saya berlakukan di rumah. Mereka bilang, “Aku nggak punya privasi, nggak punya kamar sendiri.Teman-temanku yang lain pada punya kamar sendiri, ini aku disuruh tidur bareng orang banyak.”

Saya jelaskan pelan-pelan ke mereka, “Kalau punya kamar sendiri kan sudah biasa? Semua anak juga seperti itu kan? Kalau kamu, punya kehidupan yang LUAR BIASA, karena mau berbagi dengan puluhan orang lain. Difabel, lagi! Jadi, kenapa musti minder? Kan lebih baik jadi anak yang luar biasa.”

Alhamdulillah, pelan tapi pasti, anak saya ikhlas menerima kebijakan kami. Bahkan, sekarang mereka sudah terbiasa untuk “sedekah kamar”. Kan, sekarang ini mereka kuliah di Malang. Mereka mengajak satu rekan kuliah yang dhuafa untuk tinggal bareng di kamar kos mereka,dan anak saya yang bayarin. Alhamdulillah, tidak saya sangka, kebijakan tinggal bersama difabel, menjadi pemicu anak untuk cinta dan rajin sedekah.

Dari tadi, ibu menggunakan istilah difabel, bukan disabilitas. Apa makna “difabel” sejatinya?

Difabel itu kalau ditilik dari arti katanya : different ability, maknanya: kemampuan yang berbeda. Kalau disable atau disabilitas, artinya: dis = tidak ; able = mampu. Jadi, kalau mengatakan, disable, secara tidak langsung, kita menuding anak itu sebagai anak yang ‘tidak mampu mengerjakan apa-apa’. Padahal, kita lihat sendiri, di workshop saya, semuanya anak difabel! Justru dengan semangat ingin menjadi manusia yang bermanfaat, mereka sanggup melakukan banyak hal, yang mungkin belum tentu bisa dilakukan orang-orang yang mengaku “normal”. Karena, sesungguhnya “cacat” itu kan ada di hati dan di pikiran. Kalau seseorang sudah patah semangat dan tidak mau bangkit atau malas-malasan melakukan hal yang erbaik, maka itulah definisi orang cacat sebenarnya.(*)

ASMA NADIA : Sebarkan Virus Bunda Anti-Galau

Image
Asma Nadia (tengah) dan saya kompak pakai jilbab pink-fuschia gitu deeh 🙂

“Cerita-cerita yang tertulis di buku saya, memang sarat pesan khususnya buat para Ibunda. Tujuannya? Tentu supaya para Ibu tidak galau. Coba bayangkan, Ibu itu kan tugas utamanya mendidik dan membesarkan buah hati. Kalau ibunya galau, gimana nasib anaknya, coba? Seorang ibu tak boleh berlama-lama lemah, sebab ada anak-anak yang memerlukan senyum dan kehadirannya di sisi mereka.”(Asma Nadia)

Siapa tak kenal Asma Nadia?

Nama yang demikian kuat bercokol di dunia sastra. Nama dan karyanya kian melanglang buana, seiring dengan aneka novel, kumpulan cerpen dan karya literaturnya yang banyak bermuatan edukasi, khususnya bagi orangtua. Banyak misi menarik yang mencuat dari ragam karya yang ia lahirkan. Yang paling menonjol adalah, bagaimana supaya kita menjadi sosok orangtua yang semakin baik dari hari ke hari.

Sebagai novelis, Asma menurunkan bakatnya ke dua buah hatinya. Eva Maria Putri Salsabila dan Adam. Mereka berdua sudah menerbitkan novel anak-anak, dengan ciri khas masing-masing. Jiwa sastrawan nan puitis begitu kuat mengakar dalam diri Caca, panggilan akrab Putri Salsa. ”Pernah, suatu ketika Caca datang dan menyodorkan kertas yang ia hias seperti penghargaan. Di kertas itu tertulis: Number One Mom, atau The Best Mom in The World. Sering juga Caca membungkus kado untuk saya, terutama kalau saya baru pulang dari perjalanan jauh berhari-hari. Kado itu berisi barang-barang lama saya, seperti kotak tisu, bingkai foto, jepit rambut. Uniknya, selalu ada kalimat penuh cinta yang tertera di bungkusnya, seperti “For My Beloved Mom”.

Kasih sayang yang tak terperi antara Ibu dan anak ini memang menggetarkan hati. Rasa sayang Caca terhadap Bundanya adalah buah dari cinta kasih yang membuncah dari orangtua kepada anak. Di tengah jadwalnya yang begitu padat, suatu ketika, Asma meluangkan waktu untuk hadir dalam pentas drama di sekolah Caca. ”Usai tampil dan turun dari panggung, Caca kontan menubruk saya dan mengatakan ‘Aku punya surprise untuk Bunda’. Tangan kecilnya menyodorkan sebuah hadiah yang ia bungkus dengan kertas putih berhias dan bertuliskan ‘Thanks for Watching Me, Mom!’ Subhanallah, perasaan saya langsung nyess ketika memeluknya saat itu. Tulisan Caca menyadarkan saya betapa berartinya kehadiran saya bagi anak seperti dia,” lanjut Asma.

Asma merasa bersyukur lantaran bisa menyaksikan performance buah hatinya. Betapa banyak orangtua yang enggan terlibat dalam kegiatan sekolah sang buah hati, dengan dalih kesibukan yang menggunung. ”Untunglah saya mengundurkan jadwal keberangkatan saya ke luar kota. Dengan membaca tulisan Caca, saya merasa menjadi sosok yang begitu berharga untuk dia.”

Selain melahirkan puluhan buku best seller, Asma Nadia juga kerap mengisi seminar seputar Keluarga Sakinah, di berbagai pelosok daerah, hingga ke mancanegara. Suami Asma, Isa Alamsyah adalah seorang motivator sekaligus penulis. Sepasang suami-istri ini begitu kompak dalam menjalani bahtera rumah tangga, dus memberikan pendidikan yang terbaik bagi buah hati mereka. ”Sebagai orangtua, tugas kita untuk terus mengompori anak-anak, agar mereka terpacu dan berbuat. Agar mereka percaya, they do own the ability to do something. Mereka bisa berbuat sesuatu dan lebih percaya diri untuk menjalani hari sekaligus menatap masa depan,” tukas Asma, “Jadi, ayolah kita para orangtua sama-sama memberi ruang seluas-luasnya, bagi anak-anak kita dan belajar mempercayai. Bahwa mereka bisa!”

Kendati tampak kompak luar dalam, bukan berarti sosok Asma Nadia tampil sebagai “super-mom” di keluarga mereka. ”Kadang ada kalanya anak-anak saya kalau lagi asyik main sama ayahnya, terus saya nyamperin ’Eh, udah pada belajar belum?’ Spontan, anak-anak saya nyeletuk, ’Waduh ada GAN nih… Gangguan Asma Nadia’ Hehehhe,” kelakar Asma. Pun ketika Asma dan suaminya menjalankan Ibadah Haji. Ketika tengah wukuf di Padang Arafah, di luar dugaan, Isa Alamsyah, sang suami, memanjatkan doa yang cukup ‘unik’, ”Ya Allah, semoga ibunya anak-anak tidak bawel-bawel amat…”

Asma percaya bahwa tidak ada pasangan ataupun keluarga yang sempurna. Sebagaimana yang tertulis di cover buku Sakinah Bersamamu. Begini bunyinya: Cinta bukanlah mencari pasangan yang sempurna, tapi menerima pasangan kita dengan sempurna. ”Sakinah memang harus diusahakan. Berusaha menjadi pasangan yang menyenangkan, bersyukur atas bagaimanapun kondisi pasangan kita. InsyaAllah dengan memiliki tujuan yang sama, yaitu menggapai ridho Yang Maha Kuasa, maka perjalanan rumah tangga kita akan menjadi indah,” pungkasnya.(*)

Image
Sempat dinasihatin juga, supaya saya istiqomah berdiet *uhuk!*