Pelesiran bersama Sahabat, Kenapa Tidak?

Pelesiran bersama Sahabat, Kenapa Tidak?

Sahabat adalah orang yang berhubungan dekat dengan kita, sampai-sampai seperti saudara.Percaya deh, dalam hidup ini kita butuh sekali dengan yang namanya sahabat. Kita bisa berbagi curahan hati, kebahagiaan, kesedihan, bahkan sekadar seseruan bareng. Sahabat itu hadir melalui seleksi alam.Tidak semua orang yang kita temui itu bias menjadi sahabat.Hanya orang-orang tertentu saja yang seiring dengan berjalannya waktu, selalu ada di sisi kita dalam keadaan susah dan senang. Tsaah…. Sudah seperti pasangan hidup saja ya?

Continue reading

Semakin Bangga Jadi Orang Indonesia di Gathering Netizen bareng MPR

“Sebenarnya saya ada jadwal acara lain. Tapi begitu tahu bahwa di Jogja sedang berkumpul 150 blogger dan netizen, maka saya batal datang di acara tersebut dan memilih untuk bergabung dengan para netizen di sini!”

Applause kontan menggema di Ballroom Hotel Eastparc, Jogja. Wewww, itu pidatonya Pak Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI loh! Iyesss, Alhamdulillah… peran blogger dan netizen sebagai key opinion leader dan atau influencer udah semakin diakui nih, gaes. Bahkan, Pak Ketua MPR aja sampe bela-belain datang ke acara para netizen. Jadi, jadi, hare gene masih demen nulis konten menggalau bin nyinyir? Jangan dong, plis :)))

Yap. Tim MPR RI memang tengah menjalin sinergi dengan para blogger dan netizen. Intinya, tim MPR melihat bahwa netizen ini punya POWER dalam menggerakkan opini publik. Kalo yang di-share konten positif, insyaAllah bakal kasih multiplier effect yang cihuy. 

That’s why, MPR melakukan pendekatan sosialisasi  4 Pilar MPR RI, dengan mengundang para netizen.

Wait, wait… 4 Pilar MPR RI itu apaaaa hayooo?

Oke, saya jelasin sekilas yah. Empat Pilar MPR RI adalah:

  1. Pancasila sebagai Dasar Negara
  2. UUD ’45 sebagai Konstitusi
  3. Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Negara
  4. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) 

Jangan mengerutkan jidat dulu yak, kalo baca postingan seputar MPR, Undang-undang dan bolo-bolonya ini.

Kenapa? Karena sekarang, semangat kebangsaan bangsa Indonesia kian menurun drastis! Udaaah, ga usah jauh-jauh cari contohnya. Masih inget kan, jawaban asal njeplak si Zaskia Gotik? Euuughhh, plis deh… Walopun mungkin doi konteksnya bercanda (dan yakin banget, itu kan tuntutan/skenario dari produser acara TV ntuh), tapi jokes-nya sama sekali enggak lucu. Zaskia bilang kalo simbol sila ke-5 Pancasila adalah… bebek nungging. Oh. My. God.

“Saat ini, orang sudah enggan bicara tentang Pancasila, malah dijadikan bahan olok-olokan. Ini tentu sangat menyedihkan,” kata Pak Zulkifli. Memang, salah satu tugas MPR adalah melakukan sosialisasi 4 Pilar. Tapi, tentu saja, tugas ini nggak bisa dong, dibebankan hanya ke MPR saja. Karena itu, MPR mengajak netizen untuk jadi “penyambung lidah rakyat” supaya nilai-nilai positif dalam Empat Pilar MPR bisa tersampaikan secara masif.

”Bahkan, nantinya sosialisasi 4 Pilar ini bisa jadi sebuah GERAKAN. Supaya masyarakat bisa terlibat dan ini bisa menjadi sarana untuk membangun karakter bangsa,” ungkap Pak Zul.

Blogger dan Kerangka Sistem MPR

Jumat malam, para netizen beramah-tamah dengan Sekretaris Jenderal MPR RI Bapak Ma’ruf Cahyono, SH MH. FYI, guys, beliau ini adalah Sekjen termuda dalam sejarah MPR! Udah gitu, wawasannya luas banget. Pak Ma’ruf sampe dapat julukan “perpustakaan berjalan” saking piawainya beliau dalam berdiskusi seputar konstitusi. Wheew!

Acara dikemas dengan gayeng. Apalagi Mbak Rharas Yaz (Humas MPR RI) sibuk menggojlok Atanasia “Berbi” Rian, dedengkot Komunitas Blogger Jogja (KBJ) yang sukses menghelat event ini. Ada juga 2 mahasiswa asing yang jadi “special guest” untuk diskusi yang berlangsung hangat. 

Pak Ma’ruf sangat mengapresiasi antusiasme netizen dalam men-support sosialisasi Empat Pilar.

“Selama ini, MPR melakukan sosialisasi lewat berbagai media, cetak, TV, online dan sebagainya. Kali ini, kami menggandeng blogger sebagai sesuatu hal yang baru. Kita sama-sama melakukan simbiosis mutualisme. Para blogger bisa membagikan konten positif untuk membangun karakter bangsa, sehingga blogger masuk dalam kerangka sistem di MPR,” ungkap Pak Ma’ruf.

 

Masih Indonesiakah Kita?

Karena dikemas dengan konten acara yang menarik dus interaktif, Netizen Gathering ini beneran sukses menginjeksikan semangat kebangsaan pada hadirin. Apalagi, Pak Ma’ruf juga menyampaikan Manifesto Gerakan Ini Baru Indonesia yang sungguh membuat naluri kebangsaan kita terhentak.

Masih Indonesiakah Kita?

Setelah Sekian Banyak jatuh bangun

Setelah Sekian Banyak Tertimpa dan tertempa

Setelah Sekian Banyak Terbentur dan terbentuk

Masihkah kita meletakkan harapan di atas kekecewaan

Persatuan di atas Perselisihan

Musyawarah di atas Amarah

Kejujuran di atas kepentingan

Ataukah ke-Indonesia-an kita telah pudar

Dan hanya tinggal slogan dan gambar?

TIDAK!

Karena mulai kini nilai-nilai itu

Kita lahirkan kembali

Kita bunyikan dan kita bumikan

Menjadi jiwa dan raga setiap manusia Indonesia

Dari Sabang sampai Merauke

Kita akan melihat lebih banyak lagi

senyum ramah dan tegur sapa

Gotong royong dan tolong menolong

Kesantunan bukan anjuran tapi kebiasaan

Kepedulian menjadi dorongan

Dari terbit hingga terbenamnya matahari

Kita melihat orang-orang berpeluh tanpa mengeluh

Berkeringat karena semangat

Kerja keras menjadi ibadah

Ketaatan menjadi kesadaran

Kejujuran menjadi bagian harga diri dan kehormatan

Wajah mereka adalah wajah Indonesia

Yang sebenarnya

Tangan mereka adalah tangan Indonesia yang sejati

Keluhuran budi mereka adalah keluhuran Indonesia

Yang sesungguhnya

HARI INI KITA GEMAKAN, INI BARU INDONESIA!

 

Jelajah Wisata Gua Di Kota Kebumen

Kebumen dikenal sebagai salah satu kota kecil di Jawa tengah. Popularitasnya jelas kalah menarik dibandingkan dengan Solo, Semarang atau Yogyakarta. Tetapi bukan berarti kota kecil ini tidak memiliki keistimewaan dalam hal obyek wisata. Sebab ternyata Kebumen memiliki beberapa wisata gua yang patut untuk dikunjungi.

Gua apa saja yang bisa dikunjungi ketika kita singgah di Kebumen?

(1). Gua Jatijajar

Gua yang satu ini merupakan yang paling terkenal di Kebumen. Dengan panjang mencapai 200 meter dan lebar rata-rata 15 meter, gua ini cukup nyaman untuk dikunjungi. Ketinggian gua yang mencapai 12 meter membuat suasana di dalam gua tidak sempit dan cocok untuk berwisata. Ada berbagai patung unik di bagian dalam Gua Jatijajar yang melambangkan kalau gua ini memiliki kaitan erat dengan legenda Lutung Kasarung.

(2). Gua Banyu

Butuh waktu dan perjuangan yang cukup berat untuk masuk ke Gua Banyu. Karena bagian dalam gua ini digenangi air dan jalan masuknya pun cukup sempit. Namun perjuangan kita akan terbayar lunas dengan panorama indah di bagian dalam gunung. Sungguh menakjubkan dan patut untuk dikunjungi.

(3). Gua petruk

Gua petruk dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama yang letaknya agak di depan merupakan tempat tinggal kelelawar penghuni gua. Sementara di bagian kedua yang lebih dalam, mata kita akan dimanjakan dengan pemandangan stalaktit dan stalagmit alami dengan bentuk yang beragam 

(4). Gua Barat

Julukan Gua Seratus Air Terjun memang cocok untuk kawasan wisata yang satu ini. Karena terdapat beberapa air terjun dengan ketinggian beragam di bagian dalam gua. Ada yang tingginya 5 meter dan ada pula air terjun yang tingginya mencapai 20 meter.

Siap menjelajahi wisata gua di Kebumen?

Siapkan fisik prima dan perlengkapan yang memadai, ya. Lihat produk terbaru MatahariMall sebelum memutuskan barang apa yang akan kamu beli.Pilihan produk pakaian, tas ransel dan kebutuhan wisata lainnya tersedia secara lengkap di MatahariMall.

Penawaran diskon istimewanya akan membuatmu bisa berhemat sekaligus memenuhi kebutuhan untuk wisata.

Tabunganmu pun jadi bisa digunakan untuk keperluan lainnya di tempat wisata. Selamat berwisata!

sumber gambar: wikipedia

 

Nuansa Homey Tatkala Menginap di Lorin Solo

Hawa-hawa super duper loooooong weekend udah kerasa banget yak? Saatnya milih destinasi buat dikunjungi  buat liburan kali ini. Gimana kalau kita menikmati  Nuansa Homey Tatkala Menginap di Lorin Solo?
Hotel ini memang terletak agak jauh dari pusat kota Solo. Kira-kira kalau dari  stasiun Solo Balapan , kita kudu menempuh perjalanan 40 menit-an lah ya. Itupun saya pake acara mampir ke minimarket bentar, buat beli arem-arem.  Ish isssh, embaknya gampang banget laperrr, pantesan resolusi langsing-sehat-sentosa gagal muluuuk 😦
Sepertinya hotel ini emang cucok buat dijadikan lokasi nginep rame-rame. Waktu itu, kami kan lagi ikutan Blogger & Netizen Gathering bersama MPR RI. Sekitar 40 bloggers hadir di acara ini. Pas dong, kalo nginep di Lorin. Karena lokasinya  yang jauh dari mall, dll… Jadi kita-kita kagak bakalan keluyuran ke mana-mana, hihihi…
Untunglah. Lorin Solo bisa menghadirkan nuansa yang homey banget. Serasa berada di rumah-rumah wong Jowo sing sugih  banget!
Saya sekamar berdua dengan Mbak Avy. Pas baru dateng nih, kita sempat dianterin ke Hotel Lorin yang bagian depan. Loh, loooh, kok kayaknya udah fully booked ama rombongan dari Pemuda Pancasila?
Setelah tanya-tanya ke petugas hotel, ulalaaa… baru ketahuan kalo ternyata Lor In yang jadi lokasi inap kita, berada di bagian belakaaaaang banget.
Ya udin, tim driver hotel ketiban sampur buat nganterin kita untuk segera cuss ke Lor In yang kawasan di belakang. Nglewatin areal yang jauuuuh, malah lewat di depan hotel Syariah segala, weleh deleeeh 🙂
Walaupun belum ketemu sama tim MPR RI, kita udah boleh leyeh-leyeh nyantai di lobi Lorin. Boleh nitip barang di concierge segala. Dan ternyata,  ada  mushola (atau masjid?) dengan ukuran GEDE BANGET di lantai 5 Lorin ini! Syukaaak, syukaaaak!
Jarang jarang kan ya, ada hotel yang menyediakan masjid DI DALAM GEDUNG HOTEL tersebut. Biasanya kalau nggak ditaruh di lokasi parkir, kadang-kadang malah ditaruh nyeliiiiip banget, di bagian bangunan yang masih direnovasi. Huft!
Kalau lokasi sholat sangat representatif seperti ini, tamu hotel bakal lebih mengapresiasi lagi ya kan?
Balik lagi ke lobby, Alhamdulillah, udah ketemu ama mas-mas dari MPR RI. Super takjub ngeliat mereka, karena bayangan saya orang MPR (ini stigma yang nancep di kepala saya yaaaaa) bakal cenderung kaku, formal, dan orde baru banget *halah*
La ini,  kita malah ngobrol dan diskusi santai bareng Mas Andri dan stafnya yang asik dan seru.
Dapat kunci kamar, cussss deh, bareng Mbak Avy 🙂
Aaaakkkk, langsung ngelurusin punggung di kasur berkawan BANTAL yang empuuuuk dan ergonomis banget hihihi.
Yang aku sukaaak dari kamar ini adalah, peringatan DILARANG MEROKOK, plus banyak colokan di mana-mana 🙂
Udah gitu, ada space yang cukup buat gelar sajadah ketika mau sholat. Kan ada tuh, kamar hotel yang blassss ga bisa dipake sholat, kepaksa sholat di atas kasur deh 😦
P uas  gegoleran di kamar, asik kali ya kita menjelajah isi Lorin Hotel. Dan bener banget, hotel ini njawani pol-polan. Duuuuh, damai deh hati akoooh…
Gimana? Gimana? Udah fix mau ngetrip ke Solo dan sekitarnya? Saya rekomen banget buat nginep di hotel ini. Cek ke situs-situs booking hotel deh. Beberapa malah ada yang kasih harga murce banget, mulai 250-ribu an saja per kamarnya. Widiiih.
Hotel Lorin Solo
Jalan Adisucipto No. 47, Jl. Adi Sucipto, Jawa Tengah 57174
Telepon:(0271) 724500

I Believe I Can Fly….!

I believe I can fly 

I believe I can touch the sky

I think about it every night and day

Spread my wings and fly away….

Terbang!

Terbang!

Paralayang adalah salah satu wish-list saya apabila mengunjungi Batu (kota dekat Malang). Sudah pernah saya bahas di postingan ini.

Tapiii, setelah beberapa kali ngebolang ke kota kece ini, kesempatan untuk menginjakkan kaki di Gunung Banyak (lokasi paralayang) baru tercapai 15 Oktober yang lalu.

Rasanya?

Deg deg serrrrrr….  merindiiing pemirsaaah!

Ketika saya dan empat teman lagi berada di sana, pas banget ada kompetisi paralayang selama 4 hari. Diikuti sekitar 80 atlet paralayang profesional. Jadi, yang namanya “manusia terbang” itu waarrr-weerrrr di depan kita, bolak-balik! Atletnya mah (kayaknya) biasa aja, tapi kita  yang nonton itu, berasa ngeri-ngeri sedap 🙂

IMG_9467

Sayangnya, para pengunjung (yang awam paralayang) dilarang mendekat ke lokasi take off. Mungkin takut gangguin para atlet kali yah. Mereka kan kudu konsentrasi untuk “menaklukkan” angin yang berhembus begitu kencaaaang!

Iya loh, kita aja yang nangkring di gunung Banyak berasa semriwiiiing, ini apa kabar ya, atlet-atlet profesional yang tubuhnya tercabik-cabik *halah* oleh angin yang wow-alamakjan-binggo?

IMG_9471     IMG_9472

Duuuuh, menyaksikan mereka terbang mengangkasa, membelah cakrawala Batu… rasanya…. AWESOME!

IMG_9496

kota Batu dari atas gunung Banyak. Breathtaking view….

IMG_9491

IMG_20151015_145523

IMG_20151015_145620

IMHO nih, In My Humble Opinion, yang namanya tantangan paling dahsyat dari paralayang adalah… berdamai dengan diri sendiri. Mengalahkan rasa takut yang menderu-deru. Seperti yang pernah dibilang oleh salah satu mantan presiden Amrik, Franklin Delano Roosevelt

“The only thing we have to fear is FEAR ITSELF” 

Pegimane bisa terbang pakai paralayang, cobak, kalau kita (baca: saya) masih ngerasa ngilu, dengkul klothak-klothak (lutut gemeteran) manakala ngelihat para atlet yang “menghempaskan sekujur tubuh” mengikuti ritme angin yang berhembus dengan begitu kencang?

Iya loh. Anginnya kenceeeeng banget! Sampai ada salah satu atlet yang terbang TINGGIIIII, kita-kita yang awam ini pada melongo. Duh, itu kalau sampai ke planet lain, pegimane yak? Ngeri euy. Belum lagi, kalo misalnya ada pesawat atau helikopter lewat, apa kabar ya cuy? (dan Alhamdulillah, kagak ada kendaraan apapun yang mengangkasa, hihihi. Aku aja yang paranoid)

Tapi emang sih yaaa.. SENSASI alias ADRENALINE RUSH dari olahraga macem begindang ini, sulit diganti dengan apapun. Buat para maniak ketinggian, yang pengin “bercanda dengan semesta di langit sana” yang penasaran dengan apa rasanya overdosis angin dan bergelimang rasa ‘ngeri-ngeri-cihuy-tapi-ngangenin’ sepertinya paralayang ini boleh banget untuk dicoba.

Sempat ngobrol dengan beberapa orang di sana, tarif paralayang (tandem) untuk awam adalah 350 ribu. Entah untuk berapa menit, tapi kayaknya sih, nggak lama-lama lah yaaa… Takut masuk angin 🙂 atau pingsan? *glek*

Tentu, wisata ini tidak disarankan buat yang mengidap sakit jantung atau takut ketinggian. Dan, enggak boleh buat yang OBESITAS, hahahha *nunduk dalem* Kalo ga kliru, maksimal total bobot yang bisa diangkut di paralayang sekitar 100-150 kilogram. Jadi, silakan diet dulu yaaaa, olahraga juga dikencengin *ngomong ama kaca*

***
O iya. Jangan lupa, kalau ke sini kudu pakai kostum yang mendukung yak. Jangan kayak kita. Mosok ke lokasi outdoor pakai baju batik sih, haahhahahah.
Untung aja, kagak ada yang pakai high heels 🙂 Karena emang aku dan Nui sukanya pakai SEPATU KETS Jadi enak-enak aja untuk dipakai ke lokasi yang menguras adrenalin banget ini.

FB Nui-2 FB Nui-5 FB Nui-6FB Nui-1

Eh, masih di areal yang sama, ada omah kayu batu malang yang lagi ngeheitss di jagat instagram. Kita udah yang pengin banget untuk foto-foto di sono, tapi ternyataaaa… ada charge 5 rebu per orang. IDIH. Kan tadi udah bayar di bawah, pas mau naik ke areal paralayang. Dasar emak medhit irit, aku mah ogaaaah bayar cuman buat ngeksis. Ya wis, kita foto-foto di dekat plang pintu masuk aja dah.

Seru bin cihuy deh, menjelajah Batu. Masih buanyaaaaak spot yang belum aku explore. InsyaAllah, dalam waktu dekat, mau nginep di Batu, dan dolan ke Batu Night Spectacular ah… Atau, sekalian menjelajah pantai indah memesona di Malang Selatan? Siapa mau ikuuut? 🙂

Mayoritas foto-foto di-capture oleh: Nui yang cantik, baik hati, rajin menabung, tidak sombong

TRAVELING GRETONG GEGARA SILATURAHIM

Bisa traveling, GRETONG alias GRATIS, dapat uang saku pulak, gegara silaturahim?

Bidih, siapa yang nolak, cobaaaa?

Alhamdulillah banget, aku pernah mencicipi masa-masa itu. Flashback ke tahun 2005-an ya cyin. Saat itu, aku masih langsing jadi reporter di SCTV.

Karena stuck gak nemu bahan liputan yang oke, muter2lah daku, cameraperson plus driver di seputaran Surabaya.

Ada aturan tak tertulis buat para reporter. Selama di mobil, HARAM hukumnya kalo enggak nyetel 100 FM Suara Surabaya. Kenapa? Ya, gitu deh, radio ini kan sumber info yang top markotop.

Salah satu info yang aku dapetin, ada Hotel bintang 4 (sebut aja hotel SPH) lagi mau bikin outing buat para pelanggannya. Destinasinya? Singapura plus Malaysia. Luar negeri, neik!

TING! Sebuah bohlam menyala di kepala. Sebagai anak muda penuh imajinasi plus mental oportunistis sejati *blah!*, aku menyusun ide, modus dan strategi supaya bisa ngikut di rombongan outing ini.

Padahal, aku bukan pelanggan di hotel ntuh.

Dan, sebagai reporter yang masih piyik bin junior banget, nominal tabungan belum menunjukkan angka yang menggembirakan.

Tapi… tapi… aku kan re por ter. Tu kang ca ri be ri ta. Dan, hotel itu kan bu-tuh-ba-nget-bu-at-di-be-ri-ta-in.

Gotcha…!

Berbekal ke-pede-an level akut, plus semangat membara (plus doa, tentu saja) aku bulatkan tekad untuk SILATURAHIM ke pihak hotel. Please note, bahwa aku SAMA SEKALI ENGGAK KENAL dengan mereka ya. Tapi ya itu tadi. Modalku adalah kekuatan postive thinking, plus, ke-pede-an yang membumbung tinggi. (yang ini beda tipis ama enggak tahu diri sih yaa, heheheh…)

Eh, Allah Maha Baik.

Walhasil kami ngobrol bas-bis-bus, yang intinya aku siap meliput dan memberitakan semua kegiatan hura-hura-syalala yang dilakukan pihak hotel. Plus, kita tampilin interview dengan GM Hotel. Pokoke dijamin syiiip!

Si manager hotel sempat jawab gini, ”Sebenarnya kita alokasikan buat anak koran J*wa P*s sih mbak. Tapi nanti kita lihat lagi ya. Kalau anak JP itu nggak respon, ya mungkin buat mbak gapapa lah.”

*Berdoa dimulai*

Fa idza azzamta fatawakkal alAllah… Ketika engkau sudah membulatkan tekad, sudah bersilaturahim, sudah mengupayakan negosiasi, maka serahkan hasilnya pada Allah… Tawakkal sejak awal.

Lalu, hasilnya?

Taraaaaaa….. Ini dia…. foto-foto selama kami dipersilakan outing bareng dengan hotel.

Hasil silaturahim --> traveling gretooong

Hasil silaturahim –> traveling gretooong

Asyik ya, “hanya” dengan modal silaturahim, ternyata impian kita bisa mewujud jadi nyata. Gara-gara silaturahim, untuk kali pertama saya punya paspor, sodara-sodara…!

Dan, rasanya semakin”heroik” gitu lo, karena kami sendiri yang nge-lobi ke pihak hotel. Bukan karena campur tangan atau intervensi dari pihak bos-bos SCTV di Jakarta. Ihiks!

sing lagi

Jadi, kalau ditanya, apakah saya jadi adiksi ber-silaturahim?

Weits. Lihat-lihat dulu. Kalau ada undangan untuk silaturahim dengan teman-teman SMP, SMA, dll-nya, jujur niiih, jujur… aku bakal memilih untuk say no.

Kenapa? Well, gimanapun juga, aku sering diterpa badai ‘enggak pede’ dan ‘enggak bisa menerima kenyataan’ demi mendengar ‘bully’ mereka, sebangsa….

“Ya ampuuuun, kamu LEBAR banget ya Rul, sekarang?” *diucapkan sembari mata melotot zoom in zoom out*

“Wiiiksss, ini ada adik bayinya atau emang isinya full LEMAK semua siiih?” *diucapkan sembari mijit-mijit my tummy TANPA SEIZIN SAYA*

Atau… kalimat-kalimat sarkas yang menujes-nujes hatiku, dan rasanya sepahit puyer obat sakit kepala.

“Oh. Jadi, kamu sekarang cuma kerja di yayasan sosial gitu? Nggak nyangka ya, si ranking 1 itu cuma jadi penulis untuk majalah yayasan?” *diucapkan dengan nada sengak bin nyinyir.

“Ya elaaah… ngapain kerja di yayasan gitu? Berapa sih gajinya?” *diucapkan sembari nglirik-nglirik sadis*

Baiklaaaah… cukup sekian dan terima kasih lho, atas hina-dinanya *kalem*

Kalau momen silaturahim (yang biasanya dibungkus REUNI, TEMU KANGEN, dll) hanya jadi ajang untuk PAMER karir yang moncer, atau MENGHINA nasib rekan, yaaa… mohon maap….

I will say BIG NO for attending this and that.

Tapiii… kalau silaturahim dengan member KEB alias Kumpulan Emak Blogger?

 

Pantang buat ditolak!

 

Traveling Makin Asik bareng Ace Hardware

Alhamdulillah, tulisan ini menjadi Juara dalam Lomba Blog Ace Hardware

“The world is a book and those who do not travel read only one page.” ― Augustine of Hippo

Barangkali, salah satu “dosa besar” yang saya lakukan terhadap Sidqi–anak saya—adalah: saya amat-sangat-jarang-banget membiarkan ia berinteraksi dengan alam. Maklum, alasan khas ibu-ibu perkotaan: capek didera kerjaan kantor. Pulang ke rumah, bawaannya pengin molor melulu. Sibuk bikin pulau di bantal deh 🙂

Walhasil, anak saya tumbuh menjadi bocah yang “anak kota” banget. Saban liburan, jujugannya selalu ke mal, mal, dan mal.

Di satu sisi, saya senang; karena toh biarpun terkesan hedon, libur ke mal tidak terlalu menguras kantong kok. Anak saya cuman minta main-main di playground—biasanya main animal Kaiser—lalu makan siang bareng di food court. Paling banter, habis 100 ribuan gitu deh.

Nah, suatu ketika, ada tawaran dari temen-temen suami untuk traveling bareng ke Jember.

Hah?! Jember? Aduh, emangnya ada apa di sonoh?

“Woohooo… macem-macem… pantainya bagus-bagus… Sekarang Jember lagi happening banget loh… Tahu sendiri kan, Jember Fashion Carnival (JFC).. .. Anang-Ashanty saja sampe bela-belain ikut perform di JFC. Berarti, kita emang HARUS ke Jember!”

Sidqi manut-manut saja diajak bapaknya.

Aku yang males. Ngepak-ngepakin baju. Nyusun perbekalan. Itung budget travelling. Kalau solo-traveling mah enak, cukup bawa backpack sebiji. Udah cukup banget. Lah ini, kudu ngurusin baju saya, suami, plus bocah cilik! Rempooong!

Untunglah, ada luggo trolley back yang emang jadi “partner in crime” banget buat liburan keluarga. Muatnya banyak, bisa tertata rapih dan well-organized. Problem solved!!

***

Perjalanan Surabaya-Jember ternyata makan waktu lumayan lama. Sidqi mulai cranky. Bosen, karena terjebak berjam-jam di dalam mobil. Saya sampai sungkan (nggak enak hati) sama Pak Joko, yang kita nunuti selama traveling ini.

”Nggak apa-apa. Biarkan saja Sidqi nangis. Biar puas. Nanti dia juga capek-capek sendiri,” kata Pak Joko, yang tetap tenang dan tidak terintimidasi raungan Sidqi.

Well, jangan pernah remehkan urusan logistik. Maksudnya, makanan dan minuman buat anak. Sidqi sudah saya bekali dengan botol minum yang kiyut abiiisss… Beli di Ace Hardware dooong… Heheheh….Anti tumpah dan cranky anak juga berkurang drastis.

Trusss… jangan pernah remehin faktor kenyamanan. Itu penting pakai banget! Makanya, saban traveling, kudu ada bantal leher. Lumayan loh, bisa mengurangi cenat-cenut yang biasa bergentayangan di daerah rawan ini.

Alhamdulillah, Setelah sampai di Pantai Watu Ulo, “zona cranky” Sidqi sudah berakhir. Tangisnya berhenti. Dan ia malah asyik lari-lari bareng semua peserta piknik. Tapi, begitu lihat pasir pantai, oh no! Sidqi langsung minta gendong!

13775072471233658324

“Jijiiiik!! Aku nggak mau kena pasiiirrr!”

Duh. *lap kringet, tepok jidat, bibir maju tujuh senti secara serempak* Malu-maluin banget nih bocah.

“Sidqi kan cowok… Ayoo… turun..! Jangan minta gendong! Sana, mainan pasir sama basah-basah di pantai…”

Sidqi tetap ngerasa nggak punya “chemistry” dengan Pantai ini.

”Biarin aja. Tetep bawa ke pantai, tapi jangan dipaksa…” Pak Joko kembali memberi tips.

1377507308257276688

Puihh. Bete juga sih. Capek-capek pergi ke Jember, eh, Sidqinya sama sekali nggak ‘enjoy’ seperti bocah cowok pada umumnya. Maklum. Selama ini, Sidqi selalu main ke tempat-tempat yang enggak ada becek-beceknya sama sekali.

Yep. Mal, mal, dan mal.

Apakah petualangan pantai kita berakhir disappointing-ending?

Oh, untunglah, nggak jauh dari Pantai Watu Ulo, ada sebiji pantai lagi. Namanya Pantai Papuma. Sedikit beda dari Watu Ulo, nih pantai pasirnya putiiiiihhh banget. Awalnya, Sidqi—si mister steril itu—ogah main-main di pantai. Tapi, beberapa menit kemudian, dia lumayan tergoda untuk mencicipi pasir-pasir putih dan deburan ombak yang menyapa di sepanjang Pantai Papuma.

Awalnya hanya lari-lari di sekujur pasir pantai. Lalu, Sidqi mulai melakukan “manuver” : ia membiarkan kaki mungilnya terguyur ombak yang mampir di bibir pantai.

13775073681160991954

Wuah. Sidqi mulai ketawa-ketawa riang. Bapaknya senang. Emaknya pun girang…!!!

Ahh, yaaa… paling tidak, traveling kami kali ini mengajarkan satu hal: Bahwa kita musti berani meninggalkan zona nyaman!

Mosok nggak bosen sih, pergi ke mal melulu?! Bersyukurlah bahwa kita tinggal di surga dunia, Indonesia. Banyak spot yang sungguh ajaib dan luar biasa memukau, seolah-olah meminta kita untuk segera berkunjung ke destinasi wisata yang indah. Walaupun traveling memang rempong, percayalah, akan ada “hikmah” dalam setiap perjalanan yang kita lakoni. Anak kita kian bertambah kadar “petualang”-nya; kitapun bakal belajar untuk jadi ortu yang sigap dan smart traveler.

1377507415581968920

1377507518541547478

13775076601323667448

Kedua pantai ini—Watu Ulo dan Papuma–berada di pesisir selatan Jawa Timur, atau lebih tepatnya terletak di desa Lojejer, kecamatan Wuluhan, 45 Km arah selatan kota Jember.

Kalau wisata, emang paling assoy bisa menikmati pemandangan alam yang cihuy. Tapiii, kita kudu siap-sedia dengan berbagai kondisi kan?

Makanya, saya addicted banget buat selalu shopping ke Ace Hardware. Siapa sih, yang enggak kenal akrab sama one-stop-shopping yang sumpeeeehh—kereeen—beraaatttss ini?

Selain bisa banget buat shopping online, kita juga bisa berkunjung langsung ke store terdekat di kota kita. Kalau di Surabaya, paling sering saya nongkrong di Ace Hardware Royal Plaza atau yang di Galaxy Mall. Udahlah tokonya sip markosip, mbak-dan mas-nya sigap tiada tara, barang-barangnya komplit, servisnya cihuy, what can I ask for more??

Artikel ini diikutsertakan dalam Ace Hardware Writing Competition.

Doakan saya yaaaa….:-)