lifestyle, parenting

Mengelola Ekspektasi

Sekian tahun lalu, saban ketemu teman-teman, atau wali murid, atau terjebak dalam obrolan dengan mahmud abas (mamah muda anak baru satu) atau macan ternak (mamah cantik anter anak) atau iis dahlia (ibu ibu segar dandanan ala belia), saya selaluuuuuu berkisah dengan penuh semangat tentang betapa hebatnya anak saya.

Yang pinter ngomong lah, yang jago ngaji lah, yang hafalan Qur’annya banyak laah. Macem-macem! Dan herannya, itu stok pamer kok yaaa full tank melulu! Adaaa aja yang diomongin.

Naluri kompetitif ibu-ibu biasanya muncul dong, hahaha. Kelar denger blablabla rentetan prestasi dan kehebatan anak orang lain, sekarang gantian…. siapin “amunisi” buat bikin lawan bicara mak klakep!

Itu berlangsung bertahun-tahun. ūüôā Hingga kemudian, saya menyadari bahwa dalam beberapa hal, Sidqi mengalami degradasi.

Yang dulu semangat membaca dan menghafal Al-Qur’an, sekarang plassssss hilang gitu aja.

Yang dulu bantuin beberes rumah (dia hobi ngepel dan bersihin pake kemoceng alias sulak-sulak), sekarang? Boro-boro. ūüėõ

Yang dulu gemar membaca literatur bermutu, sekarang hobi nonton tutorial minecraft di youtube. Gituuu aja terus ūüė¶ Sama sekali nggak produktif.

Pendeknya, I can’t find the “WOW” things from my little boy.¬†

Nah, Jumat kemarin, pas saya dan beberapa sahabat makan-makan di resto Lauk Pauk (will review about it, later, insyaAllah), terasa awkward tatkala ada yang ngomong,

“Anakku kan sekolah di SD Islam. Masih kelas 1, udah diajarkan hafalan surat-surat di Juz 30. Hafalannya sudah banyak. Nah, pas¬†aku ngimami dia sholat, anakku¬†tanya ‘Bapak kok surat pendeknya itu itu aja?’ Waduuuh, beneran kalah nih, hafalan Qur’an sama anak-anak, hahahahah…..”

Kalimat barusan itu contoh humble brag ūüôā #InfoPenting

Eniwei… ada yang mencelos di hati, tatkala mendengar kehebatan anak orang lain.

Sesuatu yang semestinya ada pada diri anakku… Sesuatu yang dulu pernah ada pada diri Sidqi, tapi sekarang? Entahlah.

Jika ditanya siapa yang salah? Ya jelas AKU lah. Aku emaknya! Aku yang seharusnya bertanggungjawab terhadap tumbuh kembang Sidqi. Aku yang mestinya mengusahakan yang terbaik, jadi ortu yang disiplin, yang terus ngasih tahu do’s and don’ts dalam hidup, dan bukannya¬†membiarkan anak berbuat semaunya, nonton youtube berjam-jam dan nggak mau berakrab-akrab dengan Al-Quran!

 

“Wah… keren ya anakmu?” aku mencoba berbasa-basi sambil menyeruput es teh yang tinggal satu seruputan.

“Nah, itu… aku dulu juga nyekolahin dia di sekolah Islam karena aku nggak bisa ngajarin ngaji. Kalau¬†Sidqi gimana?”

 

Ada “biji kedondong” ala-ala yang harus tertelan dengan paksa.¬†

“Yaaaa… gitu deh. Dia sekarang fasenya lagi seneng banget minecraft. Udah mulai addicted to internet, kayaknya. Aku sampai kudu batasin, nyembunyiin HP, batere HP aku cabut, yaaaa… kudu punya segabruk alasan deh, biar dia nggak main HP terus hihihi….”

Ini¬†sama sekali bukan jawaban yang diinginkan oleh lawan bicara. Teman-teman menatapku dengan pandangan, antara kasihan, prihatin dan sedikit iba. Atau, malah sedikit judging “KOK BISA SIH LO SECUEK ITU? ELO JADI EMAK NIAT APA KAGAK SIH?”

***

Dalam hal apapun, saya berusaha untuk menurunkan ekspektasi. Duluuu, ambisi meledak-ledak untuk jadi ortu yang spektakuler *haisss* biar anak juga jadi role-model-of-the-year. Wahahaha. Semacam itulah. Tapi, belakangan ini, saya syukuri aja apa adanya Sidqi.

Terdengar seperti orang apatis?

Mungkin.

Tapi, bersikap mengendurkan ambisi, somehow, membuat saya sehat jiwa raga ūüôā

Sama seperti ketika ibu saya divonis kanker paru. Adududuh, itu udah kayak vonis hukuman mati yang terpampang nyata di depan mata! Saya kalut, bingung, kemrungsung kalo orang Jawa bilang. Saya sampai nanya ke sana ke mari, cari pengobatan alternatif, berburu aneka herbal demi satu hal: IBU SAYA HARUS SEMBUH.

Hingga kemudian, saya tersadar, bahwa kesembuhan ataupun kematian datangnya dari Allah. Saya hanya berhak untuk berusaha dan berdoa. Untuk hasil akhirnya? Terserah Allah.

 

Hati tertata pelan-pelan. Apapun keputusan Engkau, ya Allah, saya ridho. Sungguh, saya ridho. Dan ketika ibu saya pada akhirnya berpulang, Allah sudah anugerahkan jiwa yang ikhlas dalam diri.

Sekarang ekspektasi saya berubah.¬†I really expect my mom terbebas dari siksa kubur, dan insyaAllah bisa bahagia dalam jannah-Nya. Itu saja ūüôā

***

Royal Plaza, 1 Oktober 2016

Bloggers dan media berkumpul dalam press conference susu SGM Eksplor. Ada kontes live tweet dgn hastag #JadikanDuniaSahabatnya. Saya nge-tweet untuk menghargai pihak empunya event. Sama sekali tidak ada ambisi untuk jadi pemenang.

 

Apalagi, sepertinya saya mulai terserang tanda penuaan dini. Entah kenapa, jari jemari saya tremor saban live tweet! ¬†Otak dan syaraf telunjuk sama sekali¬†nggak kompak… Udah gitu, saya sering nge-blank mau ngetwit apaan… Tweet ini udah apa belum yak? Tadi aku ngetwit sampai mana ya? Ih, narasumbernya barusan ngomong apaan sih? Ya ampuuun, slide-nya udah ganti ajaaaah, belum eikeh poto niiiih!

Rasanya, syusyaaahhh banget berbagi konsentrasi. OMG, OMG OMG, I’m¬†THAT old!!! Saya resmi TUA. Ya ampuuun. Walhasil,¬†saya nggak menaruh ekspektasi sedikitpun buat menang livetwit.

Lalu… Sidqi datang. (Di awal acara press conference, Sidqi¬†jalan-jalan bareng bapaknya keliling mall dan main di fun world). Udah jam 12 siang lebih, alarm lapar berbunyi. Ia (as usual)¬†cranky dan ngajak cari makan. Yo wis, karena naga di perutku juga udah melakukan aksi demo,¬†aku siap-siap cabuuut dari venue.

Wis ta lah… paling aku yo nggak menang livetweet…

Ketika tengah melangkahkan kaki keluar arena, MC mengumumkan… “Pemenang livetwit adalah….. Ibu Rahmah chemist…. Dan……. @nurulrahma……”

HE SAID WHAATTT???? Omg….. Emak-emak blogger pada tolah-toleh nyari aku yang udah lenyap dan jalan mengendap-endap.

Aku langsung balik kuciiing….¬†Naruh tas ransel segede dosa, nitip ke Emak2 blogger kece nan shalihaat *salim atu atu*

sgm

Terhura banget! Rasanya sungguuuuh, terharu dan bangga! Secaraaaaa kagak ada ambisi seujung kuku blass. Dan, aku pun utang budi ke @mbak_avy karena¬†nodong wifi teethering beliau ūüôā Masya Allah…. Kalau Allah sudah berkehendak, walaupun kita nggak ada ambisi buat¬†menggapai apapun, ternyata DIA yang Maha Memutuskan ūüôā

***

Saya mengawali Oktober dengan rasa yang tak biasa. Sudahlah. Kelola saja ekspektasimu dengan sesantai mungkin. Tentu kita berharap yang terbaik, tapi tak perlu ngotot dan mengerahkan segala cara demi ambisi yang (terkadang) hanya untuk keperluan sebagai bahan pamer di tengah acara meet up bareng teman-teman.

Gapapa, Sidqi. Kalopun saat ini kamu belum bisa menjadi dirimu yang dulu, yang sarat kehebatan, jago ngaji, dan sebagainya, gapapa. Ibu anggap ini adalah “teguran Allah” agar Ibu menata hati, menjaga lisan dari pamer dan semangat riya‘ yang tak mengenal ujung pangkal ūüôā

Justru, ketika ekspektasi dan ambisi itu ditekan hingga titik nadir, kadang kala keajaiban muncul tanpa disangka-sangka. Karena Tuhan bekerja, terkadang tak mengikuti logika dan algoritma manusia. (*)

Advertisements

13 thoughts on “Mengelola Ekspektasi”

  1. katanya sih Mbak, sesuatu itu datang jika kita tidak berharap terlalu banyak. btw, anak saya juga prestasinya ngga sampai yang gmn gitu. malah saya suka bingung liat yg juara satu misalnya, olah raga aja nilainnya 10, busyet, olahraga apaan nilainnya sampai sempurna gitu. Trus saya bingung itu cara belajarnya gimana. Hahaha. Terus suka sedih sih kalau ada ibu yang cerita anaknya juara ini juara itu, bla bla bla…humble brag mungkin…

  2. Ternyata bukan cuma saya ya yang suka berharap terlalu tinggi sama anak sampai kadang lupa tiap anak punya kehebatannya masing 2 dan butik ruang juga buat berekspresi. Kalau Sidqi suka Minecraft anakku lagi doyan musical.ly Mbak. Jadi kalau lihat YouTube pasti lihat kompilasi musically. Dia cari contoh video yang belom pernah dia bikin. Kadang saya suruh bikin gaya sendiri biar nggak copycat melulu.

    Tapi yo aku biarin aja asal dia main gadget nggak di waktu2 penting. Dan pastinya nonton YouTube dalam pengawasan biar nggak kejebak tontonan yang serem dan nggak pantesan ditonton

  3. aku sering banget mbak… kalo berekspektasi tinggi, macem-macem, eh malah meleset. Tapi kalo tawakal, nrimo, pasrah, eh malah Allah kasih. Hihi

  4. Nyembunyiin gadget, atau sengaja bikin lowbat, dan keukueh ngasih paket data yg ala2 bisa connect, itu juga sebagian akal-akalan ku utk Azka. Biar dia gak over time dg dunia game digitalnya, dan mau bermain di luar rumah.

    Mengenai ekspektasi ke anak2, tak jarang aku juga terpana kok si A itu bisa ini dan itu, dst. Somehow, aku kembali menata hati utk melihat keberhasilan ibu2 dr anak yg kulihat berprestasi sebagai bahan evaluasi internal diriku sendiri (bukan untuk memperbandingkan anak dengan anak yg lainnya).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s