Creameno is Back!

Jumat yang super sumringah dan penuh berkah!

Sore ini, daku dapat paket LEGO dari Creameno. Yep, blogger paporit sejuta umat yang sempat hiatus itu, sekarang udah online lagi gaes. Senangnyaaaaa! Beberapa waktu lalu, doi posting bakal bagiin lego preloved ke teman-teman bloger yang berminat. Aku auto komen dong, ga lama kemudian dibales kalo Creameno bakal kirim lego ke rumah akyuu. Wohoo, super hepii!

Yang terima hadiah lego preloved ini ada beberapa bloger. Ndilalah, bloger lain ternyata sahabat-sahabat aku juga 😀 Kami tergabung di satu WA grup gitu, dan sering melakoni ghibah syariah focus group discussion secara paripurna. Termasuk, berbagi bahagia seputar hadiah lego yang bakal kami terima.

Uniknya, teman-temanku tuh udah pada terima lego. Bahkan, masing-masing putra/i mereka udah pada nyusun sampai jadi bentuk bangunan/ mobil, dst gitu. Lhaaa, kok punyaku belum nyampe yhaaa.

Continue reading

Random Talk bareng Mom Blogger Favoritku: Diah DekaMuslim

Heyhooo!!

Teman-teman pastinya punya blog(er) favorit, kan? Nah, salah satu mom bloger kesukaan aku adalah Mba Diah yang biasa blogging di http://www.DekaMuslim.com

Mba Diah ini kalo ngeblog tuh alurnya menariiikk banget, story-telling-nya mantab jiwa! Makanya aku seriing banget mampir ke blog dese. Udah gitu, kami kan gabung di salah satu WA grup yang sering ngebahas hal-hal random. To be honest, aku sering ngikik parah, kalo mba Diah ikutan chat di sono. Yep, don’t judge a book by its cover… Karena walopun secara penampilan kalem dan feminin, ternyata mba Diah srimulat wannabe juga lho wkwkwkw.

Adakah hal-hal lain yang mengezutkaaan dari seorang Diah DekaMuslim? Ada doong! Penasaran kan? Kan? Kan? Cuss, ikuti random talk bareng mba Diah! 😀

Continue reading

Kamu Blogger? Masih Rutin Ngeblog?

Kamu Blogger? Masih Rutin Ngeblog?

Ngapain sih, ngeblog?

Sampai detik ini, ternyata masih ada aja yang nanya seputar blogging. Ada yang sekedar kepo binti penasaran, tapi tidak sedikit yang beneran pengin tahu serba/i blogger.

Baiklah. Saya tulis artikel ini untuk ikutan ODOP (One Day One Posting) di komunitas ISB (Indonesian Social Blogpreneur) sekalian menjawab pertanyaan Kak Anna Rosana di Liebster Award 2020

Continue reading

Bersyukur itu Butuh Skill, lho!

Getting older is a fact of life.

Don’t stress out about it, because it’s beyond our power to control anyway.

But, there are things that we CAN control. Like our lifestyle

Take care of what we have, physically and mentally.

Learn new things

Don’t procrastine,

Love hard

Work hard

Surround yourself with positivity

(the older I get the more hesitant I am to deal with negativity, because it drains my energy and I simply don’t have time or patience for it)

Be kind with your wrds

Give compliment and encouragement

Stay away from people that bring you down

Don’t define yourself by the number of your age

So just do whatever it is you’ve always wanted to do

Don’t let your age hold you back!

We’re only as old as we think

Age is just a number!

Cihuy yaaaa kalimat pembukanya? 😀 Iya dong, aku screen capture dari IG story beauty-influencer favortitku, Teh @HenyHarun. Coba deh, scroll ke Instagram-nya, dijamin bakal ternganga lihat kulitnya yang soooo hinyai, kinclong memesona, padahal umurnya udah hampir 50 tahun aja, sodara!

Jadi cantik (aja) kayaknya semua orang juga bisa lah ya. (Asal ada duitnya qiqiqiq dan memang kudu rajin perawatan). Tapi, menjadi cantik, berkarakter, punya kharisma, dan inspiring (in her own way) itu belum tentu bisa dilakukan setiap orang. Ini butuh SKILL Kheusus, ceunah! (Ini gaya nulis-nya agak-agak ter-influence Teh Heny yang asli Sunda qiqiqiqi).

Karena itulah, di umurku yang kian senja ini (uhuks), ada beberapa SKILL yang pengin bangettt aku dalami. Apa sajakah?

(1). Skill Bersyukur

Seperti judul postingan ini, (sekedar) bersyukur itu butuh skill. BANGET. Udah deh, ngaku aja, saban lihat postingan orang di socmed (baik yang kita kenal maupun tidak), rasanya clekit-clekit gimanaaaaa gitu kan ya?

Lihat si A lagi traveling ke Maldives….. “Duh, enak banget ya hidupnya? Cantik, suaminya tajir, bisa pose-pose gemaaasss di spot yang instagrammable”

Lihat si B lagi pamer cerita kalo anaknya lulus sekolah negeri (favorit pulak!)… “Ih, si B kok bisa sih punya anak pinter macam gitu? Padahal, otaknya B kayaknya pas-pasan aja deh. Oh, atau jangan-jangan anaknya beruntung gegara sistem zonasi doang nih?”

Lihat si C bolak/balik ngetrip ke luar negeri gratisan (bahkan dibayar!)….”Dia kenapa se-beruntung itu sih? Aku kapan yhaaa?”

Dan seterusnya

Dan seterusnya.

Seolah-olah orang lain tuh hepi hepi syalala, dan hidup kita jalan di tempat. Huft!

Di sinilah, aku pengin banget menggarisbawahi kalo kudu banget ningkatin skill bersyukur. Allah Maha Tahu takaran rezeki yang PAS buat kita. Tenaaaanggg, rezeki kita sudah tertakar, tidak akan tertukar. 😀

(2). Skill Mengapresiasi Orang Lain

Mengakui kehebatan/keunggulan/prestasi orang lain, terkadang bukan hal yang mudah lho. Ada kalanya ego kita mengemuka dan rasa “tidak mau kalah” menjelma pada sebuah sikap “Ogah kasih selamat kalo dia yang menang, ah!”

Haha. Jadi orang tua dewasa emang banyak drama rempongwati nya ya?

Lagi-lagi, ini emang perlu ketulusan hati dan kebesaran jiwa. Jangan sampai, ego dan pongah membungkam nurani kita, sehingga tak mau mengapresiasi bakat/ kinerja/ kontribusi pihak lain.

(3). Skill Jujur pada Diri Sendiri.

Just be yourself! Mantra ini terus kita dengung-dengungkan, tapi heiii…. di era kekinian, tidak sedikit dari kita yang justru sibuk dengan “topeng” dan “polesan”

Kalau teman-teman yang budiman, saat ini sedang memperdalam skill apa? Boleh sharing di komentar yaaa

Yeay, Aku Bangga Jadi Blogger di Era Digital!

Hai, Nodi.

Salam kenal! Aku Nurul Rahma, lifestyle blogger, domisili di Surabaya Jawa Timur. Bolak-balik aku lihat prestasi Nodi yang demikian cethar menggelegar di kancah blogging. Setelah baca artikel-artikel kamu, ya wajar lah, kalo para juri terpukau, ha wong dibikin dengan ide, kreativitas, dan eksekusi yang mantab djiwa!  

Terus terang, aku udah lamaaaa mau ikutan kontes yang kamu gelar ini, Nod. Tapiii, gimana ya, ada sesuatu yang mengganjal. Aku takut kalo malaikat Roqib Atid justru mengkategorikan postingan ini sebagai “Ujub” article. Duh… tulis, engga… tulis apa engga yaaa…

Setelah melakukan monolog dengan diri sendiri, akhirnya kuputuskan buat MENULIS! Moga-moga aja, goresan diksi yang ada di postingan ini, memberikan berkah dan manfaat buat yang baca. Moga-moga Allah senantiasa membimbing otak dan jemariku, agar memproduksi kalimat yang baik-baik saja.

Bismillah. Here we go.

***

Di suatu siang yang biasa-biasa saja, ada notifikasi dari WA-ku.

Artikel yang aku tulis di Kompasiana, tentang Ibu Sumirah
(tukang pijat yang punya panti asuhan)

“Ibu iki wes dpt umroh tak Rul?”

Nomor pengirim belum ada di database ponselku. Ini siapa ya? Trus, aku lihat prof pic nya…. Ya ampuuun… ini kan Kemchi! *bukan nama sebenernya*.  Kemchi temenku kuliah di ITS dulu!

“ini kemchi ya?”

“Sopo maneeeeh. Temenmu TC”

     “Ampun dijeeee… Where have you been?”

Wkwkwkwkwk…. Topo.

“Kagak ada kabar, mak bedunduk nanyain emak-emak pijet. Kenapa? Mau pijit juga? :P”

“HEH!!”

“Ini kamu dapat link artikelku dari siapa? Jadi, gini lho Kem. Aku kan sekarang jadi blogger. Ini lagi nulis sosok inspiratif. tentang Ibu Sum, beliau salah satu kandidat umroh (dari salah satu perusahaan asuransi), KALO MENANG :D. Tapi kapan hari udah ada pengumuman finalis, nama bu Sum kagak ada.”

“Wes nomor orangnya berapa? Tak minta orangku aturin ae dia umroh.”

“Serius Keeem?”

“InsyaAllah serius. Nomor telponnya piro? #Mumpung tangi turu. #Siangan dikit laen lagi

JREEENGGG!! Dan, bulan November 2018 lalu, Ibu Sumirah—tukang pijat yang punya panti asuhan sederhana di Rungkut, Surabaya—berangkat umroh.

Tukang Pijat Naik Umroh 😀

Memenuhi panggilan Sang Pemilik Semesta, dengan difasilitasi kemurahan hati Kemchi, temen kuliahku yang lamaaaaaa banget nggak pernah interaksi.

Siapa yang menggerakkan hati Kemchi? Tentulah ALLAH Sang Maha Besar.

Apa yang membuat Kemchi tertarik untuk mengumrohkan Ibu Sum? Karena ALLAH menggiring Kemchi untuk membaca artikel yang aku tulis dengan sepenuh jiwa.

Baca artikel tentang Ibu Sumirah di sini ya

***

Kalau mood ngeblog lagi ndelosor, aku buka lagi chat yang dikirimkan oleh Ibu Sum:

Assalamualaikum, semoga berkah dan rahmat senantiasa terlimpahkan kepada Ibu Nurul sekeluarga. Terima kasih banyak atas semua kebaikan dan jariyah Bapak Kemchi, yang sudah membiayai pemberangkatan umroh saya. Semoga Allah melipatgandakan berkah dan pahala.

Kagem Bapak Kemchi sekeluarga, semoga senantiasa dikaruniai kesehatan dan keselamatan. Semoga usahanya bertambah lancar dan barokah. Selamat dunia akherat. Aamiiin. Sumirah – Panti Asuhan Amanah.

Masih merinding banget… masih nggak percaya, kalau ternyata takdir Allah demikian indahnya.

Aku selalu percaya, ALLAH punya skenario dan maksud extraordinary tatkala menugasi kita sebagai khalifah fil ardl alias pemimpin di muka bumi.

Menjadi blogger, misalnya. Apabila kita maknai dengan sepenuh jiwa, maka kita pun bisa menjelma menjadi blogger “di atas rata-rata”. Aneka pencapaian duniawi bisa kita gapai… begitu pula dengan target akherat! Heiii, bukankah “menjadi jalan narasumber berangkat ke tanah suci” bisa dibilang salah satu achievement yang (insyaAllah) berkontribusi untuk kampung akheratku?

***

Jadi, Nodi… aku sepakat banget dengan apa yang kamu sampaikan di blog. Apa gunanya bahagia jikalau hanya dirasakan seorang diri saja? Apa pentingnya kilauan materi jika tak pernah berbagi? Nah, sekaranglah saatnya aku ingin berbagi kebahagiaan kepada kalian semua.

Berbagi kebahagiaan, sharing and spread the happiness! Itulah sesungguhnya yang menjadi tagline, nyawa, jiwa, dan nafas tiap blogger. Berbagi apapun, asal sesuatu yang positif dan kontributif.

Jangan terpaku pada hitung-hitungan matematika ala manusia, ”Emangnya kalau aku begini, apa untungnya?” Wah… justru menjadi blogger adalah sebuah kesempatan intan berlian (bukan sekedar emas) supaya kita bisa menggapai salah satu sedekah jariyah! Yes, sedekah lewat ilmu. Ilmu yang bermanfaat dan terus ditularkan. InsyaAllah, pahalanya akan mengalir terus, kendati kita telah berpulang.

Maka dari itu, “semangat berbagi” adalah bahan bakar yang mengisi hari-hariku sebagai blogger.

Aku mengisi workshop seputar menulis dan social media untuk para penerima Beasiswa BI. Bersama Siberkreasi dan Kemenkominfo, aku juga jadi pemateri terkait menulis di kancah digital. Aku juga diamanahi Tim HRD Terminal Teluk Lamong untuk mengisi workshop “How to Manage Social Media” bagi karyawan millennials di sana.

Menjadi pemateri di SMA Wachid Hasyim Surabaya.
Bareng tim Siberkreasi.id (Kemenkominfo)

Wow…. It’s amazing!!

Tentu buanyaaak banget momen indah selama aku menjadi blogger. Yang paling cethar menggelegar, tentu saja, ketika aku terpilih sebagai delegasi Indonesia dalam Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California, Amerika Serikat!

Aku (dua dari kiri) bersama delegasi Indonesia di ajang
Google Local Guides Summit yang berlangsung di San Francisco California,
Amerika Serikat

***

Tahun 2019, Mau Apa?

Yang pasti, tiga hal yang bakal kujadikan mantra dalam ngeblog di tahun ini.

(1). Always Share and Spread Happiness!

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

(3). Blogging is Marathon

***

(1). Always Share and Spread Happiness!

Tahu sih, bahwa manusia itu terdiri dari dua rasa sekaligus: positif dan negatif. Film “Inside Out” sudah menjelaskan dengan sangat apik mengenai hal ini. Aku juga embrace all positive and negative feelings dalam diri. Ada saatnya aku marah, kecewa, dengki, sirik, dll. Tapiiii, nggak perlu ditulis di socmed ataupun blog dong yaaaa.

Aku berusaha keras untuk melakukan kurasi sekuat tenaga, agar artikel yang tersaji hanya menguarkan aura positif. Berbagi sesuatu yang kontributif. Yaaa, sesekali curcol boleh lah, tapi balik lagi, semuanya kudu disampaikan secara positif.

Kenapa?

Karena aku percaya, tulisan itu punya daya magis tersendiri. Kita tidak pernah tahu, apa efek yang menimpa orang lain setelah baca tulisan. Nah, ketimbang ‘menjejali’ pembaca dengan pengalaman yang menyesakkan, ada baiknya semangat always share and spread happiness yang kita kedepankan!

Tapi, Kak…. Kadang netizen malah sirik lho, kalau kita posting happy-happy melulu? Kesannya hidup kita kok bahagiaaaaaa terus, dan netizen penuh ujian dalam hidup.

Kalau tentang ini, ada prinsip yang aku pegang kuat: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

Tips lainnya adalah, kita tuliskan hal-hal bahagia, tapi tidak dengan semangat pamer. Melainkan, semangat untuk mengajak orang lain untuk merasakan hal serupa. Misalnya nih, tatkala aku berkesempatan ikut Google Local Guides Summit di Amerika Serikat, postingan yang muncul adalah seputar TIPS supaya teman-teman juga bisa lolos seleksi dan merasakan keseruan yang sama.

Baca: Jadi Local Guides dan ke Amerika GRATIS, Bagaimana Caranya?

Yaaaa, walaupun bisa jadi satu dua orang merasa aku lagi pamer, ya sutralaaahh. Balik lagi ke prinsip yang aku share barusan: Kita bertanggung jawab atas konten yang kita tulis, tapi kita tidak bertanggung jawab atas persepsi/interpretasi orang lain terhadap tulisan kita.

(2). Jangan Selalu Terbelenggu dengan Angka

Berapa DA/PA (Domain/Page Authority) blog?

Berapa traffic-nya?

Berapa yang comment?

Berapa yang nge-share?

Kalau di-googling ada di page berapa?

Sponsored job sebulan dapat berapa?

Wah… kayaknya fee kamu nggak segede blogger yang onoh ya?

Uhuuuk!! *batuk* Familiar dengan kalimat di atas? Tahu dan paham banget kok, kalau sebagai blogger, mau tidak mau kita kudu kerja keras sekuat tenaga untuk bisa menghasilkan performa score blog yang oke. Saya pun berjuang setiap hari, agar scale up! Pasti ada sejumlah blogger panutan, yang ngehits, yang DA/PA tinggi, yang nominal job review-nya bisa untuk DP rumah di pusat Surabaya.

Akan tetapi……. Kalau SEMUA HAL harus terus-menerus diukur dengan angka, statistik, dan sebangsanya, tidakkah lelah yang justru mendera? Lelah batin banget, lho, sist and bro.

Saking “ambisi”-nya meraup angka statistik, terkadang aku menulis dengan “hampa rasa”. Tidak ada “ruh” yang bergumul dalam gumpalan diksi dalam blog. Kalau ini terjadi sesekali, mungkin tidak mengapa. Tapiiii, heiii…. deraan deadline yang begitu ketat, tuntutan angka demi angka yang menjerat, sepertinyaaa……. Harus ada yang saya ubah!

TIDAK SEMUA HAL kudu diukur dengan angka. Yap, saya tentu masih berjibaku dengan statistik blog dan aneka turunannya itu. Akan tetapi, ayolah…. Tulisan yang digoreskan dari hati, niscaya akan sampai ke hati pembaca. Saya sudah lamaaaaaa banget tidak memproduksi artikel penyejuk jiwa. Sungguh rindu bisa menghadirkan postingan semacam ini.

Baca: Rumus Jitu Hadapi Persoalan Hidup

Bismillah. Semoga di tahun 2019, aku lebih banyak cerita tentang human interest, hal-hal “sepele” di sekitar, tapi bisa memberikan insight mendalam. Jangan melulu berkutat dengan angka!

(3). Blogging adalah Maraton

Pernah ikut lari marathon? Saya sih, belum 😀 Tapi, beberapa sahabat saya kerap ikut lari marathon, bahkan sampai ke Jepang segala.

Kata mereka, marathon itu bedaaaaaa jauh dengan sprint *ya iyalah*. Untuk bisa sukses finish strong di marathon, dibutuhkan pengendalian diri, emosi, fisik, dan semuanya harus stabil. Tidak boleh gampang salah fokus. “Bahkan banyak yang meragukan kemampuanku untuk marathon. Suara-suara sumbang itu jangan didengerin! Kita harus fokus untuk  lari dengan senang dan sehat selamat bahagia sampai garis finish,” begitu kata sahabat saya.  Intinya, harus konsisten.

Yep, saya menganalogikan blogging adalah marathon. Butuh “nafas yang kuat dan panjang”. Butuh semangat dan kemauan untuk latihan, mengonsumsi makanan bernutrisi, dan sikap “ndableg” agar kita tidak terpengaruh dengan omongan orang lain. Jangan dengarkan suara sumbang. Terus focus dan be happy ketika berkecimpung di dunia blogging!

***

To sum up, begitulah dunia blogger dan segala dinamika yang ada di dalamnya. Terima kasih Nodi sudah menghelat ajang ini. Tentu banyak PR yang harus terus kita hadapi, manakala ingin menjadi a better version of me di kancah blog. Aku akan menjalaninya dengan sepenuh jiwa. Menghindari energi negatif, berupaya sekuat tenaga untuk menebarkan positive vibe lewat konten blog.

Happy Blogging, semuanyaaaaa! (*)

5 Alasan Mengapa Harus Ngeblog

Ceritanya ini aku lagi ikutan One Day One Post yang dihelat Blogger Perempuan Network. Tema2nya relatif asyik, nggak perlu riset atau mikir njelimet, dan (ini alasan terpenting) aku bisa numpang curcol tanpa kudu mikirin backlink! Jyahahahahaha 😀

Thanks to kakak2 di BP Network yaaa… Mbak Shintaries, Mbak Almazia dan semuanyaaaa…..  Kalian super duper awesome!

Tema pertama yang kudu di-publish Selasa 20 November ini adalah: Kenapa Menulis Blog. 

Hmmmm hmmm hmmmm *mendesah ala Nisa Sabyan bentar*

Sebenernya kalo bicara soal menulis ya bisa dibilang itu udah hobi banget dari SD. Tapi kalo menulis di blog? Ini hal yang agak berbeda. Aku bikin listicle aja ya. 

 (1). Blog bisa Jadi Jejak Digital yang Akurat 

“Eh, kayaknya kamu waktu itu ke Taman Nasional Baluran baru-baru aja, kan? Yang main sama (eks) temen kantor itu kan?”

“Udah lamaaaa kok. Itu ada di blogku. Kita cek aja tanggalnya.”

Baca: Sensasi Eksplorasi Taman Nasional Baluran

Nah kan, itu pentingnya blogging. Semacam “barang bukti” untuk menelusuri jejak kita di masa lampau hehehehe. 

(2). Dengan blog, kita Bisa Menyuarakan Isu-isu Penting yang Terkadang tidak ter-cover di Media Arus Utama 

Tinggal di kota besar, terkadang membuat saya abai dengan kesulitan yang terjadi di daerah pedesaan. Thanks God, blogging menjadi sarana supaya saya bisa “melek” menyaksikan dengan mata kepala sendiri beragam tantangan yang dihadapi masyarakat marginal. 

Setelah mengumpulkan data, wawancara dan diskusi bersama narasumber (warga desa), saya pun mengelaborasi itu semua, dan mem-posting-nya di blog. Ini adalah sebuah cara untuk menyuarakan isu-isu penting, yang terkadang tidak nongol di media mainstream. 

Yahhhh… tahu sendirilah, media mainstream lebih banyak mengangkat hal-hal yang GRANDE, sophisticated, dll. Sementara isu “tidak ada jamban dan akses air bersih yang terbatas” terkadang hanya dianggap angin lalu. Alias kagak penting 😦

Atau specific issues tentang 4 Pilar Berbangsa dan Bernegara yang digaungkan MPR. Ini juga sangat penting untuk disuarakan oleh para blogger dan digital content creator. 

(3). Share Ilmu bisa Dilakukan dengan Blog 

Setelah konsisten menekuni kancah blogging, adaaaaa aja kesempatan yang mampir untuk kita bisa share pengalaman, wawasan, ilmu, apapun! Beberapakali, saya didapuk sebagai pemateri untuk workshop seputar blogging dan media social.Dua di antaranya, ketika saya berbagi seputar blogging untuk siswa-siswi di SMP Surabaya. Waktu itu, kolaborasi bareng siberkreasi.

Sharing @nurulrahma dalam Workshop Blogging & SocMed bersama Mahasiswa GENBI Penerima Beasiswa BI dari Bengkulu

Dan di kesempatan berbeda, saya juga sempat sharing dengan sejumlah mahasiswa berprestasi dari Bengkulu, penerima beasiswa dari Bank Indonesia (BI).Itu rasanya mak nyessss banget! Bisa ketemu, kenalan dan ngobrol dengan teman-teman dari pulau yang begitu jauhnya.

Mereka juga super duper happy bisa studi banding ke Surabaya, menyaksikan gemerlap lampu di malam hari, Gedung-gedung yang megah bin menjulang, dan menginap di salah satu hotel berbintang di kota kami! Aaakkk, it’s priceless, aseliiik! Dan itu semua bisa terjadi karena saya adalah blogger! How cool is that?

(4). Numpang Curcol di Blog? Silakaaaaan 😀

Wehehehe, curcol (used to be) my middle name, alias saya tuhdulu sempat hobi banget curcol alias curhat colongan 😀 Sekarang udah rada berkurang intensitas curcolnya. Ya maklum deh, banyak PR dari agency dan brand hihihi. Jadi energi dan waktu untuk menulis blog banyak tersita ke situ.

Padahal, kalo iseng merhatiin postingan jadul saya, widiiih…itu kontennya MAYORITAS adalah curcol belaka. Curcol yang dikemas secara sistematis, komprehensif (halaahh), dan sebagian ngasih insight (dan semoga) hikmah/pencerahan buat para pembaca.

Baca: Jadi Monster pas Berhaji

Seperti ketika ibunda saya terjerat kanker paru, dan pada akhirnya beliau berpulang. Beberapa kali saya goreskan curcol yang lumayan menyayat.

Baca: Genderuwo itu Bernama Kanker Paru

Postingan semacam ini ternyata banyaaaak lho yang baca dan nge-share disocmed!

(5). Ini agak Pragmatis, tapi oh, well…. Blog Sangat Bisa Memberikan APAPUN beyond your imagination!

Last but not least, sebagian publik udah mulai pahamlah ya, kalo kerjaan as blogger, content creator di Instagram, YouTube itu semua ADA DUITNYA. Bisa lewat sponsored post, content placement, ataupun GoogleAdSense. Intinya kita melakukan apa yang kita suka, dan itu DIBAYAR. Sounds so tempting, eh?

Sejumlah brand dan agency juga beberapa kali mengajak saya untuk mengkoordinir blogger lain, agar kita sama-sama kolaborasi dalam sebuah campaign.

Terkadang, I develop those campaign from scratch! Bener-bener saya yang nentuin konsep acaranya gimana, rundown apa saja, siapa pembicaranya (plus nanti harus pakai baju seperti apa?), venue-nya di mana, budget-nya berapa, blogger mana aja yang mau diundang, nanti apa yang harus ditulis di blog dan socmed, plus…. Saya juga yang kudu bikin report project ini. Yeah agak-agak semi consultant gitu yhaaaa.  

Hamdalah…. Semua itu semoga-semoga-semoga adalah wujud berkah yang diberikan Allah pada hamba-Nya yang lemah dan nista ini. Terkadang saya ngeri lho, semua kemudahan ini….sesungguhnya sebuah rezeki yang berkah, atau jangan-jangan…. malah ISTIDROJ?

Baca: Berkah atau Istidroj

Sekedar info aja, ISTIDROJ ini sebuah terminologi dalamajaran agama Islam. Ketika kita sebenarnya masih bergelimang dosa, tapi kok mendapatkanbuanyaaak kebaikan (duniawi), berhati-hatilah! Bisa jadi, Allah sedang “menggoda” Anda, dan ini yang dinamakan Istidroj.

***

Yaaah, begitulah. Dunia blogging ini sepertinya sudah mengambil porsi yang terlampau besar dalam hati saya.

Ada atau nggak ada job…..dan semua “drama” yang menyertainya, mari kita nikmati sepenuh jiwa 😀

Carpe Diem, seize the moment.

Dalam hidup, memang tidak selamanya kita akan tersenyum lebar, penuh bahagia dan aneka puja.

Tapi paling nggak, dengan menjadi blogger, kita bisa Embrace our days, live our life to the fullest 😀

((kok jadi kayak slogan susu formula))

HAPPY BLOGGING, EVERYONE……!!

Do it with happiness 😀 

Blogging with Benefit

Saya meyakini bahwa setiap profesi yang kita geluti tentu memiliki benefit and privilege, keunggulan, keistimewaan yang berbeda. Contoh nih, profesi tukang ojek online. Abang gojek sangat punya privilege untuk menentukan kapan dia mau narik sebanyak2nya, atau mau istirahat bobok siang bentar di bawah pohon Trembesi. Ini kan keistimewaan yang nggak dimiliki dokter yang standby di IRD, misalnya. Atau, dokter spesialis kandungan.

Bayangkan adegan ini. Jam 2 pagi.

“Dok… dok…. istri saya mau lahir niiih, ketubannya udah pecah,” teriak seorang (calon) bapak beraroma kepanikan yang tak bisa ditahan.

Dokternya angop (menguap) sebentar, lalu tanya, “Jam berapa ini? Haduh… saya masih ngantuk. Bisa ditahan sampai subuh, tak?”

Ngoooook. Kan ya impossible thoooo

Akan tetapi, dokter kandungan pastinya punya privilege juga dong, yang tidak dimiliki para babang gojek. Apakah itu? Hwahahahahah, teman temin pasti bisa menebak lah. Segabruk keistimewaan dan rezeki buat para dokter di muka bumi. Semoga Allah senantiasa beri kekuatan, semangat dan ikhlas yang menghunjam dalam jiwa. Aaamiiin.

***

Now, let’s talk about blogger. Apa sih, kesempatan istimewa yang pernah saya dapatkan selama ngeblog?

Huuum…. kalo mau di-list satu-satu, nih postingan kayaknya baru kelar setelah Lebaran deh 🙂 Ya udah, aku tulis seingatnya aja yah 🙂

(1). Ngeblog Membawa pada Pertemuan demi Pertemuan dengan Sosok yang tidak pernah aku kenal sebelumnya 

Aku di Surabaya, teh Ani Berta di Jakarta.

Kami tidak punya irisan latar belakang, riwayat pendidikan, atau backgroun kenalannya si anu… sama sekali nggak ada. Yang membuat kami bisa kenalan (dan kemudian berlanjut kopdar)… adalah blogging!

Yap! “Euforia” dapat kenalan dari ngeblog, mungkin belakangan tidak terlalu gimanaaa gitu ya. Tapi yang pasti, saya bersyukur, bisa punya banyaaaaaaak teman/ kolega/ sahabat karena ngeblog.

Lho, kok kamu kenal Grace Melia? Mba Shintaries? Mba Haya Aliya Zaki? (insert all cool bloggers se-jagat timeline)

Ya itu tadi. Gegara ngeblog!

(2). Ngeblog Membuat Jari-jariku Terbiasa Me-review APAPUN, hingga… diundang Google untuk ikutan Google Local Guides Summit di Amerika Serikat!

Kalo lagi males buka dashboard WordPress, biasanya aku cuss ke Google Maps dan nge-review aneka destinasi, plus add photos, nambahin titik-titik lokasi di map, gitu-gitu deh. Intinya, nulis/ nge-review itu udah kayak auto-pilot, haha! Sehari engga ketak-ketik-ketak-ketuk, rasanyaaaaa ada yang kurang.

Karena itulah, sekarang saya udah berstatus Local Guide level 8 lho! Dan, segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam…. akhir tahun lalu, bersama 4 rekan dari Indonesia, saya terbang ke San Francisco California Amrik, untuk ikutan Google Local Guides Summit 2017.

TIM INDONESIA

Wakil Indonesia di Google Local Guides Summit 2017: ki-ka : Budiono, Nurul (saya), Mutiah, Nunung, Fahmi

Baca: Tips Jadi Local Guides dan Diundang Google ke Amerika Serikat

Waduuuh, Amrik kan jauh? Tiketnya pasti mahal! No need to worry, SEMUANYA ditanggung Google. Semuaaaa, mulai dari tiket pesawat, hotel, makan-minum, sampai biaya pengurusan visa ke Amrik!

(tapi karena kami extend, ya siapin duit tambahan hihi)

Intinya adalah…. dengan ngeblog, kita jadi terbiasa menuangkan APAPUN dalam wujud (biasanya) tulisan. Dan yeah, here I am. Saya (atas izin Allah) bisa merasakan nikmatnya berkelana, lantaran hobi ngeblog plus nge-review yang dijalani dengan suka cita.

(3). Menuangkan Ide lewat Media Vlog/ Short Movie dan Bisa Dapat Banyak Kebahagiaan dari Sana

Karena ngeblog, itu artinya saya konsisten sharing cerita. Pokoke bawaannya pengin critaaaaaa melulu 🙂 Ndilalah, saya ketemu beberapa sahabat yang doyan bikin film plus editing.

Kami pun kolaborasi. Short movie (yang cuma berdurasi semenit) ini mengantarkan saya ke Gala Premiere “My Stupid Boss” di Kuala Lumpur, Malaysia, dan bersua dengan dedek ((DEDEK)) Reza Rahadian

Baca: Drama di Balik Foto Bareng Reza Rahadian 

Setelah ikut Google Local Guides summit, saya juga kian ikrib dengan Fahmi Adimara, salah satu outstanding content creator spesialis outdoor traveling. Kami pun kolaborasi bikin vlog. Hasilnya? Tadaaaaa….!

Bagus yha> Bagus yhaaa? Ya iyaaa dong, yang bikin kan Fahmi. (Follow IG-nya @fahmiadimara ) Saya kan cuma numpang ngomel, mrengut, dan buang2 barang doang hahahaha

Video ini saya ikutkan kontes di Instagram. Engagement lebih dari 1000, komentar lebih dari 200… dan hasilnya… ZONK! Kami kalah, sodara-sodaraaaa hahahahah

Ofkorsss, rasanya pedih pedih gimanaa gitu. Mau protes, tapi kok yaaa, piye? ya sudah, saya putuskan untuk let it go aja. Untunglah, Fahmi engga cranky dengan ke-belum beruntung-an ini. Cukup emaknya Sidqi aja yang sewot, hahahahaha

Etapiiii, memproduksi konten semacam ini menerbitkan rasa bahagia dan puas yang tak bisa digantikan dengan materi apapun lho. Yeah, walaupun belum dapat hadiah, rasanya tetep hepi karena kami udah do our best bikin konten untuk aneka socmed

(4). Dipercaya untuk Sharing/ Mengajar/ Jadi Fasilitator untuk Sejumlah Workshop Blogging

Ini nih…. ini nih…. yang Pecaaaaahhh banget!

For your info, keluarga besar saya mayoritas berprofesi sebagai guru atau dosen. Almarhumah Ibu guru. Bulek di Surabaya dan Mataram, Om di Pacitan guru. Om di Kediri, om di Mataram dosen. Adik ipar saya dosen ITB, istrinya dosen di Fak Kedokteran Univ. Padjajaran (dua yang terakhir sengaja disebutin kampusnya, soale kece abis! Dan mereka berdua emang pasutri yang awesome, sama-sama brilian dan rendah hati, JUARA pokoke!)

Baca: Bagaimana Menjadi Pintar dan Rendah Hati

Di tengah gempuran keluarga yang mayoritas guru/ dosen ini, saya malah (waktu muda) terjun sebagai jurnalis/ reporter. BEDA JAUUUH! Saya mah orangnya gitu, suka yang anti-mainstream, hoahaha. Walaupun udah bolak/ balik dibilangi kalo guru/ dosen itu pahala jariyahnya mengalir terus, tapi…. yaaa, namanya anak muda. Kadang-kadang semakin dinasehati, semakin pengin ngebantah 🙂 

Daaaann…. watch your words!

Ternyata, setelah jadi jurnalis, saya ngerasa “Kok sharing ilmu ke orang lain tuh menyenangkan ya?”

Workshop BI

Jadi Pemateri Workshop Social Media and Writing untuk Penerima Beasiswa Bank Indonesia. Acara di  Ibis Styles, Surabaya

Yap! Tatkala masih jadi reporter di SCTV, saya pun memutuskan untuk jadi pemateri dalam workshop di beberapa kampus. Bicara di depan para mahasiswa, yang energi dan antusiasmenya menyala-nyala dalam dada. SAYA SUKA! Ternyata DNA mengajar itu mengalir dalam keluarga kami!

Setelah tak lagi berstatus jurnalis, saya pun pindah haluan jadi public relations, lalu menjadi volunteer di lembaga amil zakat. Lagi-lagi, saya suka mengajar. Saya suka memberikan materi/ cerita di depan adik-adik yatim dhuafa, ataupun mengajar mereka agar punya cita-cita setinggi bintang kendati saat ini mereka tinggal di samping rel KA.

I don’t know…. rasanya sungguh “berbeda”.

Karena itulah….. ketika Makpon Mira Sahid (founder Kumpulan Emak2 Blogger) mengajak saya untuk isi materi workshop socmed and content creator, saya langsung sigap menjawab, “SAYA MAU, Makpooon!” Heiiii, saya mengajar! Bersama siberkreasi.id saya siap lontarkan aneka knowledge yang saya punya!

—Mengajar adalah Cara Terbaik untuk Belajar—

Super happy menyaksikan antusiasme mereka. Anak-anak SMA yang punya keingintahuan tinggi, semangat yang meledak-ledak, tapi malu-malu meong kalo diminta merangkai kalimat di hadapan rekan-rekannya. Haha!

Pemateri workshop Bank Indonesia

Yang paling GRES adalah… pada suatu siang yang biasa-biasa, saya dapat tawaran untuk mengisi workshop buat adik-adik penerima Beasiswa dari Bank Indonesia – Bengkulu.

Wawwww… it’s BEYOOONDDD my imagination! Gilak! Ini super awesome!

***

 

 

Mau Ngeblog Sampai Kapan?

Teman-teman tahu Femaledaily.com dan Mommiesdaily.com kan? Yap, portal yang membahas tentang pernak-pernik perempuan, mulai fashion, kecantikan, kesehatan, parenting dll itu loh! Femaledaily ini awalnya didirikan oleh mba2 kece Hanifa Ambadar (Hanzky) dan Affi Assegaf. Saya pernah ketemu mba Affi, dalam sebuah event di Surabaya beberapa tahun silam. Tahu nggak, mbak Affi bilang apa?

“Kami mendirikan FemaleDaily ini awalnya karena aku dan Hani sama-sama blogger dan cinta banget ngeblog. Trus discuss dan banyak brainstorming, dan…. berdirilah Female Daily!”

hanzky

Hanifa Ambadar (Hanzky) perempuan brilian di balik Female Daily Network

affi

Affi Assegaf yang cantik dan ramah tiada tara 

And… the rest is history.  Femaledaily  Network melesaaaat dan menjadi salah satu kerajaan media online dengan omzet miliaran yang super menggiurkan!

Hanifa membangun bisnisnya tidaklah mudah. Pertama kali FDN (Female Daily Network) dibangun pada 2005 bisa dibilang tidak menggunakan modal sama sekali. “Yah, paling untuk membeli domain senilai Rp 100 ribu/tahun dan membayar hosting Rp 1 juta/tahun. Platformnya memakai gratisan dari blogger.com, dan saya mendesainnya sendiri. Jadi memang tidak ada biayanya,” ia menuturkan.

Kendati bisnisnya dijalankan belum serius, pihaknya sudah mampu menggaet pengiklan di 2007. Uang hasil iklan itulah yang akhirnya digunakan untuk menyewa kantor ketika ia mulai fokus menjalankan bisnis ini di awal 2009. “Karena pengiklan semakin banyak, jadi kami tidak pernah menggunakan uang sendiri untuk diinvestasikan sebagai modal,” ucapnya mengenang.

Dikutip dari SWA Online 

 

Itu cerita dari dalam negeri.

Sementara itu, dari belahan bumi yang lain, ada blogger yang juga menuai kesuksesan warbiyasaaak

Facts-About-Chiara-Ferragni

Chiara Ferragni — blogger dengan omzet 7 juta euro per tahun (data tahun 2015)

Salah satu blogger tersukses di dunia—secara bisnis—adalah Chiara Ferragni, fashion blogger asal Italia pemilik The Blonde Salad. Chiara mulai nge-blog sejak taun 2009, dan per hari ini, The Blonde Salad sukses menggaet kerjasama dengan merk-merk besar seperti Louis Vuitton, Burburry, dan Dior.

Sekarang The Blonde Salad punya tim editorial sendiri, dan pelan-pelan berubah menjadi majalah online. Tim TBS pun kerjaannya nggak cuma blogging, tapi juga menawarkan social media consulting ke brand-brand besar.

Selain The Blonde Salad, Chiara juga punya usaha online shop (sis-sis olshop dong do’ik?) dan sering diundang ke acara-acara TV, bahkan modelling.

Penghasilan The Blonde Salad per hari ini diperkirakan sebesar… 7 juta Euro per tahun. DIEEE.

Pencapaian Chiara Ferragni yang terbaru adalah dijadikan bahan studi dalam kurikulum Harvard Business School. Ceritanya, Harvard Business School lagi bikin studi kasus pada fashion brands gitu, deh, dan Chiara dijadikan salah satu subyeknya. Serundeng, yah!

Dikutip dari blogger favorit eikeh: letthebeastin.com

 

Dengan dua contoh kasus di atas, dan masih buanyaaaaak lagi suri-tauladan lainnya, apa iya hare gene kita masih menganggap bahwa Blogger/ Vlogger/ YouTuber dan content creator lainnya sebagai not a real job? Oh kemooon!

Saya masih nggak habis pikir dengan respon super alay bin lebay yang ditunjukkan pemilik salah satu hotel mewah di Dublin, Irlandia. Yap, kalian pasti udah ngeh kan, soal Elle Darby vs Paul Stenson

Baca : Blogger Masa Minder 

Analisa mantap jaya disajikan oleh Kompasianer handal, link-nya di sini:  https://www.kompasiana.com/gapey-sandy/5a643ec3dd0fa84291044372/blogger-dan-influencer-tukang-cari-gratisan

Saya paling setuju dengan apa yang disampaikan oleh Mas Teguh Sudarisman.

Apa yang ditawarkan Darby kepada pihak Charleville Lodge Hotel sebagai pola penawaran kerjasama biasa.

Menurut blogger sekaligus vlogger yang beberapa kali meraih hadiah lomba ini, media-media travel juga menawarkan beberapa lembar halamannya sebagai space untuk me-review produk maupun layanan mitra kerjasamanya. Di industri media, pola penawaran kerjasama seperti yang dilakukan Darby adalah wajar dan etis.

“Tapi perlu dibedakan istilah, antara ‘minta gratisan’ dengan ‘job review’ (lebih tepatnya ‘kerjasama review‘). Kalau ‘minta gratisan’ yaartinya minta sesuatu secara gratis, tanpa ada imbal baliknya sama sekali. Sedangkan kalau kerjasama review seperti yang ditawarkan blogger atau youtuber, bukankah ia menawarkan imbal balik berupa posting blog, bikinin video di youtube dan posting di akun facebookinstagram maupun twitter miliknya. Jadi yang ditawarkan si blogger adalah kerjasama dalam bentuk barter (tanpa pakai uang), di mana dia menawarkan posting di blog, youtube dan akun media sosial yang dimilikinya, dengan imbal balik menginap selama 5 malam. Ini hal yang wajar dan etis saja, dan sudah dipraktikkan lama sekali di industri media, khususnya media travel,” tutur Teguh Sudarisman.

Biasanya, kata Teguh, pihak media travel menawarkan reviewbeberapa halaman di majalahnya kepada calon klien entah itu hotel, resort, resto dan lainnya, dengan imbal balik berupa free stay beberapa malam untuk reporter atau editor majalah itu. Semuanya masih bisa ditambah lagi dengan plus voucher hotel, tiket pesawat pergi-pulang, jemput-antar ke bandara dan sebagainya tergantung point-pointkesepakatan kerjasamanya.

“Prinsip ini diadopsi oleh blogger, youtuberinstagrammer karena Now Everybody is a Publisher or Media. Terlebih jika blogger itu punya follower atau subscriber yang banyak. Itu tak ubahnya seperti media yang punya banyak oplah dan pembaca atau pelanggan.

Sayangnya masih banyak pihak yang gagap dengan fenomena ini, dan mengira dirinya masih hidup di era media cetak. Seperti ulah Paul Stenson yang malah ‘merendahkan’ influencer Darby itu,” jelas Owner and Editor-In-Chief TGIF-mag ini sambil kembali menegaskan bahwa Darby sudah tepat mengajukan kerjasama via email dengan menawarkan imbal balik positif. “Malah, mungkin Darby juga melampirkan portfolio atau media kit. Artinya, justru si manajer hotel ini yang sebenarnya enggak bener!”

Juga apa yang disampaikan Diana Rikasari di IG story-nya:

IMG-20180121-WA0040

Intinya apa?

Intinya…. sebagai blogger, ya saya akan terus memroduksi konten, apapun hingar bingar yang terjadi di luar sana.

Dianggap rendah gara-gara berstatus blogger? Wohooo… saya sudah seriiing banget, kakaaa.

Sekarang sih, cuekin aja kalo ada orang-orang yang punya persepsi ‘wagu’ atau aneh soal blogger. We just can’t please everybody. Bukan tugas kita untuk membuat semua orang senang, atau mengapresiasi apa yang kita lakukan. Dan, nggak perlu lah, buang-buang energi untuk menjelaskan tentang “Apa itu blogger?” ke orang-orang yang memang tidak mau tahu.

Saya akan terus ngeblog. Karena dari ngeblog, saya bisa mendapatkan buanyaaaak hal, yang barangkali tidak akan saya dapatkan, jika saya tidak menekuni bidang ini.

Baca : Gratisan ke Amerika Gimana Caranya

Saya akan terus ngeblog, apapun platform-nya. Mau sponsored post, atau bukan… saya akan selalu ngeblog.

Yang jelas, bersama rekan-rekan komunitas, saya berusaha untuk bisa “naik kelas”. Pelan-pelan mengadopsi apa yang dilakukan Chiara Ferragni ataupun Hanifa Ambadar. Yaaa, walaupun nggak langsung woossshhh kayak pencapaian mereka, it’s okay. We have our own pace, ngga perlu risau bin galau *halah

Saya dan teman-teman berupaya menjadi fasilitator bagi korporasi untuk sama-sama menuangkan buah pikir dan kontribusi yang membangun. Agar konten positif semakin berjejalan di dunia digital.

Kalau kamu, gimana? 

Mau ngeblog sampai kapan? 

 

 

 

 

 

Sejumput Ide untuk Event Blogger 2017

Saya tahu, bikin event yang “unik” “anti-mainstream” dan “impresif” itu sama sekali nggak gampang. Duluuu, pas zaman masih muda (sekarang juga masih kok #eaaaa) saya beberapa kali bikin media gathering. Konsepnya ya gitu gitu aja sih. Media luncheon, press conference, press briefing… datang, dengerin orang brand ngomong… kalo ada artisnya juga makin sip, ada sesi tanya jawab…. nyatet, biar seru kasih doorprize atau quiz… lalu balik ke kantor bikin berita. Udah, gitu aja.

Hmm, mumpung masih awal Januari 2017, saya mau berceloteh soal event blogger. Kalau mau jujur, event blogger dari hari ke hari konsepnya kurang lebih sama ya. Kalau nggak talk show, seminar, workshop, intinya acara yang digelar indoor dengan pemateri yang tak jauh beda. Perwakilan brand, pakar (sesuai dengan tema acara), kemudian para blogger diminta untuk live tweet dengan hastag tertentu, lalu tanya jawab, quiz, makan siang, bagi-bagi goodies bag, foto bareng, pulang. Kemudian dapat PR untuk nulis di blog masing-masing.

Nyaris semua event punya SOP serupa. Ada gejala apa ini? Mungkin para agency kreatif butuh masukan dari blogger. Supaya, di tahun 2017 ini bisa menghelat event dengan style yang berbeda. Apa aja contohnya?

(1). Gelarlah Event di Kapal Pesiar/ Wisata atau Moda Transportasi seperti Kereta Api

Selama ini, event blogger dihelat indoor di lokasi yang boleh dibilang amat comfort zone, kalau nggak meeting room hotel, restoran, cafe, ya semacam itu. Ada baiknya, sesekali brand bekerja sama dengan vendor operator kapal.

Kalau di Surabaya, ada tuh Pelindo Artama Cruise. Jadi, nanti blogger diminta datang ke meeting point yang sudah ditetapkan, yaitu start kapal siap meluncur. Briefing sejenak, diberi pengarahan oleh operator, lalu silakan masuk ke dalam arena wisata, eh… arena seputar edukasi brand.

Lantas, acaranya dikemas seperti apa? Monggo, lagi-lagi mau bikin talk show, dll juga silakan. Yang jadi highlight-nya adalah, acara ini digelar di dalam kapal wisata, sambil mengarungi samudera. This is uber cool!

Atau…. bisa juga booking satu gerbong kereta, dan bikin event di dalam sana 🙂 Mau booking satu pesawat juga okey dokey beybeh loh.

(2). Olahraga Bareng

Hmm, mungkin budget nyewa kapal pesiar/ pesawat/ KA terlalu mahal? Yo wis, cari yang low budget ajah. Silakan undang blogger dan ajak untuk ber-workout bareng. Come on, ini sudah 2017, waktunya kita untuk lebih menyehatkan fisik dan jiwa dengan memperbaiki gaya hidup.

Bisa berupa yoga, zumba, pilates, atau lari bareng 2 kilo gitu lah. Ada beberapa brand yang sudah menerapkan hal ini, kalau tidak salah obat pengurang nyeri saat haid. Mereka bikin program yoga on rooftop, kece bener ini! Nah, blogger kan rentan kena penyakit tuh, karena kebanyakan mantengin laptop. Boleh looo, kalau diajak buat olahraga bareng, lebih asyik lagi kalau di-provide segala perlengkapan olahraga, sepatu Nike misalnya #TerKodeKeras

Olahraga ini juga bisa diwujudkan main bowling bareng. Di salah satu mall Surabaya, ada arena bowling yang luas banget, dilengkapi dengan food court juga dan ada beberapa resto yang representatif. Ajaklah blogger untuk seseruan bowling, foto-foto, saling berkompetisi siapa yang banyak strike! Lalu, setelah itu, giring mereka untuk menuju ke resto, di mana brand siap menggelontorkan edukasi.

Kelar olahraga, badan segar sehat sentosa, lanjuuuut deh, kita bisa menyimak key message yang sedang diusung oleh brand.

(3). Karaoke

Hahahaha…. kalau ini sih, saya yang mupeeeeeng 🙂

Dulu pas jadi wartawan, sempat ada beberapa undangan karaoke bareng, tapi waktu itu masih belum pede ih. Padahal, syarat utama karaoke adalah cuek beybeeehhh, ora popo walaupun suara engga se-cethar Adele, yang penting bisa seseruan lah ya. Pokoke nyantai aja 🙂

Lah, kalau suaranya welek bingits dan nggak pede blas, kepriben? Yaaaa nyanyinya jangan kenceng-kenceng. Bagian backing vocal aja gapapa, haha.

Karaoke ini asyik untuk menstimulasi jiwa supaya nggak tegang dan terlampau serius (baca: ngoyo) tatkala menjalani hidup. Santaaaaaiii ajaaaa, kayak di pantaaaaaiiii….

(4). Plesir Bareng

Kalau yang ini, udah pasti blogger lonjak-lonjak kegirangaaaaan! Hahaha. Apalagi, kalau ditambah nginep gretong di resort yang kecenya nggak ketulungan, uhuksss

Baca: West Lake Resort

Ketika plesir bareng, brand bisa menyediakan armada bus yang representatif. Lengkapi dengan sound system yang mumpuni. Sekedar saran, selama di bus, bikinlah games atau keseruan yang cihuy. Jangan biarkan para blogger diam ataupun nggak muncul chemistry dengan brand Anda. Justru Anda harus memanfaatkan momen road trip ini, sebagai sarana creating experience bagi blogger. (*)